How To be a Winner | Pdt. Wahyu S. Wibowo

How To be a Winner | Pdt. Wahyu S. Wibowo

How To be a Winner


Pdt. Wahyu S. Wibowo

09-11-14

Kehausan akan Tuhan menentukan terjadinya mujizat, sebab kerinduan akan Tuhan membuat hadirat Tuhan merubah nasib kita. Jika kita ingin mengalami Tuhan hari ini, rindukan kehadiranNya sehingga Dia merubah kehidupan kita.

Roma 8:37 mengatakan bahwa, kita diciptakan lebih dari pemenang. Hal ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang merupakan persoalan bagi kita, yang ‘tidak mungkin’ adalah mungkin bagi Allah melalui kematian Putra-Nya di kayu salib. Bagian Tuhan adalah melakukan mujizatNya dalam kehidupan kita, sementara bagian kita adalah mengucap syukur dan bersuka cita.

Filipi 3:10 mengatakan, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” Kata ‘mengenal’ terambil dari kata ‘Epiginosko’ yang berarti mengenal Tuhan lewat penyembahan kepada Tuhan (broken humility), selain itu juga berarti ‘berjumpa dengan Tuhan lewat persoalan’. Oleh sebab itu kita tidak boleh meyerah terhadap persoalan, karena semakin besar persoalan berarti semakin besar mujizat yang akan terjadi. Haleluya!

Untuk itu, kita perlu mengetahui kunci untuk dapat menjadi ‘lebih dari pemenang’ atas seluruh persoalan-persoalan kita. Kuncinya adalah sebagai berikut;

  1. Mengenal diri kita: Ada tiga pertanyaan penting mengenai diri kita yang perlu di jawab;
    Who am I (Siapakah aku); What Am I Doing (Apa yang aku lakukan); dan Where Am I Going (Ke mana aku akan pergi). Apabila kita dapat menjawab ketiga pertanyaan ini, maka otomatis kita memiliki tujuan hidup. Yang perlu kita miliki adalah tujuan hidup yang jelas. Ketika kita tahu mengenai diri dan tujuan hidup kita, maka kita akan percaya dan memiliki iman serta sanggup bersuka cita oleh karena Yesus dalam diri kita. Saat kita dapat bersuka cita atas hadirat Tuhan, maka mujizatpun terjadi. Sama halnya seperti ketika Paulus dan Silas bersuka cita, dan pintu penjara pun terbuka. Mujizatpun terjadi. Haleluya!
  1. Mengenal musuh kita: Musuh kita adalah iblis, bukan orang-orang di sekitar kita yang menjengkelkan. Kabar baiknya adalah, Iblis sudah dikalahkan di bawah kaki Yesus, dua ribu tahun lalu. Itu berarti Iblis sudah tidak memiliki kuasa sama sekali. Jadi, jangan takut terhadap Iblis karena ia sudah tidak memiliki kuasa lagi. Yakobus 4:7 berkata, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!
  2. Mengenal Tuhan: Yesaya 9:5 berkata, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”
    Beda pemenang dan pecundang itu tipis, seorang pecundang melihat persoalan itu besar dan Tuhan menjadi kecil. Sementara seorang pemenang melihat Tuhan jauh lebih besar dari persoalannya. Rahasia menjadi pemenang adalah melihat Tuhan kita jauh lebih besar daripada persoalan kita. Tidak ada satupun persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh Tuhan. Tuhan juga memiliki ‘nature of God’ atau sifat dasar Tuhan yang tidak bisa berubah, yaitu mengubah yang mustahil menjadi mungkin (from impossible to possible). Lukas 1:37 berkat, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Selain itu, sifat dasar Tuhan dapat mengubah kita dari nol menjadi pahlawan (from zero to hero).

Mari bangkit dan menang atas persoalan hidup kita. Kita diciptakan lebih dari pemenang. Jangan menyerah dengan keadaaan ataupun persoalan sebab persoalan adalah ‘undangan untuk bertemu mujizat Tuhan’. Yakin bahwa Tuhan kita jauh lebih besar dari persoalan dan masalah kita. Tetap mengucap syukur dan bersuka cita, maka mujizat itu pasti akan terjadi dalam kehidupan kita. Amin!