Pekerjaan, bisnis dan pelayanan, akan terasa berat jika dilakukan sebagai kewajiban dan ritual, tetapi jika dijalani bersama Yesus akan terasa ringan. Apa yang saya khotbahkan ini adalah perjalanan Kristus dalam kehidupan kami.
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. (2 Petrus 1:3)
Kita menjalani hidup saleh bukan supaya menjadi saleh, tetapi karena kita adalah anak Tuhan, maka adalah normal bagi kita untuk hidup saleh. Sebagaimana halnya burung yang terbang bukan supaya diakui sebagai burung, tetapi karena terbang adalah hal yang normal bagi seekor burung.
Penyembahan yang sejati tidak dibuktikan dengan kita berdoa, memuji atau menyembah, tetapi melalui respon hidup kita. Ketika kita dihina, difitnah, direndahkan, apakah tetap mengasihi orang yang memperlakukan kita sedemikian rupa? Ritual-ritual tidak membuktikan bahwa kita ada di dalam Kristus, tetapi yang membuktikan adalah respon kita untuk tetap mengasihi saat diperlakukan tidak baik.
Di Yohanes 14:8 Filipus berkata: ”Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”. Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Untuk benar-benar bisa mengenal Yesus, maka kita harus melalui jalan yang dilalui Yesus, jika tidak demikian, maka kita hanya akan mengenal Yesus dari apa kata orang saja. Seperti halnya ada banyak orang yang sekedar tahu tentang Bapak Presiden Prabowo, tetapi sedikit sekali yang benar-benar mengenal beliau secara dekat.
Ketika kita dihina atau direndahkan, siapakah yang menjadi Tuhan kita? Apakah Yesus atau ego kita? Ikutilah teladan Yesus yang berani mati untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Yesus sangat taat dan hormat kepada Bapa-Nya. Di dalam Yesus sangat nyata keputraan-Nya dan juga sangat nyata kasih Bapa dalam Dia. Bisa dikatakan sebagai ‘Putra rasa Bapa’ dalam Yohanes 14:6-10.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)
Frase ‘carilah dahulu kerajaan Allah’, memiliki arti ‘carilah dulu pemerintahan Allah’. Di dalam kerajaan Allah, Roh Allah yang memerintah. Hiduplah dengan dipimpin oleh Roh Allah dengan cara menyangkal diri (sebagai bukti kasih kita kepada Bapa) dan memikul salib (sebagai bukti kasih kita kepada sesama). Saat kita bersedia menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, maka dengan sendirinya buah Roh akan keluar dari hidup kita. Kata ‘bertobatlah’, memiliki arti ‘taklukkan kedaginganmu untuk mengalami Tuhan’ dalam hidupmu.
Matius 22:36-40 berbicara tentang hukum yang terutama dan Yesus adalah Tuhan atas semua hukum. Ketika lampu merah sedang menyala di persimpangan jalan, namun polisi memerintahkan kita untuk berjalan terus, yang mana yang akan kita ikuti? Tentu saja polisi, karena polisi memiliki otoritas di atas lampu merah yang sedang menyala tersebut. Lampu merah menggambarkan tentang hukum Taurat, dan polisi menggambarkan pribadi Kristus.
Kita harus memilih, apakah berpikir dengan cara dunia atau dengan cara Kristus. Jangan sampai kita berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu…”, tetapi saat masalah datang, yang keluar dari hidup kita bukannya nilai-nilai Kerajaan Allah, malahan keinginan pribadi kita.
‘Makan roti hidup’ sama artinya dengan ‘memakan Kristus’, yaitu menghidupi Kristus dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita menjadi kebenaran Allah dan buah Roh ada dalam hidup kita. Menjalani Kristus dalam hidup kita seringkali terasa menyakitkan dan tidak adil, tetapi jika dijalani akan mendatangkan kemuliaan Allah dalam hidup kita.
Penyingkapan kerajaan Allah hanya akan terjadi saat kita menjalani kehidupan Kristus. Orang bisa berkata pesawat F35 sangat canggih, tetapi hanya orang yang masuk ke kokpit dan mengendarainya sendiri, yang bisa benar-benar merasakan kecanggihannya.
Jangan pernah takut gagal, karena status kita adalah ‘lebih dari pemenang’. Kita akan sering mengalami seolah-olah kalah, bahkan mungkin saja perhitungan kita salah, tetapi jika kita berjalan bersama Kristus, kita bisa dibuat benar (dibenarkan) oleh Tuhan.
Salah satu ciri orang yang dekat dengan Kristus adalah ketika orang-orang yang berada di dekatnya tidak akan merasa dihakimi. Lemah lembut dan rendah hati, menyangkal diri dan memikul salib ada pada Kristus. Dan tokoh-tokoh Alkitab seperti Nuh, Abraham, Yusuf dan Daud semuanya memiliki ciri-ciri ini dan mereka hanya mengikuti tuntunan Tuhan dalam hidup mereka.
Kita harus menaklukkan diri kepada kehidupan Kristus. Sebaliknya jika kita tidak menjalani kehidupan Kristus dan hanya berputar-putar di ritual keagamaan, akibatnya akan sangat melelahkan. Miiliklah pengertian bahwa mengembalikan persepuluhan bukan supaya kita diberkati, tetapi karena memiliki hati yang lemah lembut dan taat kepada Tuhan.
Bagaimana jika kita mengajar orang bertahun-tahun tapi tidak ada melihat perubahan? Di sinilah diperlukan kasih Kristus. Memberikan pakaian ke bedeng-bedeng orang miskin tidak sulit dilakukan, tetapi ketika kita melihat sesama yang jatuh ke dalam dosa, apakah kita ‘memberikan pakaian’ kita atau kita justru menelanjangi mereka melalui gossip? Demikian pula, kegiatan berkunjung ke penjara secara fisik mudah dilakukan, tetapi untuk ‘membebaskan orang yang dipenjara’ (divonis bersalah) dari dalam pikiran kita, apakah kita bisa melalukannya?
Untuk berjalan di dalam kesalehan, janganlah kita berfokus pada perkara-perkara jasmani, tetapi kepada perkara rohani. Jalanilah kehidupan Kristus, yaitu kehidupan yang tidak dikendalikan oleh nafsu kedagingan, tetapi yang dipimpin dan dikendalikan oleh Roh Kudus. Amin. (VW).