HIDUP YANG MISTERI

HIDUP YANG MISTERI

Bacaan Setahun:

Bilangan 7:1 – 7:65
Lukas 2:21–40
Mazmur 35:1–10

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:5)

Bayangkan jika semua orang percaya mengetahui dengan detail jalan hidupnya dari awal sampai akhir. Tidak ada kejutan, tidak ada ketidakpastian, dan tidak ada masa penantian. Jika itu terjadi, iman sebenarnya tidak lagi memiliki ruang untuk bekerja. Padahal Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa orang benar hidup oleh iman, bukan oleh apa yang kelihatan dan dapat dipastikan secara manusiawi.

Kisah Yusuf memperlihatkan kebenaran ini dengan sangat jujur. Allah memang memberikan Yusuf mimpi tentang masa depan yang mulia, tetapi la tidak pernah memberinya peta perjalanan hidup yang lengkap, Yusuf tidak diberi tahu bahwa ia akan dibenci oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjarakan, dan dilupakan. Yang ia terima hanyalah janji, bukan penjelasan. Selebihnya adalah proses yang panjang, gelap, dan sering kali tidak nyaman bagi hati manusia.

Justru di situlah iman Yusuf diuji dan dimurnikan. la bisa saja menjadi pahit, marah, atau kehilangan pengharapan. Namun Yusuf memilih untuk bersabar, setia, dan tetap percaya bahwa Allah tidak pernah salah menempatkannya. Hingga pada waktunya, ketika tabir itu disingkapkan, Yusuf mampu berkata dengan hati yang utuh bahwa semua itu bukan kebetulan, bukan kejahatan yang menang, melainkan rencana Allah untuk memelihara kehidupan banyak orang

Sebagai orang percaya, kita sebenarnya memiliki kepastian yang sama. Akhir hidup kita sudah jelas: kemuliaan kekal bersama Tuhan Yesus. Itu janji yang tidak pernah berubah. Namun detail perjalanan menuju ke sana sering kali tersembunyi, bahkan penuh teka-teki. Ada musim menangis, ada musim menunggu, ada fase di mana doa terasa hening.

Karena itulah Alkitab terus menasihati kita untuk bersabar dalam penderitaan, bertekun dalam iman, dan setia dalam doa. Kita tidak berjalan sendirian. Roh Kudus hadir menyertai, menguatkan ketika kita lemah, dan menuntun ketika arah terasa kabur.

Kiranya kita belajar percaya seperti Yusuf, bukan hanya pada janji Allah, tetapi juga pada proses-Nya. Tetap setia sampai akhirnya kita melihat dengan jelas bahwa tangan Tuhan tidak pernah lepas dari hidup kita, sampai pada kedatangan Kristus yang kedua kali. (DH)

Questions:

1. Apakah anda masih percaya kepada rencana Tuhan saat hidup terasa tidak adil dan membingungkan?
2. Bagaimana sikap hati anda ketika janji Tuhan terasa jauh dari kenyataan hari ini

Values:

Iman tidak dibentuk oleh kepastian, tetapi oleh kepercayaan di tengah ketidakpastian.

Kingdom Quotes:

Tuhan jarang memberi peta lengkap, tetapi Ia selalu setia memegang kendali.