MENJADI MURID SEJATI
Bacaan Setahun:
1 Kor. 3
1 Raj. 15:33-16:34
Yoel 3
“Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu” (Yeremia 38:6)
Pemberontakan Petinju (Boxer Rebellion) adalah salah satu peristiwa paling kelam yang terjadi pada tahun 1900 di wilayah Cina utara. Dalam tragedi ini, ratusan warga Cina terbunuh dan lebih dari 200 orang asing menjadi korban. Gerakan ini dimulai oleh sebuah kelompok rahasia Cina bernama Yihequan, yang berarti “Pukulan Kebenaran dan Keharmonisan”. Kelompok ini awalnya memiliki kaitan dengan sekte Teratai Putih (White Lotus), yang menentang kekuasaan Dinasti Manchu, penguasa Cina saat itu. Orang-orang Barat menyebut kelompok ini sebagai Boxers (Petinju) karena mereka melakukan latihan fisik dan senam bela diri. Pada tahun 1890-an, kelompok Boxer mulai menyuarakan penolakan terhadap pengaruh asing di Cina. Semakin banyak orang Cina yang bergabung dalam gerakan ini. Pada tahun 1900, para Boxer melancarkan aksi kekerasan dan penghancuran terhadap segala hal yang berbau asing. Mereka membantai orang-orang Kristen Cina, para misionaris, serta warga asing lainnya. Mereka membakar rumah, sekolah, dan gereja. Segala sesuatu yang terhubung dengan dunia asing menjadi sasaran.
Salah satu kisah heroik dari masa kelam tersebut menjadi bukti keteguhan iman para martir Kristus. Ketika sekelompok pemberontak berhasil menguasai sebuah kantor milik orang Kristen, mereka menutup semua jalan keluar. Tepat di depan pintu, mereka meletakkan sebuah salib di atas tanah. Pemimpin pemberontak lalu berkata, siapa pun yang keluar dan menginjak salib itu akan dibiarkan hidup. Tujuh orang pertama yang ketakutan keluar satu per satu, menginjak salib tersebut, dan mereka dibebaskan. Namun, orang kedelapan—seorang gadis muda—menolak untuk menginjak salib itu. Ia berlutut di samping salib dan memanjatkan doa, memohon kekuatan dari Allah. Perlahan, ia bangkit dan berjalan mengelilingi salib dengan penuh hormat. Ia keluar dari ruangan untuk menghadapi regu tembak yang telah siap siaga. Dor! Dor! Gadis itu roboh bersimbah darah. Terinspirasi oleh keberanian gadis tersebut, sembilan puluh orang yang tersisa dalam ruangan mengikuti jejaknya. Satu demi satu mereka keluar, menolak menginjak salib, dan akhirnya gugur dengan gagah berani sebagai pengikut Kristus yang sejati.
Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Mungkin bagian dari kebenaran ini kurang disukai oleh banyak orang Kristen, sebab ayat ini berbicara tentang penderitaan sebagai konsekuensi mengikuti Kristus. Bahkan, pada akhir zaman, akan semakin banyak orang percaya yang dianiaya, bahkan dibunuh (Lukas 21:16–17). Namun, Yesus juga berkata, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Lukas 21:19). Selama kita tetap “tenang” dan tidak memberitakan Injil Kristus, mungkin kita tidak akan diusik. Bahkan, saat kita berkompromi dengan perilaku teman-teman yang tidak mengenal Tuhan, posisi kita terasa “aman”. Namun, sayangnya, itu bukanlah tanda seorang murid Yesus sejati. Mari, jangan hanya menjadi pengikut Kristus yang diam dan nyaman. Jadilah murid yang setia sampai akhir—dengan memikul salib dan mengikut Dia, meski harus menanggung penderitaan. (DH)
Questions:
1. Apakah Anda bersedia tetap setia pada Kristus meski harus menghadapi risiko, penolakan, atau penderitaan?
2. Dalam hal apa Anda sembunyi di balik nyaman, bukan jujur?
Values:
Murid teladan Yesus Kristus adalah mereka yang paling banyak menderita karena salib.
Kingdom Quotes:
Kesetiaan pada Kristus bukan diukur saat tenang, tetapi saat dunia menuntut kita menyangkal-Nya.