TETAP TINGGAL DI KAPAL
Bacaan Setahun:
2 Tim. 3, Yer. 9-10, Mzm. 123
“Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajuritprajuritnya: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.” (Kisah Para Rasul 27:30-31)
Salah satu hak istimewa serang warga negara adalah hak perlindungan hukum. Hak inilah yang dipergunakan oleh Rasul Paulus ketika ia merasa diperlakukan tidak adil oleh pengadilan lokal. Rasul Paulus ditangkap di Yerusalem karena dituduh melawan hukum Taurat dan mencemarkan Bait Allah (Kisah Para Rasul 21:28). Sidang di hadapan Sanhedrin, gubernur Felix, lalu Festus, tidak menemukan kesalahan yang layak dihukum mati atau dipenjara (Kisah Para Rasul 25:25; 26:31–32), tetapi, orang Yahudi terus menuntut dan berusaha membunuh Paulus (bahkan membuat komplotan untuk menghabisinya).
Sebagai warga negara Romawi, ia menggunakan haknya untuk mengajukan perkara langsung ke Kaisar (banding ke Roma). Maka ia dikirim sebagai tahanan bersama narapidana lainnya. Perjalanan ke Roma bukan saja strategi hukum yang diambil Rasul Paulus, tetapi juga bagian dari rencana Allah supaya Injil diberitakan di Roma. Perjalanan ke Roma harus dilalui dengan transportasi laut. Pada masa itu, perjalanan laut sangat dipengaruhi musim. Musim dingin dan musim badai yang terkadang berbahaya bagi pelayaran karena angin ganas dari arah timur laut. Paulus sudah memperingatkan bahwa perjalanan akan berbahaya, tetapi perwira lebih percaya pada jurumudi dan nahkoda dari pada perkataan Paulus.
Di tengah-tengah pelayaran mereka diterpa badai yang dahsyat selama 14 hari, sehingga kapal terobang-ambing dan kehilangan harapan, tetapi Paulus mendapat penyataan dari malaikat Tuhan bahwa semua penumpang akan selamat, meski kapal harus karam. Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.” Sebagai sorang pemimpin rohani, Rasul Paulus memperingatkan dengan berani, walau ia hanya seorang tahanan. Tetap tinggal di kapal artinya tetap setia, taat, ada kesatuan hati dan terus berpegang pada firman Tuhan meski badai datang. Demikianlah mereka semua yang tinggal di kapal selamat naik ke darat.
Dalam kehidupan kita sebagai warga Kerajaan Allah, kita pun memiliki hak istimewa di hadapan Sang Raja. Sekalipun kita harus melewati gelombang kehidupan asalkan kita tetap tinggal dalam rencana-Nya, ada kesatuan hati dan taat pada firman-Nya maka gelombang sebesar apapun dalam hidup kita akan kita hadapi bersama Tuhan. Janji Tuhan bahwa semua akan selamat bukan berarti kita bisa bertindak sembarangan. Sebagai seorang pemimpin kita juga dipanggil untuk menyuarakan kebenaran, meski tidak populer. (RSN)
Questions:
1. Apakah hak istimewa kita sebagai warga Kerajaan Sorga?
2. Bagaimana rencana Tuhan tergenapi dalam hidup kita?
Values:
Rencana Tuhan bagi hidup orang percaya tidak pernah gagal sekalipun harus melewati badai topan yang ganas sekalipun asalkan tetap setia, taat dan berpegang pada firman-Nya.
Kingdom Quotes:
Keselamatan hanya ada bila kita tetap tinggal dalam rencana Tuhan, ada kesatuan hati dan taat pada firman-Nya.