Living as Citizens of Heaven | Pdt. Yusuf Sutrisno

(20) Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. (Filipi 3:20)

Warga Kerajaan Sorga adalah orang-orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pertobatan dan lahir baru serta menerima Yesus dalam hidup juru selamat secara pribadi menjadi momen kita menjadi warga Kerajaan Sorga. Dalam Kristus, ada jaminan keselamatan dan hidup yang kekal. Sebagai anak-anak Allah, hidup dalam pertobatan dengan sungguh-sungguh adalah ciri dari identitas kita. Pertobatan harus disertai dengan perubahan.

(7) “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”.  (Flipi 3:7-8)

Rasul Paulus menanggalkan segala kehormatan, jabatan, dan kekayaan yang dimilikinya karena karena pengenalan akan Kristus Yesus. Akhir-akhir ini, banyak orang-orang yang berhasrat tinggi untuk memiliki kehormatan, jabatan, dan kekayaan. Ketamakan mendasari hal tersebut sehingga orang-orang mengingininya yang menyebabkan kehancuran dunia.

(23) “Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka” (Yesaya 1:23)

Kesejahteraan kota tergantung juga pada kehidupan orang percaya sebagai warga Kerajaan Sorga. Apabila ada orang percaya yang tidak pernah berdoa, makan menjadi pertanyaan akan identitas kewarganegaraannya apakah dari sorga atau tidak?. Hidup seorang warga Kerajaan Sorga hendaknya bergantung dan berpusat kepada Tuhan. Maka, ia perlu mengetahui akan 3 hal penting yang harus dipahami sebagai warga Kerajaan Sorga, yaitu:

  1. HIDUP BERPUSAT PADA TUHAN

 “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Matius 6:10)

Hidup orang percaya harus berpusat kepada Tuhan dan bukan pada pekerjaan dan usaha sebab pekerjaan dan usaha bersifat dinamis. Tetapi, ketika kita memusatkan hidup kepada Tuhan, sekalipun naik dan turun Ia menyediakan berkat yang melimpah melalui hikmat yang dicurahkan-Nya atas kita.

  • Memiliki Pengharapan Kekal

Orang Kristiani memiliki pengharapan dan masa depan yang gilang gemilang karena Kristus hidup. Kita tidak akan dikecewakan, carilah kehendak Allah dan bukan kehendak dunia.

  • Mencerminkan Nilai-Nilai Surgawi di Bumi

Atmosfer surgawi harus terwujud di lingkup gereja, rumah dan komunitas sehingga orang lain merasakan damai sejahtera, sukacita dan murah hati.

  • Hidup Diberkati dan Menjadi Berkat (Hidup Kaya/ Penuh Makna)

Seorang warga kerajaan yang diberkati Tuhan hidupnya harus menjadi berkat bagi banyak orang.

  1. MENGHORMATI SANG RAJA

(2) “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2)

Orang Kristiani tidak boleh serupa dengan dunia. Jika dunia suka bertengkar, kita tidak boleh bertengkar. Kita harus diperbarui oleh akal budi yang memampukan kita untuk mengenal kehendak Allah atas hidup kita dan mewujudkan suasana surga di bumi.

Tindakan menghormati Sang Raja dapat diwujudkan melalui tindakan warga Kerajaan yang senantiasa hidup dalam ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati adalah memberi hidup sepenuhnya bagi Tuhan jadi dalam keadaan apapun, susah atau senang tetap setia (komitmen) kepada Tuhan.

  1. TUNDUK KEPADA PERKATAAN RAJA

(22) Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (Yakobus 1:22)

 (21)  “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”.  (Yohanes 14:21)

Firman Tuhan ya dan amin karena Firman Tuhan adalah perkataan Sang Raja. Tunduk kepada Firman Tuhan bukanlah sekedar konsep, tetapi sebuah tindakan yang melibatkan hati, pikiran, dan perbuatan. Agar Firman itu terjadi di dalam hidup kita harus tunduk pada Firman Tuhan. Ketundukan adalah pondasi Iman Kristen yang kokoh karena janji-janji Tuhan pasti digenapi. (AH)