The Year of Decision | Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana

Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami.(Ezra 8:21)

Pertama-tama mari kita bersyukur buat tahun 2025. Berapa banyak dari kita sudah melalui krisis, melalui penyakit, melalui ancaman, melalui apapun dan Tuhan melewatkannya. Kita akan masuk di tahun yang baru The Year of Decesion (Tahun Keputusan). Kita tahu bahwa decision (keputusan) itu sangat penting. Orang yang berdiri di atas pagar, tidak tahu dia mesti ke kiri atau ke kanan, naik atau turun maka  hidupnya tidak akan mencapai apa-apa. Memasuki tahun yang baru, kita awali dengan Puasa Raya selama 21 hari dengan cara Daniel. Dengan berpuasa dan merendahkan diri, kita mencari kehendak Tuhan.

Sebagai pengantar masuk di The Year of  Decesion, kita akan belajar dari kitab Ruth (Kitab Ruth Pasal 1-4) yang berisi tentang pengharapan, keputusan yang benar dan jalan Tuhan. Pada zaman hakim-hakimsetiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Suatu saat ada kelaparan di Tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Mereka adalah Elimelekh beserta isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon. Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

Mahlon dan Kilyon mengambil perempuan Moab sebagai istri mereka, yaitu Orpa dan Ruth. Setelah mereka tinggal sepuluh tahun, matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.

Berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: “Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.” Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras dan berkata kepadanya: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.”

Ketika Naomi terus mendesak mereka, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. Bahkan Ruth menyatakan imannya kepada Allah Israel: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.

Belajar dari kehidupan Ruth, kunci – kunci untuk masuk tahun yang baru ini aadalah:

Be Decisive! (Jadilah Pengambil Keputusan)

Ruth mengambil sebuah keputusan yang benar di dalam hidupnya. Tidak mudah mengikuti seorang mertua yang dalam kondisi kekurangan. Kondisi Naomi waktu itu sudah janda, miskin dan tidak mungkin diharapkan lagi, tetapi Ruth tidak saja memilih ibu mertuanya, tetapi Ruth beriman kepada Allah Israel yang sanggup mengubah masa depannya.

Ketika Elimelek meninggalkan Bethlehem yang artinya rumah roti, dia tidak bertanya kepada Tuhan. Suatu kondisi yang sangat kontras dengan Boas. Mereka sama-sama mengalami krisis dan kelaparan tetapi kehidupan Boas sangat diberkati ketika ia tetap tinggal di Bethlehem.

Pelajaran bagi kita ketika kita menghadapi keadaan sulit, jadilah pengambil keputusan untuk tetap percaya dan beriman kepada Tuhan karena Ia sanggup memulihkan keadaan kita. Jangan, jangan pernah meninggalkan ‘Bethlehem’ (rumah Roti) dan roti kehidupan itu adalah Yesus Kristus Tuhan satu-satunya Allah dan sumber pengharapan kita.

Be Diligent! (Jadilah Rajin)

Berjalanlah Naomi dan Ruth sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka. Penduduk Betlehem tidaklagi dapat mengenali Naomi karena Naomi telahbegitu banyak mengalami masalah dan persoalan di dalam hidupnya. Ia berkata: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.”

Mereka sampai ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai. Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.” lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh. Boas tertarik dengan kerajinan Ruth karena ia terus sibuk memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit dari pagi dan seketikapun ia tidak berhenti.”

Kerajinan, pengabdian dan cerita hidup Ruth membuat Boas berbelas kasihan sehingga iaberkata kepada Ruth untuk tidak usah pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga pergi dari ladangnya, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. Bahkan ia beresan kepada pengerja-pengerja lelaki agar jangan mengganggu Ruth.

Kunci kedua dari Ruth setelah mengambil keputusan yang benar, adalah bergabunglah dengan ladangnya sehingga bertemu dangan Sang Tuan. Ketika kita berada di ladang Tuhan dan bertemu Sang Tuan, jadilahpribadi yang rajin, yang menarik perhatianNya sehingga Ia memulihkan dan memberkati hidup kita.

Be Submissive! (Tundukkanlah Dirimu)

Perjalanan iman tidak berhenti pada keputusan yang benar dan ketekunan yang setia. Tuhan membawa umat-Nya lebih jauh, masuk ke dalam tahap penyerahan diri yang penuhkepercayaan. Di dalam Rut Pasal 3 dituliskan bahwa Naomi berkata kepada Ruth: “Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia? Tuhan mengajar umat-Nya untuk belajar menundukkan diri di bawah tatanan-Nya, sambil menantikan pemulihan yang Ia sediakan.

Rut telah bekerja keras dan melihat pemeliharaan Tuhan. Namun Naomi menyatakan bahwa masih ada satu langkah iman yang harus diambil. Ada seorang go’el—penebus keluarga—yang dapat memulihkan masa depan Rut dan Naomi. Penebusan tidak terjadi melalui usaha manusia semata, melainkan melalui ketaatan pada ketetapan Tuhan.

Rut datang ke kaki Boas, bukan dengan sikap sensual atau manipulatif, melainkan dengan ketundukan yang murni. Tindakan ini adalah simbol penyerahan diri dan permohonan perlindungan. Firman Tuhan menegaskan bahwa Boas adalah seorang yang kaya dan terpandang, seorang yang hidup dalam ketaatan pada hukum Tuhan. Ia memahami tatanan Kerajaan Allah dan bertindak dengan integritas, bahkan ketika ada kemungkinan jalan yang lebih mudah.

Boas tidak bertindak tergesa-gesa. Ia menghormati tatanan hukum dan keluarga. Ia menyatakan bahwa masih ada kerabat yang lebih dekat, dan proses harus dijalani dengan benar. Sebelum Rut kembali kepada Naomi, Boas memberikan enam efa jelai. Ini bukan upah kerja, melainkan tanda jaminan—sebuah janji bahwa penebusan sedang berlangsung. Sering kali Tuhan memberi tanda pemeliharaan di tengah penantian, bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari pemulihan yang lebih besar. Ketika seseorang belajar menundukkan diri di kaki Tuhan, ia akan melihat berkat yang melampaui hasil usahanya sendiri.

Be Blessed! (Jadilah Berkat)

Kitab Ruth Pasal 4 menuliskan bahwa Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Maka perempuan-perempuan di kota itu berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.”

Kisah ini tidak berhenti pada Rut dan Boas. Dari rahim Rut lahir Obed, kemudian Isai, Daud, dan akhirnya Yesus Kristus—Sang Penebus yang lebih besar dari Daud. Keputusan yang diambil Ruth tidak saja merubah hidupnya, tetapijuga merubah sejarah. Karena ada firman Tuhan yang menuliskan bahwa keturunan daripada orang Moab tidak boleh masuk jemaat Tuhan sampai 10 keturunan. Ruth bukan lagi janda Moab, dari rahimnya menurunkan raja-raja dan hidupnya menjadi berkat. Amin. (RCH)