Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. (Ibrani 12:14).
Berusahalah hidup damai dan berusahalah hidup kudus. Untuk hidup damai dan kudus tidaklah mudah. Pengaruh tekanan ekonomi, bisa membuat orang memilih melakukan hal yang tidak kudus, bahkan hal-hal sederhana seperti antrian di toilet bisa membuat seseorang kehilangan damai.
Diperlukan perjuangan untuk bisa hidup damai dan kudus, untuk itu kita akan belajar beberapa hal berikut:
Hidup Damai dengan Semua Orang
“Sedapat dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma 12:18).
Dalam menjalani kehidupan maka kita pasti akan dihadapkan dengan berbagai tantangan. yang bisa membuat kita kehilangan damai dan kekudusan. Untuk bisa menang, maka kita perlu memandang rencana besar Tuhan, sehingga kita bisa melihat tantangan-tantangan tersebut sebagai hal-hal kecil. Kita dipisahkan dari dosa untuk bisa hidup berkenan di hadapan Tuhan. Hidup berdamai dengan semua orang merupakan keputusan kita.
Mengejar Kekudusan
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8)
Mengejar kekudusan bukanlah hal yang pasif, tapi sebuah usaha aktif. Kata ‘mengejar kekudusan’ menunjukkan komitmen dan konsistensi yang tinggi, sehingga kita bertumbuh dan berbuah. Dan akhirnya kita memiliki karakter yang serupa dengan Kristus. Kekudusan harus dijaga setiap saat, setiap waktu, sepanjang umur hidup kita. Jangan pernah lengah, menjadi gentar atau terpancing untuk melakukan hal yang tidak kudus.
Keintiman dengan Allah
“.. tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Allah.” (Ibrani 12:14)
“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?“. “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. (Mazmur 24:3-4)
Ketika kita memiliki hubungan yang intim dengan Allah, maka kita menjadi dekat dan peka akan suara Tuhan. Keintiman dengan Tuhan tidak mungkin terjadi jika kita masih mengikuti cara-cara dunia. Kekudusan membawa kepada keintiman dengan Tuhan, dan membuat kita bisa mengetahui apa kehendak-Nya dalam hidup kita.
KEKUDUSAN MEMBAWA PERUBAHAN
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)
“Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.”
(1 Tesalonika 4:7)
“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” (Roma 6:12)
Kekudusan membawa beberapa perubahan dalam hidup kita, antara lain:
Keserupaan dengan Kristus.
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.” (Roma 8:29)
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: (1 Petrus 2:9)
Orang hanya bisa melihat Kristus melalui hidup kita, karena kita adalah duta besar-Nya di bumi ini. Kata kudus dalam bahasa Yunani adalah ‘Hagios’ yang memiliki arti dipisahkan untuk tujuan Tuhan. Tuhan memanggil kita dari kegelapan untuk menjadi terang, dan ada perbuatan-perbuatan besar yang sudah Tuhan siapkan dalam hidup kita.
Ibadah Sejati
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)
Ibadah sejati hanya dapat diperoleh melalui kekudusan. Kita harus membangun mezbah, yaitu membangun keintiman dengan Tuhan melalui Firman, penyembahan dan doa. Membangun mezbah tidak selalu mudah karena seringkali berlawanan dengan kedagingan kita yang selalu mengejar kenyamanan.
Hidup dalam Terang Kekudusan.
“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak- anak terang.” (Efesus 5:8)
Dunia dipenuhi dengan berbagai bentuk kegelapan moral dan spiritual. Kegelapan tidak hanya berbicara tentang percabulan atau perzinahan, tapi juga sikap hati, misalnya kesombongan, yang akan muncul sebagai kata-kata kotor. Karena itu kita harus meninggalkan dan tidak mengingat lagi kegelapan hidup di masa lalu, tetapi terus mengisi pikiran dengan hal-hal yang baik dan suci seperti di Filipi 4:8.
Mendapat Bagian dalam Kerajaan Allah
“…tidak ada orang sundal, orang cemar, atau orang serakah yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” (Efesus 5:5)
Untuk mendapat bagian dalam kerajaan Allah, maka kita harus menjauhkan hal-hal cemar dari hati kita, seperti kemarahan, iri hati, kesombongan dan keserakahan. Saat kita disalah mengerti atau diintimidasi, apakah kita masih bisa menguasai diri untuk tidak terlibat konflik, namun apakah justru sebaliknya yaitu memberkati?
Panggilan untuk hidup kudus, adalah sangat serius, mendesak dan berlangsung terus menerus. Mari menjadi pribadi yang membawa kemuliaan bagi Allah. Amin. VW.