THE HIGHER WAYS | Pdt. Eluzai Frengky Utana

 

 

Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.

Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

       Yohanes 4:7

Pada saat Tuhan Yesus menyampaikan perkataan tersebut, Ia sedang memulai perubahan yang drastis pada kehidupan seorang perempuan Samaria. Ia mau menunjukkan ‘jalan yang lebih tinggi’ kepada perempuan Samaria dan kepada kita. Sebuah jalan yang berkualitas, karena bukan hanya memberikan solusi tetapi juga essensi. Yesus adalah jalan itu, Ia tidak hanya memberikan jalan keluar atas masalah-masalah hidup kita, tetapi Ia adalah Kebenaran itu sendiri yang menjadikan kita kebenaran Allah. Setelah berjumpa dengan Yesus, perempuan Samaria tersebut akhirnya tahu tujuan hidupnya, hidupnya diubahkan, dan ada aliran sungai kehidupan memancar dari hatinya.

Dari bacaan Yohanes 4:1-42, ada lima pesan Tuhan agar kita mengalami ‘The Higher Ways’ (Jalan Yang Lebih Tinggi):

  1. Memiliki rasa haus di hati untuk orang lain terpuaskan.

Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” (ayat 7).

Ketika Tuhan Yesus berkata “berilah Aku minum”, ini sebenarnya bukanlah pernyataan kehausan Tuhan Yesus bagi diri-Nya sendiri, tetapi ini adalah rasa haus Tuhan Yesus untuk melihat wanita Samaria tersebut dipuaskan. Kita juga harus memiliki rasa haus melihat jiwa-jiwa yang tersesat diselamatkan. Semua dari kita tentu pernah mengalami berbagai mujizat pertolongan Tuhan, misalnya dilepaskan dari masalah keluarga, keuangan, sakit penyakit. Jika saat ini kita telah sembuh, apakah kita memiliki hati untuk mengalirkan air kesembuhan bagi orang lain?

2. Memiliki gairah/semangat melakukannya seperti makan dan minum sehari-hari.

Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah” (ayat 31).

Murid-murid mengajak Tuhan Yesus untuk makan, sedangkan fokus dari Tuhan Yesus adalah memberitakan kabar baik. Di sini kita melihat perbedaan antara murid yang sejati dengan para pengikut.  Seorang pengikut hanya mengejar berkat-berkat ataupun mengejar pengkotbah, tapi seorang murid yang sejati hidup dalam berkat dan menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan Yesus berkata: “Makanan-Ku adalah mengerjakan kehendak Bapa dan menyelesaikannya”. Saat ini kita berada dalam ‘gelombang kegerakan Tuhan’. Yang perlu kita lakukan adalah melaksanakan perintah Tuhan untuk memberitakan kabar baik dengan bergairah, dan melakukannya setiap hari sebagaimana kita makan dan minum.

3. Menerima pribadi-Nya baru bergerak dalam karunia-karunia-Nya.

Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (ayat 15).

Hal pertama yang perlu kita lalukan adalah menyatakan penerimaan kita kepada orang yang kita layani. Ketika perempuan Samaria tersebut menyadari bahwa ia dikasihi, ia menyambut Yesus sebagai Sang Mesias yang telah dijanjikan. Kemudian wanita tersebut pergi ke dalam kota dan memanggil orang-orang untuk datang kepada Kristus. Untuk dapat bergerak dalam karunia-karunia Tuhan, misalnya karunia untuk menginjil, maka kita harus sungguh-sungguh menerima pribadi Tuhan dalam hidup kita terlebih dahulu.

4. Meninggalkan prioritas yang keliru.

Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ (ayat 28).

Ketika hati perempuan Samaria tersebut tersentuh oleh perkataan Tuhan Yesus, maka ia meninggalkan tujuannya yang semula yaitu untuk menimba air. Terjadi perubahan prioritas dalam hidupnya, yang sebelumnya untuk mengambil air, tapi kemudian berubah menjadi ‘memberitakan Yesus’. Dalam hidup kita, ada prioritas-prioritas kita yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, misalnya prioritas untuk menjadi kaya, menjadi ternama.  Ketika Tuhan menyentuh hati kita, maka kita harus meletakkan prioritas-Nya di tempat teratas, yaitu mengasihi jiwa-jiwa dan menjadikan mereka bilangan murid Yesus.

5. Memberitakan apa yang dialami bersama Tuhan.

Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya
karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi:
“Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” (ayat 39).

Saat memberitakan kabar baik kepada orang yang belum percaya, yang harus kita lakukan hanyalah menceritakan apa yang sudah diperbuat Yesus di dalam hidup kita. Masing-masing kita diberi karunia, talenta dan pengalaman hidup yang unik bersama Tuhan. Gunakanlah hal itu untuk memberitakan kabar baik, meskipun itu sesuatu yang tampaknya sepele. Sebagai contoh kehidupan Yusuf yang suka melakukan tugas sebagai tukang bersih-bersih rumah. Ketika ia di rumah Potifar, ia melakukan yang sama, dan di dalam penjara pun ia melakukan yang sama. Ketika ia melakukan tugas yang tampaknya sepele tersebut, namun dengan kualitas Tuhan, maka karunia menafsirkan mimpinya dapat dimunculkan. Karunia, talenta, pengalaman, dan hal-hal kecil yang ada pada kita, jika digunakan dengan setia, maka dapat mendatangkan kemuliaan besar bagi nama Tuhan.

Lakukan kelima hal di atas dan bersiaplah untuk mengalami jalan yang lebih tinggi bersama Tuhan! AMIN