KEMENANGAN DIMULAI DARI RESPONS YANG BENAR
Bacaan Setahun:
Bilangan 2:10 – 3:51
Lukas 1:39–56
Mazmur 34:1–10
“Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.” Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan. (1 Samuel 17:10-11)
Banyak orang berani jika menghadapi konflik secara berkelompok (‘keroyokan”), tetapi ketika ditantang untuk berduel satu lawan satu, sering kali keberanian itu menciut. Apalagi jika lawan memiliki postur tubuh lebih besar, kekuatan fisik lebih unggul, senjata lebih canggih, serta kemampuan bertarung yang lebih lengkap. Situasi inilah yang dialami Saul dan seluruh bangsa Israel ketika mendengar tantangan Goliat. Dari peristiwa ini, kita belajar betapa pentingnya hidup dalam pengurapan dan penyertaan Tuhan.
Daud adalah satu-satunya orang yang tidak terbiasa berada di medan peperangan saat itu. la hanyalah seorang anak muda yang diutus ayahnya untuk mengantarkan makanan bagi kakak-kakaknya. Namun, kita mengetahui kelanjutan kisah tersebut: Daud justru berani menerima tantangan Goliat untuk berhadapan langsung di medan perang. Kemenangan Daud atas Goliat bukanlah karena kekuatannya sendiri, melainkan karena pengurapan dan penyertaan Tuhan yang menyertainya. Untuk mengalami kemenangan seperti Daud, terdapat dua prinsip penting yang perlu kita pelajari.
Pertama, memiliki perspektif atau cara pandang yang benar. Pada masa kini, tidak sedikit orang Kristen yang dilanda ketakutan hingga kehilangan keberanian dan iman. Ketakutan yang berlarut-larut menunjukkan lemahnya iman seseorang. Padahal, Tuhan berdiam di dalam hati setiap orang percaya. Perspektif yang benar dibangun melalui tiga hal: mengenal Tuhan dengan benar, mengenal diri sendiri dengan benar, dan mengenal musuh dengan benar.
Kedua, memiliki respons yang benar. Dalam kehidupan ini tidak ada zona nyaman. Setiap orang akan mengalami proses melalui berbagai tantangan dan pergumulan hidup. Tuhan mengizinkan proses tersebut agar kita belajar bersandar sepenuhnya kepada-Nya (Ibrani 12:5-7). Respons yang dimaksud adalah refleks rohani terhadap realitas hidup yang dihadapi, baik dalam keadaan baik maupun sulit, tanpa keluar dari kebenaran firman Tuhan. Respons yang benar tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan rohani yang terus-menerus dan konsisten.
Respons yang benar lahir dari kebergantungan yang benar kepada Tuhan. Respons yang benar dimulai dari pola pikir, pola rasa, dan pola tindak yang selaras dengan firman Tuhan. Ketika seseorang sungguh bergantung kepada Tuhan, ia dimampukan untuk memandang setiap tantangan dengan perspektif iman, mengelola perasaan dengan pengharapan, dan mengambil tindakan yang tetap berada dalam kebenaran. Karena itu, yang perlu terus kita latih adalah cara pandang dan respons yang benar, agar dalam setiap situasi hidup kita tidak dikuasai oleh ketakutan, melainkan oleh iman yang teguh kepada Tuhan. (AU)
Questions:
1. Dalam menghadapi tantangan hidup, kepada siapa atau apa selama ini anda paling bergantung?
2. Apakah anda sungguh mengandalkan Tuhan, atau masih lebih percaya pada kekuatan dan cara anda sendiri?
Values:
Belajar membangun kebergantungan penuh kepada Tuhan dalam setiap keadaan, bukan hanya saat merasa lemah, tetapi juga ketika merasa mampu.
Kingdom Quotes:
Kebergantungan kepada Tuhan bukan tanda kelemahan, melainkan sumber kekuatan sejati bagi orang percaya.