BECOMING A BUSINESS TRANSFORMER | Pdm. Lyson Suwongto

BECOMING A BUSINESS TRANSFORMER | Pdm. Lyson Suwongto

BECOMING A BUSINESS TRANSFORMER


Pdm. Lyson Suwongto

14-12-14

Sesungguhnya, sebagai orang percaya, kita sedang diproses Tuhan dari ‘orang percaya’ menjadi seorang pengubah (transformer) bagi bangsa di mana Tuhan menempatkan kita. Baik dalam bisnis, dalam komsel, maupun tempat kita berkerja atau belajar saat ini, seorang transformator adalah orang yang menjadi pengubah bangsa.

Dalam dunia ini, banyak terdapat masalah dan kita seharusnya dapat menjadi orang yang memberi dampak pada dunia ini. Masalah memang akan selau menjadi bagian dari hidup, termasuk bagi kita sebagai orang percaya. Namun, kita harus percaya bahwa lewar persoalan dan badai hidup, kita dapat menjadi semakin kuat. Jika kita telah menang atas permasalahan hidup, maka kita harus pula menjadi orang yang memberkati orang lain sebab tujuan kita diberkati adalah untuk memberkati orang lain.

Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Semua dimulai dari kata ‘perubahan paradigma’, sehingga pada intinya kita perlu mengubah pola pikir atau paradigma kita supaya dapat menjadi transformator bagi bangsa dan negara ini.

Kita harus mengubah pola pikiran kita dari sekedar ‘metamorfosis’ menjadi ‘transformator’. Umumnya kita mengetahui kata ‘metamorfosis’ yaitu proses perubahan yang biasanya diumpamakan dengan ulat menjadi kupu-kupu. Metamorfosis berbicara tentang sebagian proses kehidupan. Namun hendaknya kita juga menuju ‘transformator’yang memberkati orang lain dan memberi dampak di manapun kita berada. Kupu-kupu juga berfungsi sebagai ‘pollinator’ (penyerbuk), karena itu kita harus melakukan ‘regenerasi’ yang dampaknya kekal. Tidak hanya selama kita hidup, namun dapat diteruskan kepada generasi yang akan datang.

Efesus 2:10 berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita harus hidup dalam rencana yang Allah tetapkan bagi kita. Jangan hidup atau bekerja dengan asal-asalan, karena kita mempunyai misi penting untuk diselesaikan supaya saat kita sudah meraih kesuksesan, kita dapat memberkati orang lain.

  1. Bisnis adalah misi kita (Filipi 1:21-22)
    Dari ayat ini kita dapat belajar bahwa tujuan dari bekerja adalah memberikan buah. Jangan hidup secara asal-asalan supaya kita dapat menghasilkan buah. Kita harus mempunyai visi, misi serta mempunyai tujuan yang kuat. Cari tahu apa yang Tuhan inginkan dari kehidupan kita supaya kita dapat mengalami transformasi dalam hidup kita.
  2. Bisnis adalah warisan bagi generasi yang akan datang (1 Korintus 3:10)
    Pada waktu bekerja, kita harus membangun usaha yang tahan uji. Karena itu kita harus mempunyai dasar atau fondasi yang benar. Satu-satunya fondasi yang benar adalah Yesus Kristus, Sang Firman Allah yang hidup. Suatu saat, pekerjaan kita masing-masing akan diuji dalam api. Karena itu. hidup dan bisnis kita harus didasarkan atas kebenaran Firman Allah dan Firman Alah itulah yang akan memerdekakan kita. Saat api ujian itu datang, kita tidak akan dihanguskan dan nama Tuhan dipermuliakan.
  3. Memuliakan Tuhan dalam bisnis (Roma 15:1)
    Memuliakan Tuhan juga dapat dilakukan melalui bisnis. Saat kita membangun bisnis yang bertujuan untuk berbagi, nama Tuhan pasti dipermuliakan. Roma 15:1, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” Kita harus meninggikan nama Tuhan selama kita hidup dengan menjadi berkat bagi orang lain dengan cara berbagi.

Dalam proses transformasi, kita membutuhkan serbuk sari (pollen), agen penyerbuk (pollinator) dan benangsari untuk pembuahan. Serbuk sari adalah visi, misi dan nilai kita. Sementara pollinator adalah pasukan khusus, yang tidak hanya sekedar menjadi penonton atau penggembira saja, namun berkomitmen satu dengan yang lain sehingga lahir komunitas baru yang menumbuhkan manfaat bagi lingkungan dan bangsa ini. Sedangkan benang sari adalah strategi yang kita tetapkan untuk mencapai target dan positioning kita.

Apabila kita telah menangkap konsep ini dalam benak kita dan mengerjakan proses transformasi ini dalam kehidupan berbisnis kita, maka kita akan memberi dampak bagi generasi ini yang akan tetap ada sekalipun kita sudah tidak ada lagi. Lewat hal ini dunia akan melihat kita dan pasti juga akan melihat Tuhan yang kita sembah. Nama Tuhan dipermuliakan. Amin!