Kita seringkali terlalu fokus pada hal-hal yang kecil dan yang tidak penting, sehingga luput memperhatikan hal-hal yang jauh lebih penting.
Matius 4: 1-11 Pencobaan di Padang Gurun
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. (Matius 4:1-2).
Yesus 100% Allah, tetapi Dia juga 100% manusia. Sekalipun Dia adalah Allah Sang Putra, tetapi ketika menjelma menjadi manusia, maka Dia taat kepada tuntunan Roh Kudus, ini adalah teladan Yesus. Bagaimana dengan kita?
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibrani 4 : 15-16)
Apakah perlunya kemanusiaan Yesus dicobai oleh Iblis dipadang gurun?
Di taman Eden, Adam yang pertama melalui Hawa telah kalah oleh godaan Iblis, sehingga akhirnya semua umat manusia kalah dari Iblis. Namun di padang gurun Adam yang terakhir menang atas godaan Iblis. Kemenangan Yesus memastikan bahwa kitapun akan menang, sehingga kita saat ini melawan Iblis dari posisi menang, bukan dari posisi kalah.
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, 6lalu berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
(Matius 4:3-7)
Di ‘saat-saat tertentu’ dalam hidup kita seringkali iblis datang dengan ‘solusi palsu’. Misalnya di saat kita sedang mengalami kesulitan keuangan, ia menggoda kita dengan pinjaman online yang berbunga sangat tinggi atau dengan judi online.
Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: ”Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: ”Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. (Matius 4:8-11)
Ayat-ayat di atas disimpulkan dalam Yakobus 4:7. Iblis lari dari kita bukan karena kita melawannya, tapi karena kita tunduk kepada Allah. Ketidaktundukan kepada Allah menjadikan kita sekutu Iblis, sebaliknya ketundukan kepada Allah menjadikan kita sekutu Allah yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh Iblis.
KERAJAAN ALLAH BERPUSAT PADA KETAATAN MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. (Matius 4:3-4)
Tujuan Yesus ke padang gurun adalah untuk berpuasa, tetapi Iblis berusaha menggagalkannya. Kalimat di atas diambil Yesus dari kitab Ulangan 8:3. “Untuk membuat engkau mengerti”, jadi fokusnya bukan kepada masalah roti atau makanan, tapi kepada ketaatan kepada Allah.
‘Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan .’ (Ulangan 8: 3)
Kata Yesus kepada mereka: ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yohanes 4 : 34)
Yesus berkata: “Ada makanan yang tidak kamu kenal”, yaitu bukan untuk memuaskan lapar perut kita, tetapi untuk memuaskan rasa lapar kita akan ‘dipuji’, ‘dihargai’ ‘diakui’ ‘dihormati’ yang diharapkan datang dari manusia. Rasa lapar ini tidak bisa dipuaskan oleh manusia, tetapi hanya bisa dipuaskan dengan cara ‘melakukan kehendak Allah’. Jadi makanan sejati yang bisa memuaskan rasa lapar adalah ketaatan kepada Allah.
Timothy Keller mengatakan: Religion: I obey God in order to get things from God. Gospel: I obey God to get God.
KERAJAAN ALLAH ADALAH KERAJAAN DIMANA ALLAH MEMERINTAH DAN BERDAULAT
Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Matius 4:5-7)
Iblis mengutip ayat di atas dari kitab Mazmur 91. Yesus melawan Iblis dengan menggunakan ayat yang ada di Alkitab, yaitu di Ulangan 6:16. Karena itu kita harus membaca Alkitab, agar bisa menang atas godaan Iblis.
Iblis selalu berusaha mengatur skenario Tuhan, dan ia menggoda kita untuk mencoba mengatur skenario Tuhan juga.
Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibrani 4:16)
Ayat di atas berkata tentang waktu Tuhan, tetapi kita sering gagal mengenali kapan waktunya Tuhan. Saat berdoa kita sering mengatur Tuhan. Siapakah sebenarnya yang menjadi hamba, dan siapa Rajanya? Tuhan atau kita? Bukankah sangat jarang kita bertanya “Apa kehendak-Mu?” kepada Raja kita?
HANYA ADA SATU ALLAH SAJA YANG HARUS DISEMBAH
Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: ”Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: ”Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan HANYA kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:8-10)
Tawaran Iblis adalah pertukaran. Sembahlah Dia, maka Dia memberi segalanya. Namun Yesus berkata “HANYA kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Tuhan tidak menuntut kita untuk sekedar melayani, tapi untuk berbakti. Tanpa sadar seringkali kita berbakti kepada hobi atau pekerjaan, bahkan dalam pelayanan di gerejapun dengan motivasi supaya mendapatkan pujian, dan bukan karena sungguh-sungguh berbakti.
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. (1 Petrus 5: 6)
Apa yang dilakukan Yesus di padang gurun adalah memberikan teladan merendahkan diri-Nya, sehingga pada waktunya Ia ditinggikan setinggi-tingginya. Amin. (VW)