MENJAGA HIDUP DENGAN MAWAS DIRI

MENJAGA HIDUP DENGAN MAWAS DIRI 

Bacaan Setahun:

Yoh. 1:19-34
1 Taw. 7-8
Zef. 3

“Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1 Timotius 4:15-16)

Masih dalam tema tentang kekudusan, mari kita melihatnya dari perspektif yang berbeda, yaitu bagaimana menjaga diri sendiri melalui sebuah kebiasaan: berani melakukan pengawasan terhadap diri sendiri. Contoh nyata dari sikap ini dikenal dengan istilah mawas diri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mawas diri dijelaskan sebagai tindakan melihat, meninjau, memandang, mengamati, memeriksa, serta mengoreksi diri sendiri secara jujur. Tindakan ini sering juga disebut sebagai introspeksi diri.

Firman Tuhan hari ini menyampaikan pesan melalui Rasul Paulus kepada Timotius yang masih muda, namun sedang bertumbuh dan berkembang dengan potensi luar biasa. Dalam ayat sebelumnya, 1 Timotius 4:12, kita menemukan pesan terkenal: “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” Paulus seolah-olah sedang menasihati Timotius untuk memiliki kepercayaan diri yang benar—tidak rendah diri, tetapi juga tidak sombong. Ia mendorong Timotius untuk menampilkan kualitas hidup yang menjadi teladan: dalam perkataan, perilaku, kasih, kesetiaan, dan kekudusan/kesucian.

Ibarat seseorang yang sedang mengemudikan mobil, Paulus mendorong Timotius (sebagai simbol generasi muda masa kini) untuk maju dengan arah yang benar. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan diri, seperti seorang pengemudi yang sebelum berkendara memeriksa kondisi fisik, kesiapan mental, dan kelayakan kendaraan. Saat berkendara pun, ia tetap memperhatikan spion kiri-kanan, situasi jalan, dan kendaraan lain di sekitarnya—semuanya dilakukan agar perjalanan aman, tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita telah sungguh-sungguh mawas diri? Firman Tuhan menegaskan bahwa tanpa tindakan pengawasan terhadap diri sendiri, hidup dan pelayanan kita mudah keluar dari jalur, bahkan bisa menimbulkan dampak buruk bagi sesama dan komunitas rohani kita.

Bagaimana memulainya? Bangunlah kebiasaan untuk introspeksi diri dengan membangun kejujuran pribadi. Amatilah secara jujur: perilaku dan kebiasaan kita, cara kita berpikir dan merespons emosi, keputusan yang kita ambil, serta kekuatan dan kelemahan kita. Amati hal-hal positif untuk disyukuri dan dikembangkan. Amati hal-hal negatif untuk dibawa dalam doa dan diubah oleh kuasa Tuhan. Siapkah kita membangun hidup yang kudus dengan keberanian untuk mawas diri setiap hari? (HA)

Questions:

1. Sudahkah Anda melatih diri untuk mawas diri setiap hari?
2. Bagian mana dari hidup Anda yang perlu diawasi dan dibenahi di hadapan Tuhan?

Values:

Berani melihat dan mengoreksi diri secara jujur adalah dasar pertumbuhan rohani yang sehat.

Kingdom Quotes:

Mawas diri adalah keberanian tindakan untuk bercermin secara jujur tentang diri kita.