BAPA YANG PENUH KASIH
Bacaan Setahun:
1 Kor. 1:18-31
1 Raj. 14
Yoel 2:1-11
“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10)
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Namun, orang-orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Jika kita membaca Injil Lukas pasal 15 secara keseluruhan, maka Yesus menyampaikan tiga perumpamaan yang menggambarkan tujuan misi-Nya ke bumi ini: untuk menyatakan kasih Bapa dan untuk mencari serta menyelamatkan yang hilang untuk selama-lamanya.
Yesus memulai perumpamaan-Nya dengan kisah tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, serta perumpamaan tentang anak yang hilang. Namun, sering kali fokus kita hanya tertuju pada apa atau siapa yang hilang—baik itu domba, dirham, ataupun anak bungsu. Padahal, ada tiga pribadi penting yang ingin dikenalkan Yesus melalui ketiga kisah tersebut.
Melalui perumpamaan domba yang hilang, Yesus sedang memperkenalkan sosok Gembala yang baik—bukan hanya yang menjaga dan memelihara domba-dombanya, tetapi yang menjadi sahabat bagi domba-dombanya. Gembala yang baik akan mencari yang tersesat, membalut yang terluka, dan menyediakan padang rumput yang hijau. Kemudian, melalui perumpamaan tentang dirham yang hilang, Yesus menyingkapkan karakter bendahara yang baik. Seorang bendahara yang bertanggung jawab akan menjaga dengan saksama setiap bagian dari harta yang dipercayakan kepadanya. Maka, saat satu dirham hilang, ia akan mencari sampai ditemukan. Dan dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, Yesus ingin menggambarkan Bapa yang baik—Bapa yang penuh kasih, kesabaran, dan pengampunan yang luar biasa.
Namun, berbeda dari dua kisah sebelumnya, dalam kisah anak yang hilang, Sang Bapa tidak mencegah kepergian anaknya, juga tidak mencarinya. Apakah ini berarti Sang Bapa tidak peduli? Tentu tidak. Justru melalui sikapnya, Sang Bapa ingin mengajarkan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensinya. Terkadang, seseorang harus mengalami proses dan waktu agar menyadari kesalahan dan pertobatannya lahir dari hati yang tulus. Anak bungsu itu akhirnya sadar. Ia merasakan konsekuensi dari pilihannya dan memilih kembali kepada Bapanya. Ia bahkan siap untuk tidak lagi menjadi anak, melainkan menjadi hamba. Namun yang terjadi justru sebaliknya—Sang Bapa berlari menyambutnya, memeluknya erat, dan memberikannya pakaian terbaik, cincin, serta sepatu baru.
Jika hari ini kita merasa berada di titik terendah akibat keputusan buruk di masa lalu, ingatlah: tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Bapa. Sang Bapa tidak sedang mencari kita seperti mencari domba atau dirham, karena kita bukan sekadar milik-Nya—kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Bukannya Ia tidak peduli, tetapi karena kasih-Nya, Ia ingin kita belajar dari setiap keputusan dan melekat kepada-Nya setiap hari. (RSN)
Questions:
1. Apakah maksud dari tiga perumpamaan yang Yesus berikan?
2. Bagaimana respon kita saat kita berada dalam titik tersendah di dalam hidup kita?
Values:
Sang Raja datang ke dunia untuk menyatakan Misi Bapa yaitu untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang untuk selama-lamanya.
Kingdom Quotes:
Titik terendah dalam hidup kita seharusnya menjadi titik balik bagi kita untuk melihat dan merasakan kasih Bapa.