BELAS KASIHAN ALLAH UNTUK JIWA YANG TERHILANG
Bacaan Setahun:
Yosua 3:1 – 5:12
Lukas 22:1–38
Mazmur 50:1–15
“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36 – TB)
Tujuan utama Injil Matius adalah menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias dan Raja yang menghadirkan Kerajaan Allah melalui kasih dan belas kasihan, bukan melalui kekuasaan duniawi. Hal ini tampak dalam Matius 9:36, ketika Yesus melihat orang banyak yang digambarkan “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala.” Ayat ini menunjukkan respons emosional sekaligus rohani Yesus terhadap kondisi manusia yang kehilangan arah dan pengharapan.
Istilah belas kasihan dalam ayat ini berasal dari kata Yunani splanchnizomai, yang menggambarkan belas kasihan yang lahir dari dasar hati yang terdalam. Hasil analisis teologis menunjukkan bahwa belas kasihan Yesus mencerminkan inti dari misi mesianik-Nya, yaitu keterlibatan aktif Allah dalam penderitaan manusia. Belas kasihan ini bukan sekadar simpati pasif, tetapi merupakan bentuk tindakan nyata untuk memulihkan, mengajar, dan menggembalakan umat yang sedang tersesat baik secara rohani spiritual maupun dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, Matius 9:36 menyingkapkan bahwa belas kasihan Yesus merupakan dasar dari pelayanan Injil yang penekanannya berdasarkan kasih, pemulihan, dan kehadiran Allah di tengah penderitaan manusia. Hal ini berfungsi sebagai landasan teologis pelayanan gereja dan perlu kita sadari bahwa pelayanan bukan sekadar rutininitas agamawi atau kewajiban sosial, melainkan sebagai bentuk dari perwujudan kasih Allah melalui tindakan nyata, pelayanan yang penuh kasih, pelayanan penuh empati, dan rasa kepedulian yang tinggi terhadap sesama terutama untuk menjangkau jiwa yang terhilang.
Belas kasihan tentunya juga akan membentuk karakter pelayanan yang holistik. Yesus tidak hanya menyembuhkan fisik, tetapi juga mengarahkan jiwa manusia kepada Allah yang sejati. Ia melatih empati, kesabaran, dan keterbukaan terhadap penderitaan orang lain, sehingga pelayanan tidak sekadar formalitas, melainkan panggilan hati yang transformatif. Pelayanan yang lahir dari belas kasihan menuntun jemaat untuk melihat penderitaan sesama sebagai bagian dari panggilan rohani mereka. Sehingga kasih Allah itu akan menyatukan jemaat untuk hidup di dalam kasih yang nyata untuk saling menopang satu sama lainnya. Jika gereja kehilangan belas kasihan sesungguhnya gereja itu sedang kehilangan misinya Allah untuk menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang.
Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk menuntaskan Amanat Agung sebagaimana tertulis dalam Matius 28:18–20, yaitu pergi, menjadikan semua bangsa murid Kristus, membaptis, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan. Melalui belas kasihan dan kepedulian, kita diutus untuk menghadirkan kasih Allah dan membawa orang masuk ke dalam Kerajaan-Nya yang kekal. (TL)
Questions:
1. Sudahkah anda menghidupi belas kasihan Allah untuk jiwa yang terhilang?
2. Bagimanakan cara yang efektif untuk menjangkau jiwa yang terhilang? Diskusikan!
Values:
Gereja yang kehilangan belas kasihan Allah, sesungguhnya gereja itu sedang kehilangan misinya Allah untuk jiwa-jiwa yang terhilang.
Kingdom Quotes:
Pelayanan bukan sekadar rutinitas agamawi, melainkan perwujudan kasih Allah melalui tindakan nyata, empati, dan kepedulian terhadap jiwa-jiwa.