Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. (Ibarni 12:14)
Pursue peace with all people, and holiness, without which no one will see the Lord:
(Hebrew 12:14 – NKJV)
In every relationship be swift to choose peace over competition, and run swiftly toward holiness, for those who are not holy will not see the Lord. (Hebrew 12:14 – TPT)
Kejarlah kekudusan dan rasa puas. Rasa puas (self-satisfaction) membuat kita menjadi kaya. Rasa puas berasal dari bahasa Yunani αὐτάρκεια (autarkeia) terdiri dari 2 dasar kata auto dan arkeo yang berarti puas, cukup dan lebih dari cukup. Yesus cukup bagi kita dan Tuhan juga berfirman kepada Rasul Paulus bahwa: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu…) – (2 Korintus 12:9).
Di dalam ayat pokok kita mengejar kekudusan (Ibrani 12:14) dalam versi TB masih lemah, tetapi dalam versi KJV dipakai kata pursue (Yunani: dioko) yaitu mengejar dengan intensitas yang sangat hebat. Hidup adalah pilihan, kita memilih mengejar kekudusan atau hal-hal yang tidak kudus.
(15) Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang (16) Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. (17) Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata. (Ibrani 12:15-17)
Kita harus dekat, melekat kepada Tuhan dan tidak menjauhkan diri dari kasih karunia-Nya agar tidak akar pahit yang menimbulkan kerusuhan yang mencemarkan diri sendiri dan banyak orang. Esau memiliki nafsu yang rendah karena menukarkan hak kesulungan (dua pertiga warisan) hanya dengan semangkuk sup kacang merah. Sehingga dengan nafsu yang rendah ketika ia bertobat dan sadar tidak adalagi kesempatan untuk memperbaki kesalahannya. Akar pahit yang tumbuh dalam hati diawali dengan tidak adanya rasa puas, kita merasa kurang, kemudian timbul iri hati hingga timbul akar pahit yang membuat kita tidak lagi berfikir sehat dan kehilangan kebenaran. Hidup damai diawali dari hati yang merasa puas dan penuh dengan ucapan syukur. Hal ini adalah peringatan juga buat kita semua untuk memilih mengejar rasa puas dan kekudusan.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup damai dan kekudusan adalah 2 hal yang saling berkaitan.
percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (1 Timotius 6:5-6)
Banyak orang yang berfikir dan mencari keuntungan dari kehidupan yang saleh. Tuhan mati dan bangkit bagi kita tidak untuk membuat kita kaya, tetapi menjadikan kita orang benar. Jadi jika kita hidup dalam kebenaran kita tidak lagi mengejar harta benda, tetapi harta benda yang akan mengejar kita. Kesalehan dan hidup benar jika disertai rasa cukup memberikan keuntungan yang sangat besar.
Sebaliknya, orang-orang yang mengejar kekayaan atau harta benda akan terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Jika kita tidak puas dengan apa yang ada, ditambah berapapun kita tidak akan merasa cukup. Akar kejahatan adalah cinta uang. Ketika seseorang cinta uang lebih dari segalanya maka hal-hal jahat akan muncul dari hidupnya. Sikap seseorang dalam hal keuangan bisa menentukan karakter orang tersebut yang sesungguhnya.
Kerakusan akan menghancurkan banyak orang. Dari kerakusan akan membawa kepada kerusakan moral, sikap dan iman. Dan terakhir akan kerasukan. Jika seseorang sudah dirasuk dengan keserakahan maka ia akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkan. Kita tidak membawa apapun ke dunia ini dan kita pun tidak membawa apa-apa ke luar maka asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Hari-hari ini banyak orang yang terlilit oleh hutang terutama pinjaman online dan bahkan judi online karena gaya hidup yang salah dan ingin terlihat keren.
Bagaimana kita hidup dengan rasa cukup dan memiliki rasa puas:
- CENTERED ON CHRIST (BERPUSAT PADA KRISTUS)
- COUNT YOUR BLESSINGS (HITUNGLAH BERKAT-BERKATMU)
- CONFIDENCE IN GOD’S PROMISES (PERCAYA PADA JANJI-JANJI TUHAN)
Sebagai manusia Allah yang harus kita kejar adalah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
Di dalam kitab 2 Raja-raja 4:1-7 ada kehidupan janda seorang nabi yang hidupnya benar dan takut akan Allah tetapi ketika ia meninggal, ia juga meninggalkan banyak hutang. Janda tersebut beserta anak-anaknya harus menanggung hutang almarhum suaminya. Penagih hutang datang dan ingin mengambil kedua orang anaknya menjadi budak. Janda tersebut melakukan hal yang tepat yaitu mencari seorang hamba Tuhan yaitu Nabi Elisa.
Nabi Elisa bertanya kepada janda tersebut apa yang ada di rumah nya. Tetapi berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” Dari sedikit minyak yang ada, di tangan Tuhan sanggup dilipatgandakan. Nabi Elisa berkata kepadanya: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” Janda tersebut melakukan apa yang dikatakan oleh Nabi Elisa, hingga tidak ada lagi bejana yang kosong dan berhentilah minyak itu mengalir. Pada akhirnya perempuan itu sanggup membayar segala hutang-hutangnya dan hidup dari hasil penjualan minyak tersebut.
Ada hal menarik di dalam Kitab 2 Raja-raja Pasal 4 ini, di ayat ke-8 dan selanjutnya dikisahkan ada seorang wanita yang kaya. Ada 2 hal kontras di wilayah yang sama dan saat yang sama ada wanita yang kekurangan dan ada wanita yang berkelimpahan. Kesejahteraan dan kekudusan harus bekerjasama. Wanita ini selalu mengundang hadirat Tuhan dan memiliki rasa puas dalam hidupnya.
Jika saat ini kita sudah terlanjur terlilit oleh hutang, masih ada harapan untuk kita keluar hari lilitan tersebut. Hutang tidak cukup diselesaikan dengan minta maaf, tetapi harus dibayar dan diselesaikan. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berhenti untuk berhutang. Jangan batasi Tuhan, minta hikmatNya dan kembangkan apa yang ada pada kita serta jaringan yang kita miliki. Bertobat dan ubah gaya hidup kita dengan rasa puas dan cukup maka Tuhan akan memulihkan kehidupan kita. Amin. (RCH).