DIUJI DENGAN API
Bacaan Setahun:
Imamat 7:11 – 8:36
Markus 11:1–27
Mazmur 28:1–9
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:17-18)
Tema bulan ini adalah The Valley Of Refining atau Lembah Pemurnian. Dalam 1 Petrus 1:7 Rasul Petrus memakai gambaran emas yang dimurnikan oleh api. Emas tidak menjadi murni dengan sendirinya, ia harus melewati panas yang tinggi supaya segala kotoran terpisah darinya. Api yang panas tidak untuk menghancurkan emas itu, tetapi justru untuk memurnikannya.
Alkitab mencatat ada tiga orang yang imannya benar-benar diuji dengan api. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Dalam kitab Daniel Pasal 3 diceritakan bahwa Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang sangat besar dan memerintahkan semua pejabat serta rakyat untuk menyembah patung itu ketika musik dibunyikan. Siapa pun yang menolak akan dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak menyembah patung tersebut karena kesetiaan mereka kepada Allah yang hidup. Mereka dibawa menghadap raja dan diberi kesempatan kedua, namun dengan tegas menyatakan bahwa Allah sanggup melepaskan mereka, dan sekalipun tidak, mereka tetap tidak akan menyembah patung itu. Mereka menjadi berani karena tahu siapa Allah mereka dan siapa diri mereka di hadapan Allah.
Raja menjadi sangat marah dan memerintahkan agar perapian dipanaskan tujuh kali lebih panas dari biasanya. Ketiga orang itu diikat dan dilemparkan ke dalam api. Api itu begitu dahsyat sampai para prajurit yang melemparkan mereka mati terbakar. Raja Nebukadnezar menjadi terkejut, katanya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu? Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa”. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego keluar dari perapian tanpa cedera, bahkan bau asap pun tidak ada pada mereka. Ketika harus diperhadapkan dengan api, Tuhan tidak memadamkan apinya, tetapi Tuhan ikut masuk ke dalam api untuk berjalan bersama mereka.
Jika saat ini hidup kita sedang diperhadapkan dengan api kehidupan dan Tuhan tidak memadamkan api itu, percayalah bahwa Tuhan sanggup menyertai kita di dalam api itu. Perapian yang dipanaskan tujuh kali lebih panas menggambarkan ujian iman yang paling berat. Namun justru di tengah api itu, Allah hadir. Mujizat tidak terjadi saat kita dihindarkan dari masalah dan ujian, tetapi justru terjadi saat Tuhan menyertai kita di tengah-tengah ujian itu. Karena kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu menghindarkan kita dari api, tetapi kesetiaan selalu mengundang kehadiran Tuhan di dalam api. Api ujian akan membuktikan keaslian iman sehingga hidup kita menjadi kesaksian bagi banyak orang dan nama Tuhan dipermuliakan. (RSN)
Questions:
1. Apa “perapian” yang sedang Anda hadapi saat ini?
2. Bagaimana respons kita ketika menghadapi perapian yang menyala-nyala?
Values:
Ujian seberat apapun di dalam hidup kita asal Tuhan menyertai maka mujizat pasti terjadi
Kingdom Quotes:
Ketika diuji dengan api, seringkali Tuhan tidak memadamkan apinya, tetapi Tuhan ikut masuk ke dalam api itu untuk berjalan bersama kita.