Sewaktu orang percaya menghadapi persoalan hidup, kita harus tetap yakin dan percaya bahwa Allah memiliki janji. Ketika kita berada pada situasi dan kondisi ujian, Tuhan akan memberikan kita jalan keluar. Berbeda dengan ujian dari sekolah, ujian dari sekolah datang untuk memberikan nilai sedangkan ujian dari Tuhan datang untuk mengubah nilai agar terjadi peningkatan dalam kehidupan kita. Dengan adanya ujian, orang percaya tidak dirusak melainkan diproses semakin murni untuk memiliki nilai yang kekal.
(26) “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”
(Kisah Para Rasul 11:26)
Definisi dari kata ”Kristen” berarti murid-murid atau seseorang yang hidupnya menyerupai Yesus. Di Antiokhia, pertama kali para rasul disebut sebagai Kristen karena mereka hidup serupa dengan Yesus. Maka, jika seseorang menderita sebagai Kristen itu tergolong dalam bilangan murid dan bukan pengikut, sebab seorang pengikut tidak tahan dalam ujian. Untuk menjadi murid, diperlukan proses yakni ujian. Dalam kenyataan hidup, kita dapat melihat perbedaan antara ayam dan burung rajawali. Ketika badai melanda, maka ayam akan merasa panik karena ayam tidak dilatih menghadapi badai dan akan masuk ke dalam kandang. Berbeda dengan rajawali, ketika badai melanda, justru ia akan terbang semakin tinggi karena dilatih dan sayapnya semakin kuat.
Sebagai orang percaya, kita perlu berhati-hati dengan lingkungan atau pergaulan di sekitar kita. Jika lingkungan kita di kelilingi oleh orang-orang yang tidak siap menjadi bilangan murid, maka kita akan menjadi kerdil. Tetapi, apabila lingkungan kita di kelilingi orang-orang yang menjadi bilangan murid, kita akan menjadi murid yang militan. Sebagai murid Kristus, Iman orang percaya harus tetap berkobar dan tetap menyala di tengah-tengah kehidupan. Untuk mewujudkannya, orang percaya perlu mengusahakan 4 hal yang terdiri dari:
MEMILIKI MINDSET KERAJAAN ALLAH
(12) “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. (13) Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” (1 Petrus 4:12-13)
Orang percaya perlu memiliki pola pikir Kerajaan Allah. Sewaktu kita membuka Alkitab, kita harus yakin menerima pesan dari Tuhan bagi diri kita. Kehidupan orang Kristen tidak bisa terlepas dari Firman Tuhan. Memiliki pola pikir Kerajaan Allah memiliki pengertian bahwa kita mengalami pewahyuan pribadi dengan Tuhan setiap hari. Pewahyuan pribadi adalah menerapkan kebenaran Firman Allah dalam hidup keseharian orang percaya yang harus dilatih dan menguatkan.
Orang yang memiliki pola pikir Kerajaan Allah juga percaya bahwa Hikmat adalah pribadi Yesus Kristus sebagaimana tercantum dalam 1 Korintus 1:30. Apabila hikmat dan Firman yang adalah pribadi Yesus Kristus, dan kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita, kemudian kita menghidupinya dalam seluruh aspek kehidupan kita, maka kita tetap akan berdiri teguh dalam Tuhan sekalipun persoalan hidup melanda.
MENGANGGAP UJIAN SEBAGAI SUATU KEBAHAGIAAN
(14) “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” (1 Petrus 4:14)
Apapun bentuk penderitaan yang orang percaya hadapi dan ujian yang datang, kita menganggapnya sebagai bentuk kebahagiaan karena kita memiliki tujuan hidup untuk hidup serupa dengan Kristus. Jika kita meleset dari tujuan tersebut, maka hal itu akan membuat kita tidak berhasil menuju keserupaan dengan Kristus. Maka
MEMILIKI RASA HORMAT KETIKA MENDERITA SEBAGAI MURID YESUS
(15) “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. (16) Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Petrus 4:15-16)
Mengapa merasa terhormat? Sebab hal tersebut merupakan wadah untuk kita memuliakan Tuhan. Dengan merasa terhormat, orang percaya akan merasakan kepenuhan kemuliaan Tuhan dalam kehdiupannya. Apapun bentuk penderitaan, penyakit dan persoalan yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita, janganlah bersungut-sungut. Kita harus tetap melakukan pertobatan dan menjaga diri sambil tetap percaya bahwa ada kemuliaan Tuhan yang akan dinyatakan di balik setiap persoalan.
SETIA SAMPAI AKHIR HIDUP
(17) “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? (18) Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan,apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? (19) Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” (1 Petrus 4:17-19)
Rumah Allah bukan berbicara mengenai gedung Gereja tetapi merujuk kepada orang percaya. Kita perlu memulai dari diri sendiri dulu, bukan dari orang lain maupun sekitar kita. Jika orang percaya adalah Rumah Allah, maka kita harus mengecek aspek kehidupan diri sendiri terlebih dahulu. Amin. (AH)