OTORITAS DI DALAM YESUS
Bacaan Setahun:
Ul. 26-27 ,Mzm. 19 ,Ams. 12
“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.” (Matius 10:1)
Pengenalan akan diri sendiri menjadi amat penting tatkala kita dilahirkan kembali melalui Kristus. Sebab Alkitab menyatakan bahwa ada perubahan yang dahsyat ketika kita menjadi milik Kristus. Baiklah, kita mengerti bahwa barang siapa ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17). Lebih daripada itu, Alkitab menyatakan, “…… sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia TELAH membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” (Ef. 2:5, 6).
Ayat tersebut bukanlah berbicara mengenai fakta yang akan Allah kerjakan, tetapi fakta yang Allah TELAH lakukan. Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa, tempat otoritas, dan kita juga didudukkan bersama-sama dengan-Nya. Kita telah mati bersama Kristus, dan kita telah dibangkitkan pula bersama Kristus. Syukur kepada Allah yang memberikan kita otoritas melalui Yesus Kristus. Inilah kebenaran yang yang harus kita pahami. Seperti otoritas yang diberikan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, demikianlah otoritas itu menjadi milik setiap orang percaya.
Sebelumnya harus dipahami terlebih dahulu bahwa dalam PL (Perjanjian Lama) Allah seringkali mengurapi hamba-hamba-Nya dengan kuasa, sehingga mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa, seperti kekuatan fisik yang dimiliki oleh Simson (Hak. 14:5, 6). Dalam PB (Perjanjian Baru) Allah masih saja melakukan hal yang sama meskipun kekuatan itu bukan terletak di fisik tetapi di dalam roh kita.
Lalu, apakah otoritas itu? Kata Yunani untuk kuasa adalah exousia yang lebih tepat bila diterjemahkan dengan otoritas. Apakah bedanya kuasa dengan otoritas? Misalnya, di jalan yang penuh sesak dengan kendaraan terlihat seorang polisi sedang mengatur lalu lintas. Polisi ini diberikan wewenang oleh pemerintah untuk mengatur lalu lintas termasuk memberhentikan kendaraan. Tidak heran bila hanya dengan mengangkat satu tangannya saja truk besar yang melaju di depannya berhenti mendadak. Inilah yang disebut dengan otoritas. Jadi otoritas adalah KUASA YANG DIDELEGASIKAN.
Begitu juga dengan orang percaya. Mereka diberi wewenang atau otoritas untuk menginjak ular dan kalajengking, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk. 10:19). Ular dan kalajengking adalah lambang dari kuasa kegelapan. Ya, kita diberi kuasa oleh Allah untuk mengalahkan iblis dan antek-anteknya. Kalau Anda mengerti kebenaran ini, janganlah takut bila berhadapan dengan iblis dan pekerjaannya – misalnya orang kerasukan setan – karena Allah telah memberikan kita otoritas untuk mengalahkan mereka.
Ingat, Tuhan memberikan amanat kepada kita yang salah satunya adalah mengusir setansetan di dalam nama Yesus (Mrk. 16:17). Sadarilah bahwa kuasa Allah ada di dalam kita supaya kita tidak takut berhadapan dengan setan. (DH)
Questions:
1. Apa perbedaan antara kuasa dan otoritas dalam konteks pemberian wewenang oleh Allah kepada orang percaya?
2. Bagaimana kita dapat memanfaatkan otoritas yang diberikan kepada kita oleh Allah? Diskusikan!
Values:
Otoritas adalah kuasa yang didelegasikan. Kita, sebagai orang percaya, diberi wewenang atau otoritas untuk menginjak ular dan kalajengking, lambang dari kuasa kegelapan.
Kingdom’s Quotes:
Sadarilah bahwa kuasa Allah ada di dalam kita supaya kita tidak takut berhadapan dengan setan. Tuhan memberikan amanat kepada kita untuk mengusir setan-setan di dalam nama Yesus.