Respon Yang Tepat Menghasilkan Kejadian Yang Tepat | Pdm. David Limanto

Respon Yang Tepat Menghasilkan Kejadian Yang Tepat | Pdm. David Limanto

Respon Yang Tepat Menghasilkan Kejadian Yang Tepat


Pdm. David Limanto

16-11-14

Lukas 11: 37-54 mengisahkan saat Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Orang Farisi sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan namun masih berusaha mencari penghormatan dengan cara berdoa di keramaian agar dilihat orang sebagai orang yang taat. Sementara ahli taurat adalah orang yang sangat hapal akan hukum taurat. Namun, ketika pengetahuan hanya menjadi pengetahuan saja, akan timbul kecenderungan untuk menjadi sombong. Ketika Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat, mereka marah dan menganggap Yesus sedang menghina mereka. Oleh sebab itu, selain pengetahuan, kita harus memohon pengertian dan hikmat dari Roh Kudus.

Orang mengatakan bahwa setiap proses dalam hidup ini akan mendewasakan hidup kita. Hal itu sepenuhnya tidak benar. Hanya orang-orang yang memiliki respon yang tepat dalam setiap proses kehidupanlah, yang akan bertumbuh dewasa. Untuk itu kita harus memiliki repon yang tepat dalam segala keadaan, agar menghasilkan kejadian-kejadian yang tepat.

Bagaimana caranya agar kita memiliki respon yang tepat sehingga menghasilkan kejadian yang tepat?

1.  Jangan lalai membersihkan ‘bagian dalam’ (Lukas 11:17-41)
Bagian dalam disini berbicara tentang motivasi hati kita. Orang Farisi mengecam Yesus karena mencari kesalahan Yesus. Matius 7:3-5 berbicara tentang orang yang berbicara selumbar di mata orang lain, sementara tidak membersihkan balok di matanya sendiri. Janganlah kita mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Seharusnya kita meneliti dan memperhatikan kehidupan yang di dalam kita. Marilah kita menyelidiki motivasi kita dan apa yang telah kita lakukan, refleksi hati kita dan lihat apakah kita sudah melakukan apa yang benar daripada mencela kesalahan orang lain sementara kita tidak memperbaiki diri kita sendiri.

2.  Jangan mengejar penghormatan

Lukas 14:11 mengatakan, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Setiap kita mempunyai tugas dan fungsi yang bahkan sudah ditetapkan jauh sebelum kita dilahirkan. Namun, jika fokus kita adalah mengejar penghormatan dari dunia, kita akan lebih mudah mengalami stress. Kita harus tahu tujuan hidup kita serta mulai berjalan dalam rencana dan jalan Tuhan. Supaya kita tidak mengejar penghormatan, kita perlu belajar tentang penundukan diri (submission). Submission berasal dari dua kata; ‘Sub’ dan ‘Mission’. ‘Sub’ berarti “berada di bawah” “atau menjadi bagian dari”, sementara ‘Mission’ berarti “misi, tugas”. Jadi, penundukan diri atau ‘submission’ berarti kita harus meletakkan tugas atau misi kita di bawah misi Kerajaan Allah.

Ketika kita mengutamakan Misi Kerajaan Allah, maka perilaku kita menggambarkan bahwa kita adalah putra dan putri Kerajaan Allah itu sendiri. Ketika kita hidup di bawah otoritas, itu berarti bahwa Tuhan memberikan kita kekuatan ketika melewati cobaan hidup ini sehingga ada damai sejahtera dalam kehidupan kita. Kita perlu hidup dalam payung otoritas di manapun kita ditempatkan. supaya berkat-berkat sorgawi dan damai sejahtera Allah turun dalam kehidupan kita. amin!

3.  Jangan Kehilangan Identitas (Lukas 11:44)

Orang Farisi diumpamakan Yesus sebagai kubur yang tidak bertanda. Hal itu merujuk kepada orang yang berubah atau kehilangan identitasnya karena suatu keadaan. Kita harus mengetahui identitas kita, sama halnya seperti garam dan terang yang tidak berubah di manapun mereka berada. Jangan malu untuk mengakui Kristus dalam hidup kita. Supaya kita tidak kehilangan identitas, kita perlu memulai dari titik akhir (Start from the end). Titik awal kita adalah kelahiran kita, sedangkan titik akhir kita adalah kematian kita (Pengkotbah 7:1). Kita perlu mempersiapkan saat kematian kita, dalam arti kita harus menyiapkan warisan yang sejati, dan warisan yang sejati itu adalah Firman itu sendiri, yaitu Yesus. Haleluya!

4.  Jangan mudah tersinggung (Lukas 11:45)

Amsal 27:3 mencatat,“Batu adalah berat dan pasirpun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh”. Sakit hati dapat membutakan mata kita, membuat cara kita memandang semua hal menjadi salah dan dapat merusak hubungan yang baik. Mintalah hikmat dan pengertian Tuhan tentang masalah yang terjadi. Jika kita dapat mengerti maksud dan tujuan Tuhan dalam masalah yang kita alami, kita tidak akan mudah tersinggung dan kita dapat memiliki damai sejahtera yang berasal dari Allah.

Mintalah hikmat dan tuntunan Tuhan dalam menyikapi setiap permasalahan dalam hidup kita, supaya kita tetap tenang dan berpikir positif dalam melewati badai. Sehingga, meskipun diijinkan Tuhan melewati masa-masa kesesakan, respon kita yang benar akan membawa kita kepada kejadian yang tepat dan semuanya akan membawa kebaikan. Nama Tuhan ditinggikan. Amin!