MEMPERSIAPKAN KEMATIAN YANG MEMULIAKAN TUHAN

MEMPERSIAPKAN KEMATIAN YANG MEMULIAKAN TUHAN 

Bacaan Setahun:

Ef. 3
Yeh. 8-9
Yes. 41

“Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.” (Roma 14:7)

Ada gereja yang pernah menyebarkan formulir persiapan kematian kepada jemaatnya. Dalam formulir itu terdapat pertanyaan seperti: “Ingin dimakamkan di mana?”, “Lagu apa yang ingin dinyanyikan saat kebaktian tutup peti?”, “Apakah ada ayat atau pesan terakhir?”, serta “Kalimat apa yang hendak ditulis di batu nisan?” Formulir tersebut disimpan oleh gereja dan akan dijalankan ketika yang bersangkutan meninggal dunia.

Sebagian orang menilai hal itu tidak pantas dibicarakan sebelum waktunya. Namun, menurut sang gembala (pemimpin gereja), kematian justru perlu dipersiapkan agar momen tersebut dapat dipakai “calon almarhum” untuk memuliakan Tuhan. Musa menulis bahwa umur manusia pada umumnya mencapai tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun. Karena itu, waktu yang ada harus digunakan dengan bijaksana, agar hidup kita memuliakan Tuhan (Mazmur 90:10,12).

Rasul Paulus menegaskan bahwa kita adalah milik Tuhan. Hidup kita bukan milik pribadi, melainkan milik Dia yang menebus kita. Apa pun yang kita lakukan atau rencanakan selama hidup ini harus memuliakan Tuhan, mengakui ketuhanan-Nya, dan melayani kepentingan-Nya, bukan diri sendiri. Bahkan sampai pada saat kematian pun, kata Paulus, “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.” (Roma 14:8). Artinya, kematian kita pun seharusnya memuliakan nama-Nya.

Jangan sampai saat kita dipanggil pulang, kita meninggalkan jejak yang mempermalukan nama Tuhan. Sebaliknya, biarlah kematian kita membawa berkat bagi mereka yang ditinggalkan. Karena itu, persiapkanlah kematian mulai sekarang. Pastikan pekerjaan yang dilakukan hari ini membuat Tuhan tersenyum. Nyatakan kebaikan Tuhan kepada orang di sekitar kita, sehingga kapan pun maut menjemput, kita siap menghadap-Nya dengan damai. Persiapkan juga segala hal yang berkaitan dengan hari kematian, agar keluarga tidak terpecah atau berebut harta warisan. Biarlah hari itu menjadi hari yang indah, karena saat itu kita akan bertemu Tuhan muka dengan muka. Jadikan Tuhan tersenyum melihat cara hidup dan cara mati kita.

Satu hal penting yang juga harus dipikirkan sejak sekarang adalah regenerasi. Sudahkah kita mempersiapkan generasi berikutnya? Sudahkah mereka mengenal Tuhan, bertumbuh dalam iman, mengerti firman, dan melakukannya dalam kehidupan mereka? Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang tidak takut akan Tuhan dan kehilangan pengharapan. Renungkanlah! (AU)

Questions:

1. Sudahkah hidup kita hari ini memuliakan Tuhan, bahkan dalam hal-hal kecil yang kita lakukan?
2. Apakah kita sudah mempersiapkan re-generasi setelah kita? Diskusikan!

Values:

Hidup dan mati yang dipersembahkan untuk memuliakan Tuhan adalah wujud iman yang sejati.

Kingdom Quotes:

Hidup yang dipersiapkan dengan bijaksana akan membuat kematian menjadi kemenangan yang memuliakan Tuhan.