REVIVED A HOME LEADER | Pdm. Natanael Wuryanto

(14) Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN  dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.  Jauhkanlah allah  yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. (15 ) Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori  yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN! (16 )Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan  TUHAN  untuk beribadah kepada allah lain! (Yosua 24:14-16)

Setelah bangsa Israel berjalan keluar dari Mesir dan berputar di padang gurun selama 40 tahun. Musa yang ditugaskan oleh Tuhan tidak diijinkan ikut masuk ke tanah Perjanjian, oleh sebab itu sebagai penggantinya Tuhan menunjuk Yosua yang memimpin bangsa Israel. Semua perjalanan yang terjadi di bangsa Israel ketika mereka berada di Mesir dan ketika mereka harus berperang merebut tanah perjanjian karena penyertaan dan kasih Tuhan kepada bangsa Israel. Oleh sebab itu Yosua menetapkan kembali perjanjian dengan Tuhan untuk mereka setia beribadah kepada Tuhan.  Dan bangsa itu beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua, dan yang telah melihat segenap perbuatan yang besar, yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel (Yosua 2:8).

Namun apa yang terjadi setelah sekian lama bangsa Israel ada setelah jaman Yosua?

(10) Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain , yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.  (11) Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat  di mata TUHAN   dan mereka beribadah kepada para Baal. (Hakim-hakim 2:10-11)

Apa yang bangsa Israel janjikan kepada Tuhan pada jaman Yosua mereka ingkari dan langgar. Bangsa Israel tidak lagi menikmati berkat-berkat Tuhan. Mereka mengalami kemerosotan rohani, sosial dan moral karena ada angkatan lain yang tidak mengenal Tuhan. Mengapa mereka sampai tidak mengenal Tuhan? Orang tua tidak lagi mengajarkan Firman Tuhan dan menceritakan perbuatan-perbuatan  ajaib yang pernah Tuhan lakukan pada bangsa itu. Orang tua tidak lagi meneruskan dan mengajarkan segala perintah Tuhan kepada anak-anak mereka. Tugas menyampaikanFirman Tuhan tidak hanya ada pada pemimpin, tetapi lebih banyak menjadi tugas orang tua di rumah.

Segala sesuatu dimulai dai rumah, jika kondisi dalam rumah dan keluarga tertata dengan baik dan benar maka akan berdampak yang baik pula kepada lingkungan sosial di masyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun jika kita memperhatikan keadaan di sekeliling kitaataupun melalui media sosial banyak diberitakan mengenai tindakan  kekerasan, kemerosotan moral maupun tindakan kriminal yang terjadi di mana-mana. Kekerasan yang terjadi muncul tidak hanya berasal dari masyarakat, tetapi muncul dari rumah ketika keadaan keluarga tidak baik.

Kemerosotan rohani, sosial dan moral terjadi ketika orang tua meninggalkan hubungan pribadi dengan Tuhan. Mereka mulai menyesuaikan diri dengan gaya hidup dan nilai-nilai budaya sekitar. Ketidaktaatan kepada Tuhan menyebabkan hukuman Allah menimpa Israel dalam bentuk penindasan dan perbudakan. Pemulihan pada bangsa Israel terjadi ketika mereka berseru kepada Allah dari penderitaan dan bertobat dari kemurtadan yang telah dilakukan maka Allah membangkitan pemimpin yang dikuasai Roh Kudus menjadi pembebas bangsa Isarael dari perbudakan dan memulihkan hubungan mereka dengan Allah.Bangsa Israel mengalami jatuh dan bangun dalam hudungannya dengan Tuhan.

Jika kita mengalami situasi semacam ini, langkah yang harus kita lakukan adalah kita harus membangkitkan pemimpin-pemimpin yang benar dari rumah yang dimulai dari seorang bapak yang berfungsi dengan benar di dalam keluarganya. Mungkin kita merasa tidak mampu, gagal dan belum siap, tetapi kita tidak akan pernah berjalan dalam kemenangan sampai kita tahu bahwa musuh kita telah dikalahkan. Saat kita memulai dari rasa gagal maka kita akan sulit untuk menang. Kita harus memulainya dari rasa menang karena Tuhan Yesus telah menang dan telah memberikan kemenangan itu kepada kita (1 Korintus 15:57).

Untuk membangkitkan pemimpin di rumah kita harus memulainya dengan membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, dengan senantiasa menungkan Firman Allah, mulai membangun mezbah keluarga dan senantiasa mengajarkan  Firman Tuhan kepada anak-anak kita. Seorang Bapak harus berfungsi sebagai Bapak yang sesungguhnya dan berfungsi sebagai imam serta guru yang mengajarkan Firman Tuhan bagi anggota keluarganya.

Firman Tuhan harus senantiasa menjadi tuntunan dalam hidup kita. Kita harus mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak kita  dan membicarakannya senantiasa dimanapun dan kapanpun  (Ulangan 6:4-7) sehingga kita pemimpin di dalam rumah yang dapat membangkitkan generasi-generasi yang takut akan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.