SALING MEMBANGUN
Bacaan Setahun:
Mrk. 7:1-13
2 Sam. 17
Daniel 11:1-19
“Lalu Ia berkata lagi: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Markus 4:24)
Seorang ayah mengajak anaknya ke gereja. Selesai kebaktian, sepanjang perjalanan pulang ke rumah, si ayah menggerutu tentang “kualitas” kebaktian. Yang pemimpin pujiannya suaranya serak, yang paduan suaranya jelek, yang khotbahnya tidak bermutu, dan berbagai kritikan dilontarkan dengan cepat. Anaknya yang berada di sebelahnya hanya menjadi pendengar yang baik. Tiba-tiba ia ingat persembahan yang dicemplungkan ayahnya ke dalam kotak persembahan. Anak itu berkata, “Ayah, apa yang ayah harapkan dari uang lima ribu rupiah itu?”
Mengkritik, mencela, atau menghakimi, memang mudah dan tidak memerlukan biaya. Tidak diperlukan keahlian khusus untuk melakukannya. Di mana saja kita melakukan kritikan. Di rumah, sekolah, gereja, jalan, di mana saja, kritikan mudah dilontarkan. Melihat wanita dengan dandanan seronok, atau melihat pria dengan sepasang baju yang tidak ideal, atau melihat apa saja, kita dapat melakukan kecaman.
Saudara, kritik membangun itu baik asal berdasarkan kasih dan bukannya dengki. Yesus sendiri kerap mengkritik dengan terang-terangan mengenai cara hidup ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Tetapi, menghakimi itu lain persoalan. Apa yang Yesus maksudkan di sini adalah janganlah menghakimi dengan tendensi menjatuhkan atau menghancurkan.
Jujur saja, kadang hati kita bersorak melihat rekan kita jatuh atau bisnisnya bangkrut. Di hadapannya, kita menjadi orang Farisi yang seolah-olah berdukacita dengan mimik yang dibuat sesedih mungkin, padahal hati kita bersukacita. Lalu dengan cepat kita langsung mengeluarkan dalil bahwa orang itu pasti telah berbuat dosa. Daripada berdoa buat orang itu supaya segera bangkit dan dipulihkan, kita malah mencecarnya dengan berbagai kritikan. Kalau toh orang itu memang berbuat salah, bukanlah hak kita untuk menghakimi mereka, sebab yang punya hak untuk mengadili adalah Allah sendiri. Alkitab berkata, “Hanya ada SATU Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia” (Yakobus 4:12).
Janganlah menjadi hakim! Jadilah pembangun iman bagi saudara-saudaramu, sebab kita diciptakan Allah supaya saling menopang dan menguatkan. Bila ada saudara kita yang jatuh baiklah kita berdoa supaya ia dipulihkan lagi. Yesus mengajarkan supaya kita saling mengasihi. Apabila kasih ini diterapkan dengan sungguh-sungguh, iblis tidak akan menemukan celah untuk mencuri domba, sebab semuanya saling memagari. Kalau kita mulai menghakimi, kita membuka celah itu. (DH)
Questions:
1. Apakah perkataan dan sikap Anda membangun atau menjatuhkan?
2.Apakah Anda menilai dengan kasih atau menghakimi seperti yang ingin Anda hindari?
Values:
Jika kita ingin diukur dengan kasih, maka ukurlah sesama dengan belas kasih yang sama.
Kingdom Quotes:
Kritik tanpa kasih adalah senjata; kasih tanpa kebenaran adalah kelemahan. Gabungkan keduanya, maka engkau membangun.