MULTITASKING ROHANI

MULTITASKING ROHANI 

Bacaan Setahun:

1 Pet. 3
Yer. 35-36
Mzm. 136

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Ibu pembantu pemilik warung di kawasan ekowisata itu tampak sibuk, tangannya menuangkan air panas ke gelas kopi pesanan seorang bapak yang baru selesai jogging, sementara ia mendengarkan pelanggan lain yang bermaksud membayar makanan dan minuman yang baru disantap bersama rekan-rekannya, lalu menghitung dengan cermat; pada saat yang sama, beliau merespons pesanan saya. Tampaknya kemampuan multitasking ibu tersebut mendukung sebuah riset yang dimuat di media sosial yang mengatakan otak wanita mampu memproses informasi lebih efisien daripada otak pria, sehingga memungkinkan wanita mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan.

Dalam dunia yang serba cepat, banyak orang dituntut mampu melakukan berbagai kegiatan sekaligus agar kebutuhannya terpenuhi. Misalnya, seorang pekerja memiliki lebih dari satu profesi. Rasul Paulus adalah tokoh dalam Perjanjian Baru yang mampu melakukan lebih dari satu pekerjaan sekaligus; beliau dikenal bukan hanya sebagai pemberita Injil, namun juga sebagai pembuat tenda untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa membebani jemaat yang dilayaninya (Kisah Para Rasul 18:3). Musa dalam Perjanjian Lama dikenal sebagai pemimpin bangsa Israel, nabi yang menyampaikan Firman Allah langsung kepada umat Israel, hakim yang menyelesaikan perselisihan di antara bangsanya (Keluaran 18:13-16), serta penulis kelima kitab pertama dalam Alkitab (Torah/Pentateukh).

Namun dalam iluminasi Matius 6:24, orang percaya tidak dirancang untuk bisa melakukan multitasking rohani. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa sulit mengabdi pada dua tuan, tetapi Ia mengatakan hal itu tidak mungkin. Secara rohani hati manusia tidak diciptakan untuk membagi kesetiaan, karena dalam konteks rohani, multitasking berarti mencoba memadukan dua pusat pengabdian: Allah dan sesuatu yang lain, seperti kekayaan, jabatan, ambisi pribadi, atau bahkan pelayanan yang kehilangan arah ilahi. Ketika seseorang mencoba menyeimbangkan antara Allah dan dunia, hasilnya bukanlah keseimbangan, tetapi kompromi. Jadi prinsip ini menantang setiap warga Kerajaan untuk mengevaluasi apa atau siapa yang menjadi pusat hidup orang percaya.

Multitasking rohani seringkali terlihat begitu spiritual di luar, tetapi lambat laun berpotensi menumpulkan kepekaan rohani dan mengaburkan arah panggilan hidup. Kesetiaan penuh kepada Kristus menuntut hati yang tidak terbagi, pengabdian yang terfokus dan total. Kesetiaan kepada Allah menuntut pilihan yang jelas, bukan kompromi antara dua tuan; sebagaimana Firman Tuhan memberikan peringatan yang tegas bahwa orang percaya tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (YL)

Questions:

1. Apakah multitasking dapat meningkatkan efisiensi atau malah mengurangi kualitas pekerjaan?
2. Apakah menjadi relevan bisa diartikan berkompromi melalui multitasking rohani?

Values:

Pengabdian berbicara tentang kesetiaan dan fokus hati.

Kingdom Quotes:

Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? (Yakobus 3:11)