MENTOK KE TEMBOK
Bacaan Setahun:
Imamat 25:1 – 26:13
Markus 16:1–20
Mazmur 33:1–11
“Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.” (Ibrani 11:30)
Dalam perjalanan meninggalkan Mesir menuju tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel, kota Yerikho adalah kota berkubu kuat yang menjadi penghalang pertama bangsa Israel setelah mereka menyeberangi Sungal Yordan. Untuk menyerang dan menghancurkan tembok Yerikho, Tuhan sendiri memberikan strategi yang tidak lazim secara militer kepada Yosua. Selama enam hari, pasukan israel harus mengelilingi kota Yerikho sekali setiap hari, dipimpin oleh para imam yang membawa tabut perjanjian dan meniup sangkakala dari tanduk domba. Orang-orang bersenjata berjalan di depan para imam tidak boleh bersuara sedikitpun.
Enam hari pertama dijalani dalam kesunyian, tidak ada runtuhan dan tidak ada tanda kemenangan. Bangsa Israel tidak diberi ruang untuk berimprovisasi atau mengganti strategi Tuhan dengan logika sendiri. Pada hari ketujuh, bangsa itu diperintahkan untuk mengelilingi kota tujuh kali, setelah tujuh kali berkeliling para imam meniup panjang sangkakala dan Yosua memerintahkan seluruh bangsa bersorak, bukan sorakan atas reaksi kemenangan tapi sebuah sorakan pernyataan iman. Pada saat itulah tembok Yerikha runtuh, dan bangsa Israel masuk ke kota serta menaklukkannya. Kisah ini menegaskan bahwa kemenangan bangsa Israel bukan hasil kekuatan manusia, melainkan ketaatan iman kepada firman Tuhan.
Dalam kehidupan kita saat ini, “tembok Yerikho” dapat hadir dalam berbagai bentuk masalah ekonomi, penyakit yang belum sembuh, konflik keluarga, doa yang belum kunjung dijawab atau permasalahan lainnya yang sepertinya ‘mentok ke tembok. Ujian-ujian tadi sering tampaknya kokoh, tinggi, dan menutup jalan ke depan, secara manusiawi kita merasa tidak punya cukup daya untuk merobohkannya.
Ketekunan iman diuji bukan saat mujizat terjadi, tetapi saat belum terjadi apa-apa. Apakah kita masih tetap berdoa meski belum ada jawaban, tetap jujur meskipun rugi, tetap setia meskipun tidak nyaman atau tetap percaya walau belum melihat hasil. Runtuhnya tembok terjadi pada hari ketujuh, bukan lebih cepat dan bukan terlambat. Allah bekerja tepat pada waktu-Nya. Keterlambatan adalah bagian dari proses pembetukan iman, karena dalam ujian hidup, Tuhan sering membangun karakter kita terlebih dahulu sebelum mengubah keadaan. Tembok tidak runtuh karena kita kuat, tetapi karena kita percaya pada Firman Tuhan dan mau taat sampai akhir (RSN)
Questions:
1. Persoalan apa yang anda hadapi yang sepertinya mentok ketembok?
2. Bagaimana respons anda ketika menghadapinya? Diskusikan!
Values:
Ketika proses datang seringkali kita tidak diberi ruang untuk berimprovisasi atau mengganti strategi Tuhan dengan logika sendiri tetapi Tuhan minta kita percaya saja pada Firman-Nya.
Kingdom Quotes:
Allah lebih tertarik membentuk iman yang teguh daripada memberi solusi yang instan.