RE-ARRANGEMENT (Penyusunan Kembali) | Pdm. Stefanus Suheru

Selain Pengkhotbah berhikmat, ia mengajarkan juga kepada umat itu pengetahuan. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. (Pengkhotbah 12:9)

Memberikan arti atau makna kepada kehidupan ini adalah tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia. Banyak orang berusaha menemukan arti kehidupan dengan mencari kepuasan pada makanan, dengan mencintai seseorang, atau dengan ritual-ritual agamawi untuk mencari Tuhan. Namun hidup yang bermakna ternyata tidak terletak pada makanan yang enak, karena Firman Tuhan berkata bahwa ‘manusia tidak hidup dari roti saja’. Hidup yang bermakna juga tidak didapat dengan mencintai seseorang, karena Firman Tuhan berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih Yesus. Hidup yang bermakna juga tidak didapat dengan usaha mencari Tuhan dengan ritual agamawi karena Firman Tuhan berkata bahwa hanya Yesus satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup.

Raja Salomo memiliki kebijaksanaan dan hikmat yang tidak tertandingi. Ia telah menikmati segala kesenangan dunia tanpa batas, bahkan ia memiliki prestasi sebagai seorang raja terhebat, namun pada akhir hidupnya ia berkata bahwa segala sesuatu sia-sia belaka.

Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. (Pengkhotbah 12:8)

Kata kesia-siaan dalam ayat ini dipakai kata הבל (baca: hebel) dalam bahasa Ibrani yang secara harafiah berarti: nafas, angin atau uap, yaitu menggambarkan sesuatu yang tidak bisa digenggam. Ayat ini tidak bermaksud mengatakan bahwa seluruh aktivitas kita bersifat sia-sia, namun menjelaskan bahwa jika kehidupan hanya ditempatkan di bawah matahari maka pasti menjadi sia-sia. Lain halnya jika segala aspek kehidupan kita ditempatkan di bawah Sang Putra, yaitu ditaklukkan kepada Kristus maka akan bernilai tinggi. Ini bisa dibuktikan dengan melihat beberapa orang terkaya di dunia, ketika mereka hidup di luar Tuhan Yesus, banyak dari mereka yang putus asa dan bahkan ada yang mengakhiri hidupnya secara tragis.

Tuhan Yesus ingin agar hidup kita memiliki makna dan kita bisa mengakhirinya dengan ‘finishing great’, untuk itu kita harus menyusun ulang kehidupan kita dengan melakukan 3 hal berikut:

REMEMBER YOUR CREATOR (INGATLAH PENCIPTAMU)

Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!" (Pengkhotbah 12:1)

Kata ingatlah bukanlah hanya sekedar berpikir mengingat-ingat kejadian yang telah lampau, namun memiliki arti sebuah ingatan yang menghasilkan tindakan nyata. Contohnya: ketika Allah mengingat Nuh, maka Ia membuat air bah menjadi surut. Karena itu perkataan: ingatlah akan penciptamu berarti kita harus mengingat bahwa kita telah diciptakan dalam gambar dan rupa Allah dengan sebuah tujuan untuk melayani dan memuliakan Dia melalui hidup kita. Ayat tersebut memerintahkan kita untuk bertindak menjadi perwakilan Kristus di manapun Tuhan menempatkan kita.

REDEEM YOUR TIME (TEBUSLAH WAKTUMU)

Sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur,(Pengkhotbah 12:6)

Sepanjang umur yang telah kita lewati, mungkin ada hal-hal yang sia-sia telah kita lakukan. Dalam kitab Pengkhotbah 12 ayat 1,2 dan 6 diuraikan kapan kita harus mengingat Pencipta kita, yaitu pada: masa muda, sebelum hari-hari malang, sebelum kedatangan Tuhan dan sebelum kita mati. Waktu-waktu yang telah kita sia-siakan selama ini, harus kita tebus kembali dengan cara mempergunakan setiap waktu dan kesempatan yang ada untuk melakukan tindakan-tindakan yang memuliakan Tuhan karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:16).

RELY ON HIS GRACE (ANDALKAN ANUGERAH-NYA)

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pengkhotbah 12:13-14)

Ada dua hal yang membuat kita memiliki hidup yang bermakna, yaitu takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Kata takut bukan seperti rasa ketakutan karena melihat hantu, atau ketakutan seorang anak karena telah berbuat kesalahan, namun maknanya adalah takjub dan hormat memandang ke-Maha Kuasaan Tuhan. Orang yang takjub dan menghormati Tuhan pasti melakukan perintah-perintah Tuhan, karena ia tahu bahwa semua itu diberikan Tuhan untuk kebaikan umat-Nya.

Jika saat ini ‘zone nyaman’ kita diguncang dan kita harus pindah ke tempat baru, kepada tugas yang baru atau situasi yang baru, berarti Tuhan sedang menyusun ulang hidup kita. Ijinkanlah Tuhan untuk menata kembali kehidupan kita, sekalipun itu tidak selalu mudah untuk dijalani. Semua itu dilakukan-Nya bagi kebaikan kita, agar kehendak-Nya digenapi secara sempurna dalam hidup kita sebagai warga kerajaan-Nya. Hormati dan andalkan anugerah Tuhan untuk menyelesaikan hidup dengan GREAT. Hidup yang berarti adalah memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi banyak orang di dalam setiap kesempatan dalam hidup kita. Amin. (VW).