(1) Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran. (2) Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. (3) Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. (4) Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran. (3 YOHANES 1:1-4)
Hidup dalam kesalehan adalah hidup berjalan di dalam kebenaran. Sebagai pemimpin dan orang tua serta kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita tentunya ingin setiap orang yang dipimpin atau anak-anaknya mengalami hidup yang makmur roh, jiwa dan tubuh yaitu baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu. Kesehatan bukanlah segalanya, tetapi tanpa kesehatan, segalanya menjadi sia-sia.
Ada hal yang sangat menarik ketika diadakan sebuah survey negara-negara paling berbahagia di dunia (The Happiest Nations in The World) adalah negara-negara yang berada di Skandinavia dan Indonesia menduduki peringkat ke-83. Ukurannya adalah adanya jaminan sosial, tingkat korupsi rendah dan ada kedamaian (tidak suka ribut). Tetapi ada survey lain yang mengukur tingkat kebahagiaan meskipun tidak memiliki banyak uang. Uang memang diperlukan, tetapi uang tidak menentukan kebahagiaan seseorang. Dan Indonesia ternyata menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling berbahagia tanpa indikator finansial.
70% Penduduk Indonesia adalah suku Jawa. Ada falsafah suku Jawa yaitu:
Sugih tanpa bandha (kaya tanpa harta benda)
Digdaya tanpa aji (kuat tanpa kesaktian)
Nglurug tanpa bala (menyerang tanpa bala tentara)
Menang tanpa ngasorake (menang tanpa menghancurkan)
Dengan falsafah-falsafah inilah bangsa Indonesia bisa menduduki peringkat teratas negara dengan penduduk paling bertumbuh tanpa atau dengan indikator finansial. Falsafah-falsafah ini juga mendorong seseorang memiliki rasa puas (MAREM). Rasa puas ada di dalam hati seseorang. Biarlah rasa puas ini juga ada di dalam hati kita sebagai warga Kerajaan Allah.
Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang paling berbahagia adalah orang yang diampuni dosanya dan tidak diperhitungkan pelanggarannya. Sejauh Timur dari Barat artinya tanpa batas, Tuhan sudah membuang segala dosa-dosa kita bahkan Ia juga memulihkan hidup kita.
Ada 3 Berkat dari Rasa Puas, yaitu
GREAT STRENGTH (KEKUATAN YANG BESAR)
Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” (YOHANES 14:8)
Dunia tidak bisa memberikan kepuasan. Kepuasan hanya didapat di dalam Yesus. Apakah ada rasa bahagia atau puas di dalam kehidupan kita saat ini? Dunia harus bisa melihat kebahagiaan kita sebagai warga Kerajaan Surga karena kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh situasi dan kondisi di sekitar kita. Kita harus tetap bersukacita, berbahagia dan menunjukkan rasa puas karena Tuhan yang ada di dalam kita lebih besar dari segala persoalan yang kita alami, itulah yang memberikan kekuatan besar yang tidak terkalahkan dan tidak akan gagal untuk kita menjalani hidup ini. Yang merusak di dunia ini adalah kerakusan, tetapi pengenalan kita akan Tuhan itulah yang sanggup memuaskan kita.
Dalam pertumbuhan kepada kebajikan, iman saja tidak cukup. Kita harus dengan sungguh – sungguh menambahkan kepada iman kita kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Untuk mencapai semuanya itu diperlukan rasa puas dan hanya Yesus yang mampu memberikan dan menambahkannya di dalam hidup kita. Tanda orang yang merasa puas adalah orang yang selalu mengucap syukur.
GREAT GRACE (KASIH KARUNIA YANG BESAR)
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 KORINTUS 12:9)
Kekayaan tanpa harta benda adalah bukti bahwa kebahagiaan kita tidak ditentukan dengan apa yang kita miliki, sebab jika saat ini kita tidak bahagia, dengan kekayaan sebesar apapun kita juga akan merasa tidak bahagia. Terkadang masih ada ‘duri di dalam daging’ yang masih tertancap di dalam hidup kita agar kita tidak menjadi sombong, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna di dalam kehidupan kita.
GREAT GAIN (KEUNTUNGAN BESAR)
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
(1 TIMOTIUS 6:6)
Ajaran sesat selalu mengajarkan bahwa kehidupan saleh adalah sumber keuntungan. Mereka yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, akan mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Ini adalah pengajaran – pengajaran yang berpusat pada manusia dan diri sendiri. Tetapi ibadah akan memberi keuntungan besar jika disertai dengan rasa cukup. Salah satu akar kejahatan adalah cinta akan uang dan orang yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Sebaliknya, sebagai manusia Allah kita harus mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Hiduplah dalam nilai – nilai Kerajaan Allah maka hidup kita akan bertumbuh menuju kemuliaan dan hidup yang kekal. Amin. (RCH).