SUAMI DAN ISTERI

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3:18-19

Mengapa Anda menikah dengan dia? Karena kami sudah cocok pak! Begitulah kira-kira ungkapan sepasang calon keluarga baru. Menjadi suami ataupun isteri bagi kekristenan merupakan sebuah komitmen yang taruhannya adalah nyawa. Maksudnya, mereka hanya boleh dipisahkan oleh maut, bukan oleh pengadilan agama. Tetapi pada kenyataannya, ada juga orang kristen yang memutuskan bercerai dan menikah lagi dengan yang lainnya. Suatu saat saya bersama istri menjemput sepasang keluarga muda, mereka berada dalam satu mobil dengan kami. Dalam perjalanan, baik si suami maupun isteri saling ‘menyerang’ satu dengan yang lainnya. Si suami bilang kalau isterinya tidak seperti ekspektasinya saat pacaran dulu, yang berharap akan tetap lembut tutur katanya, sabar, murah senyum, tidak banyak menuntut. Sedangkan isterinya tidak mau kalah, dia pun berseloroh merasa bahwa dia sudah tertipu dengan ‘masa promo’ suaminya saat masih pacaran dulu yang suka memberi kejutan, suka memujianya, sering membelikan hadiah baginya. Rupa-rupanya ada kebiasaan yang berubah dari masa pacaran dengan kehidupan pernikahannya saat ini. Tentu saja ini sebuah kejadian umum yang hampir kebanyakan rumah tangga mengalaminya juga. Lantas apakah kita akan terus bertahan dalam kondisi kehidupan pernikahan yang seperti itu? Menilik ayat bacaan kita di atas, ada tugas untuk masing-masing kita sebagai sebuah pasangan. Anda sebagai isteri harus tunduk sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Bagi suami, Anda harus mengasihi isteri dan jangan berlaku kasar. Kemudian ada pertanyaan yang sering muncul, “Siapakah yang memulai duluan?” Jawabannya adalah yang lebih dewasa rohaninya yang memulai. Artinya, sebelum memutuskan untuk mengucapkan janji nikah, persiapkan kerohanian Anda terlebih dulu, jadilah dewasa rohani. Menikah bukan sekedar menggenapi perintah Allah untuk berkembang biak dan penuhilah bumi, menikah bertujuan untuk menjadi percontohan desain Keluarga Kerajaan Allah di Sorga. Jadi jika begitu menikah bukan karena kecocokan, akan tetapi Anda harus membuka diri untuk mencocokan diri ‘bersinergi’ dengan pasangan Anda. Kehidupan keluarga kita harus terus kita jaga supaya keharmonisan dan keromantisan itu tidak makin usang, saling mendahuluilah dalam memberi pelayanan, melakukan firman Tuhan, maka Dia yang akan menaungi dan memberkati kehidupan keluarga Anda. (HB)

Questions :

1. Bagaimana kehidupan keluarga Kristen seharusnya?
2. Apakah Anda makin cinta pasangan Anda? Mengapa?

Values :

Menikah bukan karena merasa sudah saling cocok, tetapi setiap pasangan harus membuka diri untuk saling menyesuaikan dengan pasangannya.

Jadilah dewasa rohani supaya kehidupan pernikahan Anda semakin harmonis.