SAHABAT ATAU SETERU SALIB

SAHABAT ATAU SETERU SALIB 

Bacaan Setahun:

Ayb. 33:1 – 34:37
Mat. 23:1–39
Mzm. 18:25–36

“Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Filipi 3:18-19)

Ada satu kalimat tajam dari Rasul Paulus yang seharusnya membuat setiap orang percaya berhenti sejenak dan bercermin: “Banyak orang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Kalimat ini tidak dituliskan Paulus dengan kemarahan, melainkan dengan air mata. Ia menulisnya bukan untuk orang dunia, melainkan untuk orang Kristen—mereka yang mengenal salib, membicarakan salib, bahkan mengaku percaya kepada Kristus, tetapi tidak hidup di bawah kuasa salib. Paulus kemudian menjelaskan tiga ciri utama orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
Pertama, “Tuhan mereka adalah perut mereka.” Artinya, hidupnya dikendalikan oleh nafsu dan keinginan diri. Bagi mereka, yang penting kenyamanan. Asal enak, asal aman, asal cuan — jalan terus. Doa, pelayanan, bahkan iman pun kadang dijadikan alat untuk memenuhi keinginan sendiri. Tuhan tidak lagi jadi Tuan, tapi hanya alat pemuas. Mereka berdoa bukan, “Jadilah kehendak-Mu,” tapi, “Tuhan, jadikan kehendakku!”
Kedua, “Kemuliaan mereka ialah aib mereka.” Mereka bermegah dengan hal-hal yang seharusnya membuat malu. Dianggap keren ketika bisa menipu sistem. Dibilang hebat kalau bisa tampil mewah meski hasilnya dari curang. Dosa dibungkus istilah “kebebasan.” Kesombongan disebut “keberhasilan.”Dan semua orang bertepuk tangan, padahal surga berduka.
Ketiga, “Pikiran mereka semata tertuju pada perkara duniawi.” Yang dikejar cuma popularitas, posisi, dan pengakuan. Asal terlihat “sukses,” tak peduli apa yang Tuhan pikirkan. Media sosial dipenuhi pencitraan, tapi hati kosong dari pertobatan. Salib hanya jadi simbol di leher, bukan jalan hidup di hati.
Namun sahabat salib berbeda. Ia mungkin tidak populer, tapi hatinya tetap murni. Ia tidak mencari jalan mudah, tapi jalan benar. Ia mengerti, mengikuti Kristus bukan soal gengsi, tapi ketaatan. Ia tahu, kemuliaan sejati bukan di atas panggung, tapi di atas salib.
Jadi, mari kita tanya diri sendiri: Apakah kita sahabat salib, atau justru seteru salib? Apakah kita masih mau hidup dalam kebenaran meski tidak nyaman? Atau kita memilih kenyamanan meski harus kehilangan Kristus? “Aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.” (Galatia 6:14) Sebab hanya di bawah salib, manusia berhenti memuliakan diri — dan mulai memuliakan Allah. (DD)

Questions:

1. Apakah Anda sungguh mengikuti Kristus di jalan salib, atau hanya mengejar berkat-Nya?
2. Jika dunia menyebut Anda sukses, tetapi surga melihat Anda jauh dari salib, siapakah yang Anda layani?

Values:

Menjadi sahabat salib atau sahabat Sang Raja berarti memilih jalan yang mungkin tidak populer di bumi, tetapi berharga di dalam Kerajaan Surga.

Kingdom Quotes:

Salib bukan sekadar simbol iman, melainkan panggilan hidup untuk taat, berkorban, dan tetap setia di tengah dunia yang menolak kebenaran.