RIGHT HAPPENINGS | Pdt. Thomas Tanudharma

RIGHT HAPPENINGS | Pdt. Thomas Tanudharma

RIGHT HAPPENINGS


Pdt. Thomas Tanudharma

21-12-14

Tema triwulan terakhir sebelum memasuki tahun yang baru adalah ‘right happenings’. Sering kita berpikir bahwa ‘right happenings’ hanya terjadi secara kebetulan dalam hidup kita. Namun sesungguhnya, untuk mengalami ‘right happenings’ dalam hidup, kita perlu menemukan kehendak Tuhan dan menggenapinya.

Salah seorang yang tidak mengalami ‘right happening dalam hidupnya karena tidak mengerti rencana Tuhan dalam hidupnya adalah Esau yang kehilangan hak kesulungannya demi semangkuk sup kacang merah. Hal ini menandakan bahwa Esau menganggap sepele hak kesulungan tersebut.

Esau dan Yakub adalah saudara kembar yang memiliki sifat yang berbeda dan nasib yang berbeda pula. Dari kisah mereka kita dapat belajar bahwa takdir ditentukan oleh Tuhan, namun nasib kita ditentukan oleh seberapa jauh kita berusaha menggenapi kehendak Tuhan dalam hidup ini.

Bagi bangsa Israel, hak kesulungan berarti memiliki otoritas memimpin dalam keluarga. Selain itu, anak sulung berhak menerima warisan duapertiga bagian, lebih besar daripada adik-adiknya.Ada otoritas lebih yang diberikan kepada anak sulung dibandingkan adik-adiknya. Anak sulung juga memiliki nilai lebih besar seperti pada saat hari raya Pesach, saat seluruh anak sulung yang tidak memiliki ‘tanda darah’ mati diseluruh Mesir. Yakobus 1:18 menuliskan, “ Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.” Hal ini menjelaskan bahwa ‘hak kesulungan’ adalah tanda keselamatan yang kita miliki di dalam Yesus Kristus.

Kisah Esau dan Yakub mewakili sebagian besar persoalan yang dialami oleh umat Kristen di dunia pada saat ini. Banyak yang rela menukar ‘hak kesulungan’ yang mereka miliki dalam Yesus demi mendapatkan jabatan, harta, ataupun cinta di dunia ini. Lewat kisah ini pula kita belajar bahwa Esau menjual hak kesulungan yang dia miliki karena:

  1. Esau sedang lelah pada saat mengambil keputusan penting (Kejadian 25:29)
    Kejadian25:29; ”Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang
    Riset mengatakan bahwa masalah dalam hidup kita persentasenya hanyalah sepuluh persen dari total hidup kita. Namun apabila kita tidak berhati-hati dalam mengambil keputusan, maka yang sepuluh persen itu dapat menyebabkan masalah-masalah beruntun yang berakibat buruk pada sisa sembilan puluh persen hidup kita tadi. Karena itu, jika kita mengalami kelelahan baik secara fisik maupun emosi, jangan mengambil keputusan tergesa-gesa. Ambil waktu untuk membereskan hati kita dan berpikir sejenak agar nantinya kita tidak menyesali keputusan yang kita ambil. Libatkan Tuhan dalam segala keputusan yang kita ambil .Jangan simpan hal-hal yang tidak berguna dalam hati kita seperti dendam, kebencian, ataupun kepahitan, sehingga hati kita tidak dikotori oleh hal tersebut ketika mengambil keputusan penting di saat genting.

2. Esau tidak menghargai perkara-perkara rohani (Kejadian 25:34)
Kejadian 25:34, “Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.” Esau tidak menghargai hal-hal yang rohani. Seharusnya kita lebih menghargai perkara-perkara rohani daripada perkara-perkara duniawi (makan, minum, jabatan, harta, dan lain sebagainya). Alkitab mengatakan, jika kita mencari dahulu Kerajaan Allah serta kebenaranNya, maka semuanya akan ditambahkan dalam hidup kita. Berkat jasmani adalah bonus yang mengejar kita jika kita mengejar dan mengerjakan perkara-perkara rohani yang dipercayakan Allah dalam hidup kita. Namun jangan lupa, untuk bisa menangkap hal-hal dan perkara-perkara rohani kita membutuhkan Roh Kudus (1 Korintus 2:13-14). Kita perlu mencari Tuhan dan menemukan target dan tujuan kita di dalam Tuhan.

3. Esau melakukan apapun demi mengejar kesenangan hidup (Ibrani 12:16-17)
Ibrani 12:16-17, “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Kita perlu belajar dari kesalahan Esau dan tidak menjual ‘hak kesulungan’ yang kita miliki hanya demi sesuatu yang kelihatannya menarik. Sesuatu yang menarik itu hanya bersifat sementara, sedangkan ‘hak kesulungan’ yang kita miliki bersifat kekal. Jangan sampai kita menyesal saat keadaan sudah terlambat karena tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk dapat mengembalikan hal tersebut. Kita hidup dalam zaman kasih karunia, karena itu, jika Anda sedang jauh dari Allah, kembalilah saat masih ada kasih karunia.

Kita akan mudah kehilangan sesuatu yang amat berharga jika kita sendiri tidak menghargainya. Hargailah hak kesulungan yang kita miliki saat ini. Perubahan tidak selalu menjanjikan keadaan menjadi lebih baik, namun tanpa perubahan jangan berharap keadaan berubah menjadi baik. Perbaharui pola pikir kita dan kerjakan apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam hidup kita. Dengan bantuan Firman Allah serta Roh Kudus, kita semua pasti akan mengalami ‘right happening’. Amin!