Siapkan Diri Menantikan Tuhan | Pdt. Thomas Tanudharma

(29)  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (30) Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, (31) tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
(Yesaya 40:29-31)

Kita semua percaya bahwa Tuhan Yesus segera datang. Posisi kita sekarang adalah sedang menantikan kedatangannya yang kedua. KedatanganNya yang pertama sebagai juru selamat dan kedatanganNya yang kedua adalah sebagai hakim yang adil. Sebagaimana kita mempersiapkan segala sesuatu ketika ada tamu yang akan datang ke rumah kita maka kitapun harus mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua.

Kita harus senantiasa siap siaga karena kita tidak tahu kapan pastinya kedatanganNya, tetapi yang pasti Dia pasti akan datang. Dalam mempersiapkan diri menantikan Tuhan seringkali musuh terbesar itu bukan orang lain, bukan kondisi, bukan keadaan, tetapi pikiran kita, karenanya kita butuh kekuatan daripada Tuhan.

Mungkin hari-hari ini kita sedang mengalami kelelahan, bukan secara fisik, tetapi pikiran, hati dan semangat yang sudah mulai hilang. Orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Waktu kita menanti-nantikan Tuhan, kita bukan sedang menanti-nantikan pertolongan orang lain, bukan menantikan belas kasihan orang, bukan menunggu nasibnya baik, atau bukan menunggu Tuhan buka jalan. Seringkiali yang kita tunggu adalah berkat Tuhan. Oleh sebab itu kita akan sama-sama belajar untuk kembali kepada fokus utama kita, bukan berkatnya, tetapi sang sumber berkat yaitu Tuhan sendiri.

Orang yang menanti-nantikan Tuhan digambarkan seumpama rajawali. Seekor rajawali yang terbang ada 2 hal yang dilakukannya yaitu mengepakkan sayap dan melayang. Waktu terbang adalah gambaran aktivitas kita, bekerja, mencari nafkah dan tugas-tugas kita di dunia ini. Kita harus melakukannya dengan dengan rajin, jujur dan benar. Rajawali tidak selalu terbang, ada saatnya dia cuma melayang. Waktu dia melayang, sayap sepertinya tidak dikepakkan, cukup dibentangkan saja, tapi dia tidak jatuh. Kenapa? Karena udara yang mengangkat dia tinggi. Ini adalah gambaran hidup kita waktu beribadah dan berdoa, yang sepertinya kita sedang meninggalkan kesibukan rutin, justru kita di bawa terbang lebih tinggi lagi oleh Tuhan.

Kita diberikan kekuatan yang baru untuk menyadari dan bertindak atas jenis pergumulan:

Ujian Tuhan:

Ujian Tuhan membuat kita naik tingkat, oleh sebab itu kita harus lulus ujian dengan dan berkenan kepada Tuhan

Serangan Iblis:

Ketika kita hidup benar, bukan berarti segalanya pasti baik-baik saja. Kadang ada kebocoran-kebocoran yang disebabkan oleh serangan iblis. Ketika kita sadar bahwa kekuatan kita tidak bisa mengatasi, datanglah kepada Tuhan dan lawanlah iblis dengan iman yang teguh.

Kebodohan kita:

Kita bodoh karena kita kita salah memilih dan salah mengambil keputusan. Kita telah meletakkan percaya kita kepada pribadi yang salah. Kita tidak akan mentaati kalau kita tidak percaya. Dan sebaliknya, berapapun harganya kalau kita percaya, kita pasti siap bayar harga. Orang bisa tertipu karena percaya kepada penipu.

Teguran Tuhan:

Jika pergumulan yang kita hadapi adalah teguran Tuhan maka kita harus bertobat dan berbalik kepada Tuhan sampai kita benci terhadap dosa dan tidak melakukannya lagi.

Percayalah bahwa Tuhan akan memberikan kepada kita kekuatan untuk memilah dan mengidentifikasi apakah yang kita hadapi adalah ujian Tuhan, serangan iblis, kebodohan kita atau teguran Tuhan. Tuhan akan memberikan kepada kita kekuatan untuk menyadari dan bertindak atas setiap pergumulan yang sedang kita hadapi.

(12) Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (13) Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. (14) Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. (15) Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (16)  Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat!
(Yakobus 1:12-16)

Kadang-kadang Tuhan izinkan ujian terjadi dalam hidup kita supaya tahu kualitas hidup kita. Orang yang mengasihi Tuhan itu selalu berusaha menyenangkan Tuhan. Dan orang yang berusaha menyenangkan Tuhan adalah orang yang selalu berusaha melakukan apa yang disuruh dan menjauhi atau menghindari apa yang dilarang Tuhan.

Seringkali kita sulit membedakan antara ujian dan pencobaan. Tuhan menguji hidup kita tetapi Tuhan tidak mencobai kita. Ujian Tuhan untuk memberi nilai positif, untuk membawa kita naik kelas dan dipercayakan lebih lagi. Sedangkan pencobaan disini artinya adalah godaan. iblis menggoda kita supaya jatuh, tersungkur, tidak bisa bangun lagi dan terhilang dari Tuhan karena iblis selalu mencuri, membunuh, dan membinasakan.

Jika kita senantiasa mengandalkan Tuhan, ujian seberat apapun kita akan mampu untuk lulus. Namun terkadang karena kebodohan kita sendiri yang membuat kita sulit dan terpuruk. Sampai akhirnya kita sadar akan kebodohan itu dan menyesal. Sadar saja tidak cukup, kita harus bertobat dan membenci dosa. Jangan suka membayangkan dosa masa lalu. Kita juga harus menjaga pergaulan kita karena Firman Tuhan mengingatkan bahwa pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik.

Iblis menggoda kita melalui keinginan kita. Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6). Orang yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. Oleh sebab itu kita harus berhati-hati dengan keinginan kita. Pikiran kita harus kuat sehingga ketika keinginan melakukan sesuatu yang melanggar firman, keinginan ingin melakukan sesuatu yang memuaskan keinginan daging kita maka pikiran mampu untuk berkata tidak terhadap perasaan yang ingin dipuaskan. Karenanya kita harus senantiasa mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan.

Masa depan kita merupakan akibat keputusan dan kebiasaan kita hari ini. Masa depan kita tidak ditentukan oleh nasib dan situasi ekonomi yang terjadi. 85% masalah dihadapi manusia karena salah memilih dan salah mengambil keputusan. Keinginan – keinginan daging yang dibuahi akan melahirkan dosa. Firman Tuhan tidak mengajarkan kita mengambil keputusan dengan nekat. Kita menjadi berani karena Tuhan menyertai hidup kita.

Iblis juga seringkali menyesatkan kita dengan jalan pintas. Seperti halnya Hawa ditawarkan jalan pintas untuk menjadi seperti Allah. Kita harus waspada dan tetap percaya kepada Tuhan Karena Tuhanlah sumber pertolongan kita yang tidak pernah berubah. Tuhan menentukan kita bukan saja sebagai pemenang tetapi lebih daripada pemenang. Amin. (RCH)