MASIH ADAKAH IMAN DI BUMI?

MASIH ADAKAH IMAN DI BUMI? 

Bacaan Setahun:

2 Tim. 4, Yer. 11-12, Mzm. 124

“Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Lukas 18:8)

Ayat bacaan hari ini berbicara tentang permohonan dalam doa yang dilakukan tanpa putus asa. Namun penekanan Tuhan Yesus bukanlah sekadar pada iman yang yakin saat berdoa, melainkan iman yang tetap teguh kepada Kristus dalam situasi akhir zaman. Yesus menutup pengajaran-Nya dengan sebuah pertanyaan yang menggugah, “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Situasi akhir zaman tentu tidak ideal. Kitab Suci menggambarkannya dengan tandatanda perang, bencana alam, serta keadaan dunia yang semakin mencekam. Dalam kondisi demikian, pertanyaan Yesus menjadi sangat relevan bagi kita semua: masih adakah iman yang teguh di bumi? Kenyataannya, iman orang percaya sering kali goyah karena berbagai hal. Ada yang goyah karena dikecewakan oleh sesama orang Kristen. Tidak sedikit yang berkata, “Kalau begini sikap orang Kristen, lebih baik saya mundur.” Padahal iman sejati tidak boleh bergantung pada manusia, sebab manusia dapat mengecewakan, tetapi Kristus tidak pernah mengecewakan. Ada pula iman yang goyah karena kekecewaan terhadap Tuhan. Banyak yang merasa doa mereka tidak dijawab atau jawaban datang terlalu lama. Kita lupa bahwa kehendak Tuhan selalu sempurna, bahkan ketika jawaban-Nya tampak terlambat. Waktu Tuhan tidak pernah salah, dan rencana-Nya selalu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.

Yesus tidak mencari iman yang hanya kuat ketika situasi baik, tetapi iman yang tetap teguh meskipun keadaan sebaliknya. Iman yang kokoh lahir dari dua hal penting. Pertama, dari pengalaman nyata bersama Allah. Mazmur 34:9 berkata, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu!” Semakin sering kita mengalami penyertaan dan pertolongan-Nya, semakin kokoh pula iman kita. Kedua, dari pemahaman yang benar tentang identitas kita sebagai anak Allah dan warga Kerajaan Surga. Hidup ini bukan sekadar untuk kenyamanan sementara, melainkan untuk tujuan kekal. Rasul Paulus menghayati hal ini dengan berkata, “Hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).

Pertanyaan Yesus masih relevan hingga hari ini: “Jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Mari kita waspada, jangan sampai iman kita rapuh oleh manusia atau situasi. Biarlah iman kita semakin teguh karena mengalami Allah dan memahami tujuan hidup sebagai anak-anak-Nya. (DD)

Questions:

1. Apakah iman Anda selama ini mudah goyah karena kekecewaan pada orang Kristen atau karena doa yang terasa tak terjawab?
2. Bagaimana Anda bisa semakin mengalami Allah secara pribadi dan hidup sesuai panggilan sebagai anak Allah?

Values:

Sang Raja mencari iman yang tetap setia, bukan iman musiman yang goyah oleh situasi.

Kingdom Quotes:

Iman teguh lahir dari pengalaman bersama Kritus dan pemahaman akan tujuan hidup kekal sebagai anak Allah.