FILOSOFI AIR

Bacaan Setahun:
Hab. 1-3 
Flp. 4

 

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”
1Korintus 9:22 


Judul renungan ini terinspirasi dari topik bahasan acara ‘talk show’ di acara Kofitiam (Kongkow Firman Tiap Minggu), sebuah acara interaktif di Gereja Kami yang dibawakan secara santai dengan musik Jazz dan suguhan kopi. Isi Bahasannya adalah bagaimana menjadi  orang Kristen  yang relevan, artinya realita kehidupannya dapat berdampak positif dan diterima oleh semua kelompok yang berbeda namun tidak sampai hidup kekristenannya  justru  “digarami“ oleh nilai dunia yang salah.

Dengan istilah anak muda sekarang bagaimana menjadi seorang yang “gaul“ dan tidak “jadul“ dapat mengikuti akan perkembangan dunia modern namun tetap memegang nilai sorga. Narasumber mengawali dengan  cerita Bruce  Lee  yang  tidak  terikat  “pakem” menggabungkan beberapa aliran bela diri, namun sanggup  menjadikan ia seorang maestro bela diri. Bruce Lee  percaya “filosofi air“ adalah sebagai jalan hidupnya.

Inti filosofi air mengajarkan fleksible seperti air, jangan kaku dalam berpikir, jadilah seperti air yang bisa berbentuk apapun seperti wadahnya, namun sifat air sangat spesifik dan konsisten, ia bisa mengalir lembut tetapi bisa menyembur kuat tak terbendung. Air juga melambangkan  kasih Kristus, ia lembut dan fleksibel sehingga bisa memahami dan memenuhi kehausan jiwa seseorang, namun kuasa kasih Kristus juga sangat kuat sehingga sanggup menyadarkan seseorang akan dosanya.

Sebuah bukti nyata kasih Kristus telah mengubah seseorang yang kasar  namun rapuh seperti Simon menjadi seorang yang lembut namun  kokoh,  Petrus Sang batu karang. Filosofi air ini juga dinyatakan oleh Kristus secara gamblang, bahwa seseorang yang percaya kepada-Nya akan menyebabkan orang itu tidak  akan  “haus” lagi karena di dalam diri orang tersebut akan mengalir mata air yang tidak pernah habis.

Terbukti juga Saulus, “sang pembunuh orang Kristen“, setelah mengalami “perjumpaan” dengan Kristus berubah menjadi Paulus yang dulunya adalah seorang Yahudi Ortodoks, menjadi seorang yang  mudah beradaptasi (relevan dan fleksibel) , sehingga ia dikenal sebagai pewarta Injil bagi orang non Yahudi. Kemajuan cara berpikirnya pada jamannya yang tidak lagi “Yahudi center“ membuat ia mendapat kritik tajam dari para rasul lain yang belum tercerahkan.

Sejarah membuktikan akhirnya para rasul yang lain memahami jalan berpikir rasul Paulus, setelah mereka melihat buah dari karyanya.   Kesimpulannya, jadilah relevan, seperti filosofi air, fleksibel dan menerima semua latar belakang orang tanpa pandang bulu dan dapat juga mengikuti perkembangan jaman, namun bukan tanpa pendirian, lembut namun memegang teguh  nilai sorgawi . Anda setuju? (DD) 

Questions :

1. Apa inti dari pelajaran”filosofi air“? Ceritakan! 
2. Bisakah  seorang  fleksibel namun  tetap  punya prinsip yang kuat? 

Values :

Warga Kerajaan Sorga dipastikan mampu beradaptasi tanpa harus mengkompromikan nilai kebenaran Kerajaan.

Lemah lembut bukan tanda kelemahan tetapi justru tanda kekuatan.