WE WILL, BECAUSE HE CAN
Bacaan Setahun:
Yoh. 13:21-38, 2 Taw. 19, Mzm. 78:38-55
“Kemudian dia berkata kepada murid-muridnya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit; sebab itu, mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:37-38)
Bulan lalu kita merayakan hari kemerdekaan. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan pahlawan bangsa kita. Sejak itu kita menyebut diri kita warga negara Indonesia. Untuk kita orang percaya, semestinya kita merayakan kemerdekaan kita setiap hari, karena kita telah ditebus dari kebinasaan absolut lewat pengorbanan Yesus yang lebih dari perjuangan pahlawan bangsa ini. Karena itulah, kita bisa menyebut diri kita warga Kerajaan Allah.
Lalu, bagaimana seharusnya kita menghidupi kemerdekaan yang sangat mahal ini? Meski kita menerimanya secara cuma-cuma, Yesus membayar harga yang sangat mahal. Sebagai warga negara Indonesia, kita kan tidak hanya sekadar duduk santai dan menunggu bantuan pemerintah, bukan? Kita belajar, bekerja, dan berusaha untuk hidup dengan layak. Demikian pula sebagai warga Kerajaan Allah, tentu kita juga harus aktif dan bertanggung jawab. Tuhan pasti memelihara kita—karena Dia Raja yang sempurna. Tetapi kita tidak dipanggil untuk hidup pasif, hanya menunggu “manna” jatuh dari langit. Sebenarnya waktu itu bahkan bangsa Israel juga harus berjalan di bawah terik matahari gurun, dengan ketaatan total, meninggalkan Mesir menuju tanah yang cuma pernah mereka dengar. Tidak hanya sulit, tetapi juga lama (40 tahun). Jadi setiap orang punya bagiannya dalam perjuangan hidup.
Yesus pernah mengumpamakan kita sebaga petani. Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil panen tertentu, apakah dia akan asal comot benih? Pasti dia mencoba menemukan benih terbaik yang bisa didapatkanya dengan usaha maupun uang, kemudian bekerja keras untuk memastikan dia mendapatkan hasil yang baik untuk menanam musim berikutnya dan untuk hidup. Apabila dia tidak menabur apakah dia akan menuai? Jika dia menanam biji apel, apakah bisa dia mengharapkan panen jeruk? Kadang inilah yang terjadi di sekitar kita. Orang melakukan sangat sedikit dan mengharapkan banyak balasan. Atau ada yang mengharapkan untuk menerima kebaikan dan pengampunan sementara mereka sendiri tidak mengampuni dan tidak pernah menolong.
Mari kita menjadi petani yang baik untuk membuat Yesus tersenyum. Kalaupun sudah menabur selama bertahun-tahun tapi belum melihat hasilnya, marilah kita terus melakukannya dengan setia. Karena harapan kita ada pada Tuhan—Allah yang sanggup dan akan memberikan pertumbuhan, kapan pun Dia kehendaki. (SO)
Questions:
1. Sudahkah anda menemukan ladang anda?
2. Apa saja yang kita bisa usahakan dalam mengolah ladang tersebut?
Values:
Karena penebusan, kita mau. Karena kita mau, Tuhan memampukan dan memberikan hasil.
Kingdom Quotes:
Apabila seorang petani tidak menabur, tidak sepantasnya dia marah apabila tidak ada tuaian.