JANGAN HIDUP SEPERTI ILALANG, HIDUPLAH SEPERTI GANDUM
Bacaan Setahun:
Wahyu 19, Yes. 5-6, Mzm. 109:20-31
“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar, kemudian kumpulkanlah gandumnya ke dalam lumbungku.” (Matius 13:30 – TB)
Pernahkah kita berpikir, mengapa Tuhan membiarkan orang jahat tetap hidup bebas dan bahkan terkadang tampak lebih sukses? Sementara kita yang berusaha hidup benar, jujur, dan setia kepada Tuhan justru sering mengalami tantangan serta rasa tidak adil. Ternyata, pertanyaan itu sudah dijawab Yesus melalui perumpamaan tentang gandum dan ilalang.
Yesus berkata, di ladang Tuhan ada gandum dan ada ilalang. Keduanya tumbuh bersama, bahkan sekilas terlihat sama. Namun, suatu hari nanti, ketika masa panen tiba, barulah nyata perbedaannya: gandum dikumpulkan untuk disimpan di lumbung, sedangkan ilalang dikumpulkan untuk dibakar. Menakutkan, bukan? Namun, itulah realitasnya.
Yang menarik, Yesus berkata: “Biarkan keduanya tumbuh bersama…” Artinya, Tuhan mengizinkan yang baik dan yang jahat sama-sama hidup di dunia ini. Tetapi bukan karena Tuhan tidak peduli, melainkan karena Ia sabar. Tuhan tidak mau kita menjadi hakim atas orang lain. Tugas kita bukan mencabut ilalang, melainkan memastikan diri kita bertumbuh sebagai gandum sejati.
Namun menjadi gandum tidaklah mudah. Gandum harus ditanam dengan sengaja. Tidak bisa tumbuh sembarangan. Harus ada yang menyiapkan tanah, menanam benih, menyiram, dan merawatnya. Sementara ilalang? Ia dapat tumbuh liar tanpa perawatan. Benihnya mungkin terbawa angin, menempel pada kaki burung, lalu jatuh dan bertumbuh.
Demikian pula hidup orang benar—tidak pernah terjadi otomatis. Dibutuhkan keputusan setiap hari untuk tetap setia, jujur, sabar, dan berbuah. Ada proses, air mata, bahkan perjuangan. Sebaliknya, hidup yang asal-asalan, ikut arus dunia, tidak memerlukan usaha apa pun—sudah dapat “tumbuh” sendiri. Tetapi hati-hati, tidak semua yang tampak subur bernilai di hadapan Tuhan. Tidak semua yang kelihatan kuat akan masuk lumbung Tuhan. Banyak yang justru akan dibakar, sebab tidak memiliki isi yang sejati.
Karena itu, janganlah kita hidup seperti ilalang—tanpa arah, tanpa buah, dan akhirnya dibuang. Lebih baik kita berjuang menjadi gandum sejati. Walaupun sulit, itulah hidup yang berkenan, berharga, dan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Pada akhirnya, bukan siapa yang paling cepat tumbuh yang dipanen, melainkan siapa yang bertumbuh dengan benar dan berakar kuat di dalam Kristus. (DD)
Questions:
1. Apakah hidup rohani Anda dituntun Tuhan atau sekadar ikut arus dunia?
2. Dalam bagian hidup Anda saat ini, di manakah Anda perlu berjuang lebih sungguh agar berbuah seperti gandum?
Values:
Hidup sebagai gandum tidaklah mudah, namun bernilai di hadapan Sang Raja karena di dalamnya ada proses, kesetiaan, dan buah yang nyata.
Kingdom Quotes:
Jangan tergoda hidup seperti ilalang—meski tampak tumbuh, namun tanpa nilai, arah, dan akhirnya hanya layak dibakar.