FILE SEMENTARA

FILE SEMENTARA 

Bacaan Setahun:

2 Kor. 10
2 Raj. 23:36-24:20
Habakuk 1

“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” (Mazmur 73:1)

Ketika sedang asyik mengerjakan tugas, saya merasakan performa komputer saya melambat; waktu yang diperlukan untuk memanggil dan menyimpan file jadi lebih lama. Seorang rekan menawarkan dua pilihan: komputer kuno saya “dilipat” saja, alias ganti baru; atau dibersihkan dulu dari file sementaranya. Temp file atau file sementara ini adalah file yang dibuat sistem operasi saat perangkat sedang digunakan, yang bisa menumpuk dan memakan ruang disk dan mengakibatkan kinerja perangkat menurun. Setelah pilihan ke dua saya laksanakan, memang benar komputer tersebut bisa bekerja normal kembali.

Pertengahan tahun persiapan sudah kita lewati, berarti di bulan ini idealnya kita sedang berjalan dalam kesalehan. Kasih setia Tuhan memampukan kita memulihkan hubungan, mengampuni pelanggaran, memiliki kerendahan hati dan hidup tidak mementingkan diri sendiri. Setelah melewati pergumulan mencapai hal itu, mungkin masih ada “debris” —sisa reruntuhan, puing atau sampah berupa kelelahan (burnt out), kekecewaan, atau pun kepahitan yang tersisa dan tersimpan di ruang penyimpanan hati kita. Seperti halnya temporary file yang perlu dibersihkan agar perangkat komputer kembali bekerja dengan baik; maka “file sementara” berupa reruntuhan dan sampah rohani tersebut tidak boleh berlama-lama tinggal di hati kita, agar kita dimampukan untuk berjalan dalam kesalehan. Kesalehan, (eusebeia) bukan hanya tentang ritual keagamaan, namun kehidupan yang ditandai penghormatan kepada Allah dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Kesalehan sebagai wujud penghormatan kepada Tuhan dan kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya memang seharusnya terbukti dalam tindakan orang percaya, bukan hanya dalam iman; karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yakobus 2:17). Tindakan iman yang menunjukkan kesalehan ini perlu senantiasa dikembangkan, dengan kata lain, kesalehan memerlukan usaha yang disengaja atau latihan, seperti yang disebutkan dalam 1 Timotius 4:7, “Latihlah dirimu beribadah.” Kata “beribadah” dalam ayat ini diterjemahkan dari eusebeia, yang berarti hidup dalam kesalehan.

Sebagaimana membersihkan “file sementara”, yakni sampah rohani yang dapat menghalangi pertumbuhan hidup yang berpusat pada Kristus; kita juga perlu melakukan “space cleanup” ruang hati dari iri hati dan mementingkan diri sendiri, karena virus tersebut berpotensi mengacaukan sistem dan menimbulkan berbagai macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Karena itu, marilah kita melatih disiplin “bersih-bersih diri” agar mampu tetap hidup dalam kesalehan. (YL)

Questions:

1. Bagaimana kita memaknai “kesalehan” dalam kehidupan sehari-hari?
2. Sikap atau perilaku apa saja yang merefleksikan kesalehan orang percaya?

Values:

Kesalehan terbukti dalam tindakan, bukan hanya dalam keyakinan.

Kingdom Quotes:

Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal. (1 Timotius 4:8)