The Loveless Evangelist | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Loveless Evangelist | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

The Loveless Evangelist

Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

05-10-14

Ahok adalah salah satu pengikut Kristus yang terkenal di Indonesia. Dalam salah satu kesempatan, dia berkata, “…tapi saya tidak peduli siapa Anda, karena sekali lagi saya bukan orang Kristen. Saya hanya orang Indonesia yang beriman pada Kristus. Saya tidak akan memilih bapak ibu hanya karena punya iman yang sama seperti saya kalau memang kerjanya tidak benar. Saya bukan orang beragama. Saya hanya ikut Tuhan Yesus. Agama membuat kita berantem

Kita dapat mengetahui bahwa salah satu musuh utama dari Kerajaan Allah (Kingdom) adalah agama (religion). Dalam Matius 12:38-41 para pemuka agama (orang Farisi dan Saduki) menuntut suatu tanda kepada Yesus dan Yesus berkata bahwa kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

Minggu ini bangsa Israel memasuki perayaan agama yang penting, tahun baru Israel, Rosh Hassanah 5775 (Ayin Hei), yang berarti ‘Tahun mata dan jendela’. Arti lainnya adalah ‘double rest’ yang mengingatkan bahwa segala sesuatu sudah dikerjakan Yesus, yang juga berarti ‘double grace, double favor, double blessing’ buat kita semua. Perayaan yang lain adalah Yom Kippur (Atonement). Ketika Yom Kippur, bangsa Israel harus melakukan tiga hal penting; yaitu:

  1. Teshuvah (repentance/pertobatan)
  2. Tefillah (prayer/doa)
  3. Tzedakah (righteousness/charity)

Pada saat Yom Kippur inilah saatnya bagi imam besar masuk ke dalam ruangan maha kudus untuk meminta ampun atas dosa bangsa Israel dan membawa korban darah. Jika hidup sang imam besar itu benar, maka dia akan tetap hidup dan membawa berkat ke atas bangsa Israel. Bayangkan, kehidupan satu bangsa tersebut tergantung kehidupan satu orang, yaitu imam besar.

Agama adalah usaha manusia untuk mencari Tuhan dengan cara mengikuti peraturan-peraturan, seperti orang Farisi dan Saduki yang mempunyai banyak aturan-aturan dan meminta tanda, tanpa dapat melihat bahwa sesungguhnya Yesus adalah anak Allah yang sejati. Begitu banyak mujizat-mujizat yang telah dilakukan Yesus sebelumnya, namun ‘angkatan yang jahat ini’ tetap menuntut sebuah tanda.

Sebagai seorang yang percaya, seharusnya kita harus lebih banyak melakukan 3T (Teshuvah, Tefillah, Tzedakah) daripada menuntut sebuh tanda dan mujizat. Karena apabila kita melakukan 3T, inilah yang seharusnya dapat menuntun orang lain kepada jalan yang benar. Jangan bersikap seperti Yunus yang justru lari dan memilih kabur dari panggilannya dan saat kapal yang ditumpanginya ditimpa angin ribut sehingga menyebabkan orang-orang di atas kapal berdoa kepada Tuhannya masing-masing (Yunus 1:5).

Mari kita menilik kehidupan Yunus. Yunus terambil dari bahasa Ibrani yang berarti ‘merpati’. Seharusnya merpati memiliki sifat yang lemah lembut, mau diajar, tidak menyimpan kepahitan. Namun Yunus justru lari dari panggilan Tuhan. Dia melarikan diri dalam kapal dan tidur di saat badai menerpa. Yunus, yang menyandang predikat ‘nabi’ (orang percaya), memilih lari dari panggilannya.

Kapten kapal menyuruh Yunus agar berseru (tefillah) kepada Allahnya oleh karena hebatnya badai tersebut. Dalam badai tersebut, Yunus membuat pengakuan bahwa dia adalah orang Yahudi dan Tuhannya adalah Allah yang menjadikan lautan dan daratan (Yunus 1:9). Yunus juga mengatakan bahwa oleh karena dia, maka badai tersebut terjadi. Yunus meminta agar dirinya dibuang ke dalam laut supaya badai tersebut reda. Lewat mujizat tersebut, mereka yang sebelumnya tidak percaya, menjadi percaya kepada Tuhannya Yunus (Yunus 1:16).

Dalam Yunus 2:8, Yunus berdoa, “Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia (Forsake their own mercy).” ‘Mercy’ disini adalah ‘tzedakah’ atau charity. Di ayat sesudahnya Yunus berkata, “Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!

Sayangnya, ketika sampai di kota Niniwe, Yunus bukannya menyampaikan kasih Allah (mercy) ataupun membayarkan nazarnya, malahan menyampaikan murka Allah. Walaupun hal tersebut membuat penduduk Niniwe menyesali perbuatan mereka dan bertobat (teshuvah), Yunus lupa mengajarkan tentang kasih Allah yang sejati. Tuhan yang Maha Kasih melihat pertobatan penduduk Niniwe dan tidak jadi menghukumnya. Hal tersebut membuat Yunus menjadi sangat marah kepada Tuhan. Namun, melalui sebatang pohon jarak, Tuhan mengajar Yunus tentang arti hati yang bersyukur.

Sebagai orang percaya, kita tidak boleh egois seperti Yunus, sebab kita tahu bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dan oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Karena itu, mintalah hati yang bersyukur kepada Tuhan dan berdoa agar semua orang diselamatkan dalam kebenaran (1 Timotius 2:4). Jangan hanya meminta tanda, tetapi bersyukur dan melakukan pertobatan. Berdoa dan bermurah hati sehingga orang lain boleh melihat Firman yang hidup dalam diri kita. Dengan itu semua, nama Tuhan dipermuliakan dalam kehidupan kita.

Jadilah orang yang tidak hanya sekedar percaya kepada Kristus tetapi menjadi pengikut Kristus yang sejati. Amin!