The Foolish Wiseman | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Foolish Wiseman | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Foolish Wise Ma

The Foolish Wise Man


Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

10-08-14

Salomo adalah salah satu raja yang terkenal oleh kekayaam dan kebijaksanaannya, namun di akhir hidupnya ia menulis bahwa segala sesuatunya adalah sia-sia. Salomo mengawali kekuasaan kerajaanNya dengan meminta hikmat namun mengakhirinya dengan kedagingan, sehingga mendapat julukan ‘orang bijaksana yang bodoh’ (the foolish wise man). Kita dapat belajar sesuatu dari Salomo, supaya saat kita dipromosikan Tuhan, kita tidak menjadi lupa akan peringatan Tuhan, dan dapat mengakhirinya dengan baik (finish well).

Ulangan 17:14-20 berkisah tentang bangsa Israel yang bersikeras mengangkat seorang raja atas kaum mereka, dan Allah mengabulkannya dengan memberikan peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh sang raja. Salah satunya adalah dengan harus menulis salinan kitab-kitab Taurat (Ulangan 17:18,19), supaya raja ini takut akan Allah. Sebelumnya Tuhan memerintahkan bahwa raja tidak boleh memperkaya dirinya, termasuk memperkaya diri dengan kuda (lambang kekuasaan, harta kekayaan) dan memiliki banyak istri. Namun, kita tahu bahwa pada akhirnya, Salomo melanggar aturan yang telah diberikan oleh Allah tersebut.

Seseorang dapat dilihat tingkat kehidupannya dengan membandingkan yang telah dilakukannya kepada Tuhan dengan yang dilakukan untuk dirinya sendiri. Salomo membangun bait Allah selama 7 tahun dengan bahan yang terbaik. Namun dia juga membangun istana untuk dirinya selama 13 tahun, dua kali lipat dari waktu yang diberikannya untuk Allah. Kita perlu berkaca pada berapa banyak waktu dan keuangan yang kita pakai untuk diri kita sendiri disbanding dengan apa yang kita berikan bagi Tuhan.

Salomo tidak puas dengan memiliki seorang istri, ia memiliki tujuh ratus istri dan tiga ratus selir. Dan semuanya itu adalah wanita yang tidak mengenal Allah, yang membuat dia mencondongkan hatinya jauh daripada Tuhan.

Kuda adalah lambang kekuasaan, Salomo melawan perintah Allah dengan memiliki seribu ekor kuda. Alkitab menuliskan bahwa Allah tidak menyenangi kegagahan kuda dan kaki laki-laki (Mazmur 147:10). Kesemuanya ini menggambarkan kekuatan dan kegagahan manusia. Artinya, Tuhan tidak senang apabila kita mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Pada akhir hidupnya, Salomo melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhan atas seorang raja. Ia membangun bagi dirinya sendiri gedung-gedung, memiliki ribuan kuda dan keretanya, serta memiliki banyak istri dan selir. Semua yang menyenangkan hati dan kedagingannya dilakukan, meski dia tahu itu melanggar perintah dari Tuhan.

Salomo begitu kaya dan memiliki banyak emas. Emas yang dikumpulkan bagi Salomo berjumlah ribuan kilogram. Namun, ketika kekayaan itu datang, Salomo mulai berkompromi. Dia mulai mengambil putri Firaun menjadi istrinya dengan bertujuan membuat aliansi dengan raja Mesir untuk mengokohkan kerajaannya (1 Raja-raja 3:1-2). Hatinya mulai berbelok walau masih menunjukkan kasihnya kepada Tuhan (1 Raja-raja 3:3). Salomo berpikir bahwa tidak apa berkompromi asal mempersembahkan korban bakaran yang banyak (2 Tawarikh 8:11-13).

Pengkhotbah 2:10 berkata, “Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku.” Sementara Yesus Kristus berkata bahwa kita harus pikul salib, dan menyangkal diri.

Seringkali ketika ujian kekayaan itu datang, kita menjadi lupa diri. Pepatah mengatakan bahwa ujian yang terberat dalam hidup adalah P-ujian, alias pujian. Kita tahu bahwa Tuhan akan mengangkat kita kepada kemuliaan. Itu berarti bahwa ‘destiny’ kita adalah diberkati, untuk dibawa ke dalam kemuliaan. Namun, ketika semuanya itu sudah terjadi, jangan kita tergelincir dan melupakan Tuhan seperti Salomo. Manusia jatuh sering hanya karena kerikil kecil dan bukan batu besar. Karena itu, kita tidak boleh membiarkan diri kita melenceng barang satu derajatpun.

Alkitab menuliskan 1 Raja-raja 10:26;11:10: Karena para istrinya, Salomo mencondongkan hatinya kepada ilah-ilah mereka. Tuhan memberikan keamanan, kekayaan kepada Salomo, namun Salomo membalasnya dengan mendukakan hati Tuhan.

Kita perlu memeriksa diri kita, apakah diri kita bergantung kepada kuda, kekuasaan, kekayaan? Apakah kita bergantung kepada orang-orang kuat yang ada di sekitar kita? Atau, kita mulai mencondongkan diri kita kepada ilah lain karena wanita Mesir? Sebaiknyalah kita menyiapkan diri kita mulai dari sekarang, sebab hal-hal yang kecil nantinya dapat menjatuhkan kita saat diberkati. Belajarlah dari pengalaman Salomo. Jangan sampai kita mengawali hidup dengan baik namun mengakhirinya dengan kedagingan. Tuhan Tesus memberkati.