Hard Right Choices | Pdt. Daniel Januar Tanudjaja

Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.  Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN. Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu.”  (Yosua 24:25-27)

Pasal 24 adalah pasal terakhir di kitab Yosua, yang merupakan FAREWELL SPEECH kepada orang Israel. Pasal ini juga menyatakan suatu tantangan dalam memperbaharui komitmen Perjanjian dengan Tuhan. Tuhan menantang Bangsa Israel untuk mengambil keputusan yang benar dan Yosua menyatakan beberapa prinsip pilihan hidup yang benar, sebagai berikut:

SPIRITUAL OVER CARNAL (Memilih yang Rohani Di Atas Kedagingan)

Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. (Yosua 24:14)

Konteks ayat ini adalah prioritas, yaitu apa yang menjadi aspek utama dalam hidup mereka dan pilihan apa yang dibuat. Jadikanlah hal-hal rohani sebagai prioritas dalam hidup kita.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)

Hal-hal duniawi bersifat fisik, yaitu makanan, pakaian, perhiasan, tempat tinggal atau apa pun yang bukan rohani. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki hal-hal materi, tetapi jika kita dihadapkan pada pilihan antara hal rohani dan duniawi, pilihan yang tepat adalah yang rohani. Mengapa banyak orang percaya tidak bahagia apalagi sukacita? Karena mereka gagal menerapkan prinsip ini.

GOD’S WILL OVER MAN’S WILL (Memilih Kehendak Tuhan Di Atas Kehendak Manusia)

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15)

Pilihan harus selalu dibuat antara kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Yosua tahu bahwa generasi sebelumnya di Mesir telah terjerumus ke dalam penyembahan berhala buatan manusia dan telah mempengaruhi generasi sekarang. Yosua membuat pilihan yang tepat dan memimpin orang Israel untuk memilih beribadah kepada Tuhan.

Sebelum rasul Paulus diselamatkan dia mengikuti keputusan manusia, yaitu para pemimpin Yahudi. Tetapi setelah perjumpaan dengan Tuhan, dia hidup hanya untuk kehendak Tuhan.

Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” (Kisah Para Rasul 9:6)

Kehendak Tuhan tidak pernah bertentangan dengan Firman-Nya, tidak peduli bagaimana manusia merasionalisasikannya.

ETERNAL OVER TEMPORAL (Memilih Kekekalan Di Atas yang Sementara)

 Lalu bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!  Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,  TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.” (Yosua 24:16-18)

Yosua memilih untuk melayani Allah yang kekal, hidup dengan ‘eternal value’, daripada menikmati kesenangan dosa untuk sementara waktu.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.  Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:24-26)

Petrus dan murid-murid yang lain gagal fokus saat mereka tidak peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan Allah, melainkan hanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan manusia. Orang yang berorientasi kepada hal-hal duniawi lebih tertarik pada apa yang bisa didapatkan dari kehidupan saat ini saja. Mereka lupa dan tidak sanggup memahami adanya keabadian di luar sana yang berlangsung jauh lebih lama daripada apa yang ada di sini sekarang.

COMMITMENT OVER CONVENIENCE (Memilih Komitmen Di Atas Kenyamanan)

 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.  Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.”  Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” Jawab mereka: “Kamilah saksi!”  Ia berkata: “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” (Yosua 24:19-23)

Pada ayat ini, Yosua menyiratkan bahwa umat itu tidak dapat melayani Tuhan karena hal itu tidak nyaman bagi mereka. Apakah Tuhan terlalu kudus untuk gaya hidup Anda? Memang ada harga yang harus dibayar dalam melayani Tuhan. Tetapi kita perlu membuat keputusan berdasarkan komitmen kita kepada Tuhan dan Firman-Nya, bukan berdasarkan pertimbangan apakah ketaatan itu nyaman atau tidak.

Sungai bentuknya berkelak-kelok karena mengambil jalur yang paling mudah. Itulah mengapa banyak orang Kristen menjadi bengkok dalam spiritualitas mereka, karena mereka mengambil jalan yang paling mudah alih-alih berdiri tegak dan berkata, “Saya mengikuti Kitab Suci”.

 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.  Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. (1 Petrus 2:20-21).

Membuat pilihan-pilihan yang benar memang tidak mudah, namun ketika melakukannya maka kita akan menjadi orang yang berkenan di hadapan Tuhan, diberkati dan menjadi berkat, di masa ini dan dalam kekekalan. Amin. (VW).