(34) Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (35) Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35 – TB)
Sebagai warga Kerajaan Allah kita harus hidup di dalam komunitas Kerajaan. Komunitas kerajaan adalah komunitas keluarga yang terikat janji. Komunitas Kerajaan sudah mulai hilang dari gereja hari-hari ini. Gereja hanya berfokus kepada pertemuan-pertemuan besar. Hal ini tidaklah salah, tetapi ketika gereja yang semakin besar mereka tidak lagi fokus kepada komunitas kecil dari keluarga-keluarga baik keluarga jasmani maupun keluarga rohani yang terikat janji yang menjadi rumah kediaman Roh Kudus.
Tuhan Yesus mendefinisikan Komunitas Kerajaan adalah komunitas terang dan garam dunia. Komunitas Kerajaan tidak bisa dibangun di hari minggu saja. Komunitas Kerajaan harus dibangun dimana-mana sehingga pengaruh Kerajaan Allah semakin diperluas dan komunitas tersebut menjadi terang dan garam bagi masyarakat. Melalui komunitas Kerajaan gereja diharapkan dapat menjadi dampak bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Jika kita memperhatikan kehidupan gereja mula-mula, gereja tidak terpecah-pecah sesuai segmen usiaseperti saat ini. Gereja mula-mula dimulai dari dua atau tiga keluarga yang berkumpul, baik itu anak-anak, remaja pemuda maupun orang dewasa bahkan para hamba-hamba yang berkumpul dalam kesatuan dimana seorang kepala keluarga memuridkan keluarganya.
Pola gereja mula-mula inilah yang harus kita diterapkan di dalam kehidupan bergereja saat ini agar gereja bisa menjadi dampak bagi masyarakat. Jika gereja tidak sadar maka gereja akan menjadi sama dengan dunia. Sebuah survei menebutkan bahwa angka perceraian di Amerika sudah mencapai 50% demikian juga di dalam gereja angka perceraian juga sudah semakin meningkat. Bagaimana gereja bisa mentransformasi dunia jika gereja tidak ada bedanya dengan dunia ini.
Kunci utama hidup dalam Komunitas Kerajaan adalah hubungan atau komunikasi di dalam kasih. Janji yang mengikat Komunitas Kerejaan adalah kasih. Oleh sebab itu jika kita ingin membangun komunitas Kerajaan kita harus menerapkan hubungan komunikasi di dalam kasih. Praktek komunikasi di dalam kasih dimulai dari hidup baru kita di dalam Tuhan sebagai manusia baru (Efesus 4:17-32) dimana melalui Roh Kudus, Kristus mengajar kita membangun hubungan.
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29 – TB)
Sebagai manusia baru kita harus menjaga perkataan kita karena penghalang dalam membangun hubungan adalah komunikasi baik verbal maupun non-verbal. Perkataan kotor tidak saja perkataan yang jorok dan cabul, tetapi dalam bahasa Yunaninya lebih kepada kata-kata yang mematikan, perkataan yang merusak dan tidak membangun. Sadar tidak sadar seringkali perkataan kita mungkin benar, tetapi pesan yang sampai kepada lawan bicara kita bukan kebenaranya tetapi pesan yang merusak, menghancurkan merasa terpojok dan mungkin dapat mematikannya.
Kita harus belajar berkomunikasi dengan benar sehingga apa yang kita sampaikan senantiasa ada di dalam kasih. Kadangkala kita menyampaikan sesuatu sudah benar tetapi tidak di dalam kasih.
“tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:15 – TB)
Jika kita ingin bertumbuh ke arah Kristus maka kita harus terus belajar menyampaikan kebenaran di dalam kasih. Menyampaikan kebenaran tanpa kasih akan menjadi brutal, sebaliknya menyampaikan kasih saja tanpa kebenaran akan menjadi sentimental.
Sesudah Rasul Paulus menyampaikan bagaimana hubungan didalam komunitas Kerajaan Allah maka Rasul Paulus menutupnya dengan perintah agar kita senantiasa mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah karena Kerajaan Allah selalu diperhadapkan dengan peperangan.
(11) “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (12) karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:11-12 – TB)
Dalam sebuah hubungan, tanpa kita sadari seringkali iblis menggunakan pasangan kita, anak kita atau orang tua untuk saling serang, saling merusak, saling menyakiti dan saling menghancurkan. perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging (pasangan, anak atau orang tua, dsb) tetapi melawan tipu muslihat iblis, pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Konflik yang kita alami penyebabnya bukan pasangan, anak atau orang tua tetapi kuasa si jahat yang bekerja di tengah-tengah komunikasi kita.
Rasul Paulus mengajarkan pola komunikasi antasa suami dan istri untuk saling mengasihi dan menghormati.
(22) “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, (25) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (33) Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:22, 25, 33 – TB)
Ayat ini menunjukkan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab seorang suami dan istri juga sekaligus apa yangmenjadi kebutuhan seorang suami dan istri. Kebuutuhan seorang istri adalah dikasihi dan kebutuhan seorang suami adalah dihormati istrinya. Seorang suami mungkin sudah mengasihi istrinya, tetapi sang istri belum merasakannya, demikian juga seorang istri sudah menghormati suaminya tetapi sang suami juga tidak merasakannya. Untuk itu kita harus belajar meningkatkan pola komunikasi kita.
Menurut Krik Hill ada dua level komunikasi, level satu adalah komunikasi data ke data atau topik ke topik dan tidak pernah menyentuh hati, tetapi komunikasi level dua adalah komunikasi dalam kasih dimana kita mengerti perasaan lawan bicara kita.
Praktek komunikasi dalam kasih dimulai dengan 2 pertanyaan dan 1 tindakan yaitu:
- Melalui respon yang kita terima, tanyakan apakah lawan bicara kita terluka dengan tindakan atau perkataan kita?
- Galih lebih dalam, apakah perkataan atau tindakan kita sudah melukainya dan belajar untuk mendengarkan.
- Minta maaf dengan tulus dan lakukan pemulihan.
Praktek komunikasi di dalam kasih harus dimulai dari kita sebagai suami dan istri kepada anak-anak dan komunitas Kerajaan sehingga pemulihan terjadi dan berkat-berkat Tuhan mengalir di dalam hidup kita. Amin (RCH).