BERTOBATLAH, ATAU ENGKAU AKAN MEMAKAN AKIBATNYA

BERTOBATLAH, ATAU ENGKAU AKAN MEMAKAN AKIBATNYA

Bacaan Setahun:

Bilangan 4:1 – 5:10
Lukas 1:57–80
Mazmur 34:11–22

“Setiap kali Yehudi selesai membacakan tiga atau empat lajur, raja mengoyakngoyaknya dengan pisau raut, lalu melemparkannya ke dalam api yang di perapian itu, sampai seluruh gulungan itu habis dimakan api.” (Yeremia 36:23)

Dalam sejarah Perjanjian Lama, ALLAH menyatakan kehendak dan rencana-Nya melalui para nabi. Salah satu kisah yang paling mengguncang hati adalah penolakan Raja Yoyakim terhadap firman TUHAN yang disampaikan melalui Nabi Yeremia. Gulungan kitab itu tidak hanya ditolak, tetapi disobek dan dibakar Ini bukan sekadar tindakan simbolik-melainkan sikap batin yang menolak koreksi, menolak perubahan, dan menolak pertobatan.

Bertobat bukan sekadar menyesal atau merasa bersalah. Bertobat berarti mengubah cara berpikir dan cara hidup berpindah dari pola lama yang salah kepada nilai hidup yang baru. Setiap hukum dan firman ALLAH memiliki prinsip yang konsisten; tinggalkan jalan yang keliru, jika tidak, konsekuensi akan menyusul.

Masalahnya, manusia cenderung memilih jalan yang paling nyaman. Kehendak pribadi sering dianggap lebih benar daripada kebenaran itu sendiri. Mengubah kebiasaan lama yang sudah mengakar bukan hal yang mudah. Karena itu, tidak jarang pertobatan baru muncul setelah penderitaan datang Seseorang baru mengubah pola makan dan gaya hidup setelah sakit keras. Disiplin lahir bukan dari kesadaran, tetapi dari rasa sakit yang memaksa.

Mengapa banyak pelajar memilih belajar “kebut semalam”? Padahal mereka tahu bahwa tanpa disiplin, hasilnya akan buruk. Inilah sikap permisif: merasa tidak bersalah, berharap hasil besar tanpa proses yang benar. ingin menuai tanpa menabur, ingin berhasil tanpa ketaatan.

Sejarah manusia pun bergerak dalam siklus yang berulang. Kakek bekerja keras karena kemiskinan. Ayah membesarkan usaha dengan disiplin. Anak menghancurkannya karena lahir dalam kenyamanan. Cucu kembali membangun dari kehancuran karena hidup memaksanya. Pola ini juga terlihat jelas dalam sejarah bangsa Israel: saat diberkati dan hidup nyaman, mereka menyimpang, saat jatuh dan menderita, mereka kembali bertobat

Ada ungkapan yang berbunyi, “hukum dibuat untuk dilanggar.” Idiom ini mencerminkan naluri terdalam manusia: keinginan hidup tanpa batas, tanpa disiplin, tanpa tanggung jawab. Bahkan muncul semboyan sinis: “Bayi dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga.” Sebuah ilusi rohani yang ingin berkat tanpa ketaatan, ingin keselamatan tanpa pertobatan.

Naluri Raja Yoyakin sejatinya adalah naluri kita semua. Kita ingin menyobek dan membakar firman yang menegur, menyingkirkan kebenaran yang mengganggu kenyamanan, dan menolak disiplin rohani yang membatasi keinginan diri. Kita ingin hidup semau sendiri, tetapi menuntut hasil yang baik. Karena itu, firman ini tetap relevan dan mendesak kita cepat bertobat sebelum kita mengalami konsekuensi buruk akibat ketidaktaatan. (DD)

Questions:

1. Apakah ada Firman yang sedang kita “sobek dan bakar” karena terasa terlalu keras, mengganggu kenyamanan hidup kita?
2. Apakah kita sedang menunggu penderitaan datang baru mau berubah, ataukah kita bersedia bertobat sebelum konsekuensi itu terjadi?

Values:

Pertobatan sejati selalu lebih murah daripada konsekuensi ketidaktaatan. Jangan bertobat setelah hancur.

Kingdom Quotes:

Firman yang ditolak hari ini akan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung esok hari. Menolak untuk bertobat akan mempercepat kehancuran.