Renewed in Family Relationship | Pdt. Thomas Tanudharma

Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! (Mazmur 128:1)

Kualitas hubungan dalam keluarga merupakan hal yang terpenting, karena akan menentukan kualitas kehidupan seseorang dalam bidang pelayanan, pekerjaan, bisnis, dan sebagainya. Mujizat pertama dalam pernikahan di Kana menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sejak awal sudah merancang agar setiap keluarga berbahagia. Namun agar rancangan tersebut tergenapi, maka kita harus memahami kunci-kuncinya dalam akronim ‘FAMILY’ sebagai berikut:

F = Faith (Iman)

Kita tidak mungkin mengasihi Tuhan tanpa terlebih dahulu memiliki iman percaya kepada-Nya. Demikian juga kita tidak mungkin saling mengasihi dalam keluarga tanpa terlebih dahulu saling mempercayai satu dengan yang lain.

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6)

Iman (faith) akan membawa kita kepada kesetiaan (faithfulness). Tidak mungkin terang dapat bersatu dengan gelap. Karena itu pastikan bahwa ada iman percaya yang sama di tengah keluarga kita, yaitu iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, Juruselamat, dan Raja kita.  Suami istri bertumbuh dan anak-anak dididik di dalam pengenalan akan Tuhan yang sama. (2 Korintus 6:14).

A = Acceptance (Penerimaan)

Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! (Mazmur 128:3)

Semua manusia membutuhkan perasaan diterima. Dalam keluarga yang memiliki hubungan yang sehat, ada penerimaan di antara suami dan istri. Demikian juga antara orang tua dan anak-anak. Hal ini dapat dicek dengan menanyakan kepada anak laki-laki Anda: “Apakah ingin punya istri seperti mama?” Atau kepada anak perempuan Anda: “Apakah ingin punya suami seperti papa?” Juga perhatikan bagaimana respon anak Anda jika Anda tugas keluar kota, apakah sedih atau justru merasa lega? Mujizat pertama di Kana tentang air diubah menjadi anggur berbicara tentang manisnya hubungan dalam pernikahan. Untuk mendapatkan manisnya pernikahan maka kita harus menerima satu dengan yang lain, dan dengan menerima Yesus sebagai sang Raja yang memerintah di tengah rumah tangga kita.

M = Maturity (Kedewasaan)

Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. (Mazmur 128:4).

Orang laki-laki yang dimaksud dalam ayat ini berbicara tentang pria yang dewasa, bukan anak-anak. Beberapa tanda kedewasaan antara lain bisa menerima tanggung jawab, mudah meminta dan memberi maaf, tidak mencari pembenaran diri, tapi hidup dalam kebenaran, memahami dan bisa menerima perbedaan-perbedaan. Dalam pernikahan ada begitu banyak perbedaan di antara suami dengan istri dalam hal sifat, kebiasaan, karakter, kemampuan, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan dan sebagainya karena itu dibutuhkan kedewasaan masing-masing pribadi. Kedewasaan membuat kita bisa memahami dan menerima perbedaan-perbedaan yang ada.

I = Intimacy (Keintiman)

Dalam rumah tangga, keintiman hubungan sangat diperlukan. Seorang ahli melakukan penelitian yang mendalam dan panjang untuk menemukan kunci kebahagian manusia. Ditemukan bahwa kunci kebahagiaan manusia adalah pada kualitas keintiman hubungan. Keintiman berbeda dengan romantisme. Romantisme bisa dikondisikan dengan mengatur suasana dengan lampu-lampu yang redup dan musik yang lembut. Namun ini hanya bersifat sementara. Sebaliknya keintiman berbicara tentang kualitas komunikasi yang mendalam, sehingga bisa membicarakan hal-hal yang penting maupun yang tidak penting dengan leluasa, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

L = Love (Cinta)

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. (Efesus 5:28)

Yang dibutuhkan seorang istri adalah kasih dari suami, namun yang dibutuhkan seorang suami adalah rasa hormat dan respek dari istrinya. Hal ini bersifat timbal balik satu dengan yang lain. Seorang suami tidak bisa mengasihi istrinya jika tidak mendapat rasa hormat dari sang istri, demikian juga seorang istri tidak bisa menghormati suaminya jika tidak mendapatkan kasih dari sang suami. Bukti seorang suami yang mengasihi istrinya adalah dengan banyak berkorban, sebagaimana Tuhan Yesus berkorban bagi jemaat untuk menebus dosa mereka.

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. (Efesus 5:32).

Y = You (Anda)

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6).

Faktor penting untuk memulai pemulihan hubungan harus dimulai dari diri sendiri. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk menolong kita. Tuhan ingin setiap kita mengambil inisiatif untuk memulai pemulihan hubungan dalam keluarga. Kita harus belajar mengingat setiap kebaikan yang pernah kita terima dan melupakan setiap kebaikan yang sudah kita lakukan kepada orang terdekat kita, yaitu suami, istri atau anak-anak kita. Hal ini membuat kita senantiasa berpikir positif dan siap untuk memulai pemulihan hubungan keluarga kita.

Jika keenam hal di atas kita lakukan, maka Tuhan Yesus akan membuat rancangan-Nya tergenapi dalam kehidupan keluarga kita. Anggur yang manis dalam pernikahan dan segala kebaikan-Nya akan dilimpahkan dalam keluarga kita. Amin. (VW)