AI and I

AI and I 

Bacaan Setahun:

1 Pet. 2
Yer. 33-34
Mzm. 135

“… tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul …. setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.” (1 Yohanes 4:1-3)

Pernah melihat hoax yang dirakit AI? Kedengarannya sangat masuk akal, bahkan disertai fakta yang valid, dirajut sedemikian rapinya untuk menipu. Kerugian yang difasilitasi konten buatan AI mencapai 30% dari penipuan di media. AI dulunya diciptakan untuk menjadi ALAT belaka. Alat penjawab telepon bank otomatis, spelling checker di Word dan sejenisnya (narrow AI). Dulunya, para ahli berpikir bahwa menciptakan AI yang sama pintarnya dengan manusia, disebut AGI (Advanced General Intelligence) bisa dicapai tahun 2050-2060. Kira-kira sekelas “DATA” di Star Trek. Namun tenggat waktunya direvisi drastis. Tahun 2026 untuk menyamai manusia dan melampaui umat manusia pada tahun 2030 (disebut SAI, seperti Ultron di Marvel Universe).

Salah satu pemrakarsa AI, Sam Altman, mengembangkan AI dengan tujuan mengakhiri era manusia yang penuh kelemahan dengan menciptakan “mesias digital” untuk membangun “bumi yang baru”. Tujuannya “mewujudkan utopia berdasarkan inovasi AI” (“utopian transcendence via AI ingenuity”), istilah ini dikutip dari The Merge, blog milik Sam Altman. Kedengarannya mirip dengan menara Babel, bukan? Bahkan istilah lain SAI-pun adalah “SINGULARITAS”, mirip dengan Kejadian 11:6 di mana manusia waktu itu satu bangsa dan satu bahasa. Kebetulan belaka? Pakar lainnya seperti Ilya Sutskever dan Jan Leike meninggalkan OpenAI karena beranggapan bahwa perusahaan belum siap mengelola bahaya AI. Seberapa jauh kita bisa mempercayai “ALAT” ini? Jika kita mau memanjat tangga yang tidak kita kenal, bukankah kita akan menginjaknya dengan hati-hati dahulu sebelum memanjatnya?

Firman Tuhan dalam renungan hari ini meminta kita untuk menguji setiap “roh”. Demikianlah juga kita harus menguji AI. Apakah penggunaannya sudah sesuai? Apakah Anda benar-benar mengembangkan dan mengasah bakat-bakat yang diberikan Tuhan kepada Anda? Jika Anda menggunakan AI untuk mengerjakan tugas supaya anda bisa nonton drakor atau scrolling Instagram, maka AI akan mencelakakan anda, otak mungkin perlahan atrofi karena tidak terlatih, dan sangat mungkin AI akan menjadi ilah Anda. Dalam film Matrix manusia malah sepenuhnya terhubung ke dunia simulasi yang dikendalikan oleh AI. Di sisi lain, jika Anda hanya menggunakan AI untuk melakukan perhitungan rumit sehingga Anda dapat mencapai kesimpulan perhitungan anda (misal jurnal dan neraca laba rugi) dengan tujuan menentukan visi dan misi, maka fungsi AI tetap menjadi alat, status yang selayaknya untuk AI. Gampang-gampang susah, ya? (SO)

Questions:

1. Apakah AI mengasah talenta kita atau justru membuat kita makin tumpul?
2. Apakah keputusan anda dalam hidup sehari-hari lebih banyak ditentukan AI atau lahir dari hubungan pribadi kita dengan Tuhan?

Values:

Jangan terjebak. Jangan tertipu. Jangan terlena. Fungsi AI hanyalah alat mencapai tujuan Tuhan dalam hidup anda.

Kingdom Quotes:

Watchfulness is the guard set upon the soul against temptation. – Richard Sibbes (Kewaspadaan adalah pagar yang akan melindungi kita dari godaan.)