MELINTASI PADANG GURUN

MELINTASI PADANG GURUN 

Bacaan Setahun:

Yak. 2, Yer. 23-24, Mzm. 130

“Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.” (Ulangan 8:2)

Kita sering mendengar ungkapan, “Dibutuhkan empat belas hari perjalanan untuk membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi dibutuhkan empat puluh tahun untuk mengeluarkan Mesir dari pola pikir bangsa Israel.” Jika dilihat dari segi geografis, perjalanan dari Mesir (daerah Gosyen, di sekitar delta Sungai Nil timur laut) menuju Tanah Kanaan (sekitar Hebron atau Yerikho) sebenarnya tidak terlalu jauh. Jarak lurusnya kirakira 390–400 kilometer, tergantung titik awal dan tujuan. Rata-rata orang zaman itu dapat berjalan sekitar 20–25 kilometer per hari dalam rombongan besar, termasuk anak-anak dan ternak. Jadi, secara teori, perjalanan itu dapat ditempuh dalam 11–14 hari. Namun karena ketidaktaatan, ketidakpercayaan, dan pemberontakan bangsa Israel, Allah membawa mereka berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun sebelum memasuki tanah yang dijanjikan (Bilangan 14:33–34).

Walaupun mereka telah keluar dari Mesir, “Mesir” masih tinggal dalam hati dan pikiran mereka. Mereka telah melihat bagaimana tangan Tuhan yang kuat membebaskan mereka dengan tanda-tanda ajaib dan kuasa besar, namun pola pikir budak yang suka bersungut-sungut, takut, dan tidak percaya kepada janji Tuhan masih melekat di dalam diri mereka.

Perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian merupakan gambaran kehidupan orang percaya di dunia ini. Padang gurun adalah tempat penuh ujian, bukan hanya secara fisik tetapi juga rohani. Bahayanya bukan sekadar kekurangan air, makanan, atau serangan binatang, melainkan kebosanan, ketidakmampuan bersyukur, dan pemberontakan terhadap otoritas. Tuhan dengan sengaja membawa bangsa Israel melalui padang gurun untuk merendahkan hati mereka dan mengajarkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman Tuhan. Pakaian mereka tidak rusak dan kaki mereka tidak bengkak selama empat puluh tahun. Tuhan mendidik mereka seperti seorang ayah mendidik anaknya dengan penuh kasih dan kesabaran (Ulangan 8:1–5).

Tuhan tidak hanya ingin membawa bangsa Israel ke tanah perjanjian, tetapi juga mempersiapkan mereka secara mental, rohani, dan karakter agar siap menjadi umat perjanjianNya. Jika saat ini keadaan kita seolah-olah sedang berada di padang gurun bukanlah tanpa tujuan. Sebaliknya, padang gurun adalah “alat uji” yang digunakan Allah untuk mengembangkan ketekunan dan pendewasaan rohani sehingga kita menjadi pribadi-pribadi yang mudah bersyukur dan memiliki pengharapan yang kokoh pada janji-janjiNya. (RSN)

Questions:

1. Seberapa lama perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan Tuhan?
2. Mengapa mereka harus berputar dan mengembara di padang gurun?

Values:

Padang gurun adalah tempat Allah membentuk ketekunan dan kedewasaan rohani agar kita belajar bersyukur dan tetap teguh pada janji-Nya.

Kingdom Quotes:

Melihat mujizat tidak menentukan kedewasaan rohani kita di hadapan Tuhan.