GEREJA SEBAGAI RUMAH KELUARGA

GEREJA SEBAGAI RUMAH KELUARGA 

Bacaan Setahun:

Ayb. 15:1 – 18:21
Mat. 20:20–34
Mzm. 17:13–15

“Kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” (Roma 15:1-2)

Tidak ada gereja yang sempurna — bahkan gereja yang paling ramai sekalipun tetap diisi oleh manusia, bukan malaikat. Selama masih ada manusia di dalamnya, di sanalah muncul berbagai dinamika: ada yang tersinggung, merasa tidak dihargai, rajin datang tetapi enggan terlibat, dan ada pula yang selalu punya pendapat namun tidak mau ikut kerja bakti rohani. Namun bukankah begitu juga dengan keluarga kita di rumah? Ada yang cerewet tetapi berhati baik, ada yang pelupa tetapi lembut, ada juga yang suka mengatur tetapi kalau diminta kembali bekerja langsung menghilang. Meski penuh kekurangan, tetap saja kita menyebutnya keluarga.

Demikian juga gereja. Gereja bukan hotel tempat kita datang untuk “dilayani”, melainkan rumah tempat kita tinggal bersama dan bertumbuh. Kalau di rumah kita saling membantu — yang pandai memasak membantu memasak, yang kuat membantu mengangkat galon — maka di gereja pun setiap anggota harus bertanya: “Aku bisa membantu apa agar rumah rohani ini semakin hangat?” Setiap kita memiliki talenta berbeda. Ada yang ahli bisnis, ada yang peka dalam pelayanan musik, ada yang kuat dalam organisasi. Bila semua dipakai dengan semangat saling membangun, gereja akan bertumbuh indah, bukan karena semuanya seragam, melainkan karena semuanya saling melengkapi.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Ada yang hobi mengkritik tetapi alergi terhadap solusi. Ada yang rajin mengeluh tetapi enggan terlibat. Ada juga yang datang hanya untuk “check-in rohani” setiap Minggu, lalu langsung “check-out” setelah doa penutup. Padahal Firman Tuhan berkata: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah.” (Efesus 2:19). Artinya, kita bukan tamu di rumah Tuhan — kita keluarga-Nya! Dan dalam keluarga, pasti ada yang membuat kita kesal. Kadang sengaja, kadang tidak. Namun jika setiap kali terluka kita langsung pindah rumah, bagaimana kita mau menjadi dewasa rohani? Justru melalui perbedaan itulah Tuhan mengajar kita mengampuni, berdamai, dan bertumbuh bersama. Gereja yang sehat bukanlah gereja tanpa konflik, tetapi gereja yang mampu berdamai dan melangkah maju. Di sanalah kita diproses, bukan dihakimi; diberdayakan, bukan diperdayakan.

Maka ketika kita tergoda berkata, “Gereja ini kok begini?” cobalah bercermin dan bertanya, “Apakah aku membuat suasananya lebih hangat atau lebih dingin?” Mari kita bangun gereja bukan dengan keluhan, tapi dengan keterlibatan. Bukan dengan menuntut, tapi dengan memberi. Bukan dengan menghakimi, tapi dengan saling melengkapi. Dan siapa tahu… di tengah proses itu, kita sadar bahwa keluarga rohani ini — meski tak sempurna — justru tempat paling indah yang Tuhan pakai untuk membentuk kita menjadi sempurna di dalam kasih-Nya. (DD)

Questions:

1. Apakah Anda melihat gereja sebagai keluarga untuk dibangun, atau hanya tempat datang dilayani?
2. Saat melihat kelemahan saudara seiman, Anda menghakimi atau menolong dengan kasih sebagai keluarga?

Values:

Gereja bukanlah gedung atau institusi, melainkan keluarga Kerajaan Allah tempat setiap orang dipanggil untuk bertumbuh, melengkapi, dan saling menanggung kelemahan satu sama lain.

Kingdom Quotes:

Gereja yang ideal bukanlah gereja yang sempurna, tetapi gereja yang diisi oleh orang-orang yang mau belajar saling mengasihi, memaafkan, dan bekerja sama dalam kasih Kristus.