IMAN YANG BERTANGGUNG JAWAB
Bacaan Setahun:
Ef. 6
Yeh. 17
Yes. 46
“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” (Markus 13:33, 37)
Firman Tuhan hari ini memberikan pesan penting agar kita hidup berjaga-jaga, waspada, dan penuh kesadaran, terutama dalam iman dan pelayanan kita kepada Tuhan. Dalam Markus 13:33–37, Yesus mengilustrasikan seorang tuan yang bepergian dan mempercayakan tanggung jawab kepada para pegawai serta penjaganya. Masing-masing diberi tugas yang harus dijalankan dan diharapkan selalu siap kapan pun sang tuan kembali.
Dari sudut pandang eskatologis (akhir zaman), berjaga-jaga bukan berarti duduk diam atau pasif. Justru, Yesus menegaskan bahwa setiap orang diberi tugas untuk dikerjakan. Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap fenomena seperti Doomsday Preppers atau Doomsday Cult, yaitu kelompok yang hanya berfokus pada persiapan rohani dengan menarik diri dari kehidupan dan tanggung jawab sehari-hari. Sikap berjaga-jaga yang benar bukanlah mengasingkan diri, tetapi melaksanakan tanggung jawab dengan setia.
Kata tanggung jawab berarti mengetahui dan melakukan apa yang diharapkan dari kita. Pertanyaan reflektifnya ialah: Apakah kita tahu tanggung jawab apa yang Tuhan percayakan kepada kita? Kristus tidak meninggalkan sekadar ritual, melainkan misi dan rencana-Nya agar kita teruskan. Dalam sebuah perkemahan remaja, seorang peserta menulis kerinduan hatinya untuk menjadi dokter spesialis yang menolong penderita skoliosis dengan biaya terjangkau demi memuliakan Tuhan. Contoh sederhana ini menunjukkan bagaimana seseorang memahami tanggung jawab ilahi secara pribadi.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa tanggung jawab bersifat pribadi dan tidak dapat diwakilkan. Roma 14:12 berkata, “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Seorang suami tidak dapat berkata, “Saya jarang ke gereja karena sudah diwakilkan istri,” atau seorang anak berkata, “Karena orang tua saya mengasihi Tuhan, saya pasti diberkati.” Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya sendiri.
Sebelum kita menerima tanggung jawab khusus dari Allah, kita perlu melatih diri dalam dua hal: pertama, bertanggung jawab atas diri sendiri, dengan memiliki kendali atas pikiran, perasaan, perkataan, dan tindakan. Kedua, bertanggung jawab terhadap peran-peran hidup—sebagai orang tua, pasangan, pekerja, pelajar, pengusaha, maupun pelayan Tuhan. Mari kita renungkan: Apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan hidup dan tugas yang Tuhan percayakan kepada kita? (HA)
Questions:
1. Apakah kasih karunia pertama yang kita terima supaya kita mampu hidup di dalam kasih?
2. Bagaimana kehidupan kita mencerminkan pribadi Sang Raja?
Values:
Pengampunan adalah karunia dari Tuhan untuk kita, melalui pengampunan itu kita dipulihkan dan ditebus dari kebinasaan sehingga kita dimampukan untuk mengasihi.
Kingdom Quotes:
Kasih sejati tidak menyimpan kesalahan tetapi melepaskan pengampunan.