KEPUTUSAN YANG MENGUBAH EMOSI DAN KONDISI
Bacaan Setahun:
Kel. 27:1 – 28:43, Mrk. 5:21 – 6:6, Mzm. 24:1–10
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:4-6)
Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengajarkan kepada kita satu pilihan respons, yaitu bersukacita dalam segala keadaan. Kata bersukacita di sini tidak disampaikan sebagai imbauan atau tawaran alternatif, melainkan sebagai sebuah perintah. Terdapat kalimatkalimat yang bersifat instruksional, seperti: bersukacitalah, hendaklah kebaikan hatimu diketahui (diekspresikan) oleh semua orang, jangan khawatir, dan nyatakan segala sesuatu dalam doa serta ucapan syukur. Ayat ini menuntun kita pada sebuah keputusan mental untuk bersikap benar dalam menghadapi persoalan hidup.
Dalam berbagai situasi yang kita hadapi, baik persoalan di Indonesia maupun tantangan akibat kondisi global, kita dituntut untuk memberikan respons yang tepat. Kualitas respons kita sangat menentukan arah dan kualitas hidup kita. Respons merupakan keputusan pribadi terhadap suatu kondisi. Keputusan ini mencakup perasaan, sikap, perkataan, dan tindakan kita dalam menghadapi situasi tertentu.
Dalam kaitannya dengan respons, terdapat dua kondisi utama. Pertama, situasi menentukan respons, dan akhirnya memengaruhi diri kita. Contohnya, seseorang merespons dengan putus asa karena mengalami penyakit tertentu, sementara orang lain merespons dengan sukacita karena meraih sebuah prestasi. Dalam kondisi ini, respons seseorang ditentukan oleh situasi yang dialaminya. Jika situasinya baik, responsnya cenderung positif; jika situasinya negatif, responsnya pun menjadi negatif.
Kedua, respons memengaruhi situasi. Artinya, seseorang telah terlebih dahulu memutuskan kualitas respons yang akan diambil dalam menghadapi berbagai keadaan. Misalnya, meskipun berada dalam situasi sulit, seseorang memilih untuk tetap bersemangat dan berjuang, sehingga keadaan sulit tersebut dapat diubah menjadi sebuah kesempatan.
Banyak orang sulit memutuskan respons yang benar, karena baru berpikir untuk menyusun respons saat sebuah peristiwa, situasi terjadi terlebih dahulu. Akibatnya situasi negatifnya telah terlebih dahulu membelenggu mental mereka. Sebagai contoh kita baru berpikir untuk bagaimana memilih respons kita saat sudah dalam keadaan sakit, kerugian, penderitaan, atau menghadapi perilaku anak yang mungkin menjengkelkan. Tentunya sulit untuk membuat keputusan benar dalam kondisi tersebut.
Ketika Yesus dicobai sebanyak tiga kali, Ia dengan tenang menjawab, “Ada tertulis.” Hal ini menunjukkan bahwa Yesus telah memiliki keputusan mental yang berlandaskan Firman Tuhan dan menggunakan keputusan tersebut untuk menghadapi setiap situasi yang ada. Bagaimana dengan anda? (HA)
Questions:
1. Apakah selama ini respons anda lebih dikendalikan oleh situasi, atau oleh kebenaran Firman Tuhan?
2. Respons apa yang perlu anda putuskan hari ini agar situasi sulit dapat diubahkan oleh Tuhan?
Values:
Setiap warga Kerajaan, seharusnya kita memilih merespons setiap keadaan dengan sukacita dan iman, bukan dengan kekhawatiran.
Kingdom Quotes:
Setiap warga Kerajaan, seharusnya kita memilih merespons setiap keadaan dengan sukacita dan iman, bukan dengan kekhawatiran.