The Road to Leadership | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Road to Leadership | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Road to Leadership

Pdt. Dr.Timotius Arifin Tedjasukmana

06-07-14

Saat ini semua rakyat Indonesia sedang menghadapi pesta demokrasi yaitu, pemilihan presiden, pemimpin bangsa dan negara ini. Kampanye pun gencar dilakukan oleh masing-masing kandidat, namun banyak pula kampanye hitam yang dikeluarkan untuik menyerang lawan. Semua itu bertujuan agar mereka mendapatkan tempat di hati rakyat dan mereka bisa mendapatkan ‘kursi’ kepemimpinan.

Dalam Markus 10:32-45, Tuhan berbicara tentang arti kepemimpinan sebenarnya. Ditulis bahwa Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang masih merupakan kerabat Tuhan Yesus dari Maria, ibuNya, memperebutkan ‘kursi kekuasaan’ karena hubungan kekerabatan mereka. Mereka berpikir bahwa kepemimpinan yang sejati adalah soal jabatan, posisi atau kursi (Markus 10:37). Namun Yesus menjelaskan bahwa kepemimpinan bukanlah soal posisi atau jabatan, melainkan melayani (Markus 10:43-45).

Yakobus dan Yohanes tidak mempertanyakan arti ‘cawan dan baptisan’ yang harus Yesus terima karena mereka hanya fokus kepada ‘jabatan’ atau ‘kursi kepemimpinan’. Mereka meminta ‘jabatan’ itu pada Yesus. Namun Yesus menjawab dengan rendah hati, “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” (Ayat 36). Seharusnya mereka belajar tentang arti kepemimpinan dari Yesus sendiri yang rendah hati.

Karekter seorang pemimpin sangatlah perlu diperhatikan.Paulus, dalam 1 Timotius 3:1-2, mengatakan bahwa kepemimpinan itu bukan berbicara tentang jabatan (kursi, posisi, kuasa) tetapi bebicara tentang jawatan (pekerjaan baik yang melayani). Seorang pemimpin yang baik memberikan benefit (keuntungan) bagi orang di sekitarnya (Luke 22:25, AV). Myles Monroe berkata, “God always put character before competence” (Tuhan selalu mengutamakan karakter seseorang daripada kemampuannya). Karena itulah Yesus berkata (dalam ayat 26 -27) bahwa sebenarnya yang terbesar dari seorang pemimpin adalah ketika dia melayani, dan bukan dilayani.

Mari kita melihat bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya dari kisah seseorang dalam Alkitab yang bernama Yusuf. Ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui oleh seseorang sehingga akhirnya dapat layak dipanggil sebagai seorang pemimpin. Hidup ini selalu berbicara mengenai ‘ujian’. Lukas 22:28-30 menuliskan, bahwa yang tetap tinggal bersama-sama dengan Dia melalui pencobaan akan duduk di tahta. Itu berarti, promosi dan tahta akan datang setelah kita lulus pencobaan. Kita pasti akan memerintah bersamaNya, tetapi jangan lupa ada tingkatan-tingkatan yang harus kita lalui, sama seperti yang Yusuf harus lalui, yaitu:

  1. Ujian Lapangan (Field Test)
    Yusuf diuji di tingkatan ini ketika dia berusia tiga belas tahun, usia yang dianggap cukup dewasa untuk mengurus ternak ayahnya dan ikut dalam mengambil bagian menjaga harta ayahnya. Ada tiga tingkatan kepercayaan; orang percaya, orang dapat dipercaya, dan orang kepercayaan. Mari tanyakan kepada diri kita masing-masing, apakah kita telah dapat dipercaya dan menjadi kepercayaan (1 Korintus 4:2)?
  1. Ujian ketika berada dalam sumur (Pit Test)
    Setelah Yusuf diberi jubah maha indah, saudara-saudaranya merasa iri. Yusuf dimasukkan ke dalam sumur untuk kemudian dijual ke pedagang budak. ‘Pit test’ ini adalah ujian untuk menjaga agar kita tidak pahit hati ketika berada dalam pencobaan. Sebab akar pahit itu mencemarkan banyak hal baik lainnya yang ada di dalam diri kita. Jangan biarkan kekecewaan ada sedikitpun dalam hati kita.
  1. Ujian Kamar (Room Test)

Yusuf lari ketika diajak istri Potifar untuk melakukan hal yang terlarang. Banyak orang yang gagal ketika diuji dalam hal ini, termasuk contohnys, salah satu pemimpin dunia yang terkenal; Bill Clinton. Perlu disadari bahwa posisi kepemimpinan selalu dekat dengan kekuasaan, uang dan seks. Karena itu, berhati-hatilah dalam menggunakan jabatan yang diijinkan Tuhan dalam hidup kita supaya kita dapat lulus melalui tingkatan berikutnya.

  1. Ujian Penjara (Prison Test)
    Sebagai akibatnya, Yusuf difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun Yusuf tidak pahit hati, Ia ditempa dalam penjara dan muncul sebagai pemenang. Sampai akhirnya dia dapat keluar berkemenangan dan menjadi pemimpin. Yusuf menghadapi penundaan dan kekecewaan dalam hidupnya, namun tidak membiarkan dirinya pahit hati. Pada akhirnya Yusuf keluar dari ujian ini dan menjadi perdana menteri.
  2. Ujian Pengampunan dan Harga Diri (Pride and Forgiveness Test)

Ketika Yusuf telah menjadi perdana menteri di Mesir dan menjadi tangan kanan Firaun, dia tidak menjadi sombong. Secara manusia, sangat manusiawi untuk membalas dendam kepada Potifar dan istrinya. Namun Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Yusuf melakukan hal seburuk itu. Diapun seharusnya dapat membalas dendam kepada saudara-saudaranya yang telah mencelakai dia. Namun dia sama sekali tidak melakukannya dan sekali lagi Yusuf lulus ujian pada tingkatan ini.

  1. Ujian Iman (Faith Test)

Seorang pemimpin seharusnya dapat melihat jauh ke depan. Karena itulah Yusuf meminta agar dia tidak dikuburkan di tanah Mesir. Yusuf bisa melihat bahwa suatu saat nanti dia akan keluar dari Mesir, meski hal itu belum terjadi.

Yesus berkata bahwa Dia hadir di tengah kita untuk melayani. Marilah kita terapkan kepemimpinan Yesus, sehingga kita dapat melewati setiap ujian kepemimpinan dan dapat lulus dengan baik seperti yang Yusuf telah lalui. Bersama Yesus, kita dapat melalui segala ujian dalam hidup ini dan olehNya kita mengerti bahwa kepemimpinan yang sejati adalah melayani dan bukan dilayani. Selamat melayani seperti Yesus melayani. Tuhan Yesus memberkati. Amin.