MENTALITAS LATAH
Bacaan Setahun:
Titus 3, Yer. 17-18, Mzm. 127
“Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan.” (Keluaran 23:2)
Binatang bebek seringkali digunakan sebagai contoh mahluk hidup yang mudah diarahkan karena fenomena perilakunya yang mengenali objek pertama yang dilihat setelah menetas dan secara naluriah ia akan selalu mengikuti objek tersebut. Kita juga pernah mendengar istilah ‘sindrom bebek,’ yang dipakai untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlihat tenang, namun di dalam dirinya ada gejolak pergumulan yang tak terlihat. Selain itu ada istilah ‘membebek,’ ungkapan ini dipakai untuk menunjuk orang yang sekedar mengikuti perilaku atau trend tertentu tanpa pikir panjang alias latah. Misalnya seorang pengendara motor memotong jalur mobil di belokan, ketika ia berhasil lolos lewat antrian mobil, maka pengendarapengendara lain membebek melakukan manuver yang sama tanpa memedulikan laju mobil berikutnya, keselamatan diri sendiri atau pun orang lain.
Sebagai ‘homo socius’ (mahluk sosial) dan ‘homo educandum’ (mahluk pembelajar), manusia cenderung meniru lingkungan sekitarnya, namun kecenderungan ini tidak selalu membawa dampak positif. Seringkali manusia justru tergoda meniru perilaku salah, terutama jika tindakan tersebut dianggap memberi keuntungan atau diterima secara luas oleh masyarakat. Hal ini sering terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya kecurangan saat ujian, korupsi di lingkungan kerja, bahkan pelanggaran lalu lintas. Ketika pelanggaran tidak mendapat konsekuensi serius dan dianggap wajar, maka timbul dorongan untuk ikut-ikutan.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12), berarti setiap warga Kerajaan harus waspada dan tidak sekadar ikut-ikutan melakukan perbuatan yang sebenarnya melanggar perintah Tuhan, yang telah mengajarkan kita untuk masuk melalui jalan yang sempit dan benar, bukan jalan yang lebar yang diikuti banyak orang tetapi menuju kebinasaan (Matius 7:13). Ayat ini juga menegaskan bahwa mayoritas tidak selalu benar, karena kebenaran ditentukan oleh prinsip ilahi yang teguh, yakni panggilan untuk hidup berbeda menjadi terang dan garam dunia, tidak mengikuti arus dunia.
Di bulan ‘Memelihara Semangat Ketekunan’ ini, tantangan orang percaya adalah menjadi pribadi yang teguh dalam kebenaran, terutama ketika lingkungan justru mendesak kita untuk berkompromi. Kita memerlukan kekuatan dari Tuhan untuk memelihara semangat ketekunan dan keteguhan hati, sehingga kita mampu berdiri melawan arus dan menjadi teladan yang baik, bukan latah meniru yang tidak benar. (YL)
Questions:
1. Mengapa mentalitas ikut-ikutan dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari?
2. Apa saja alasan seseorang meniru perilaku orang lain meskipun ia tahu perilaku tersebut salah?
Values:
Panggilan orang percaya adalah menjadi terang dan garam dunia.
Kingdom Quotes:
Dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. (Roma 5:4)