KETIKA LEGALITAS MENGALAHKAN KASIH
Bacaan Setahun:
Yosua 11:1 – 12:24
Lukas 24:1–35
Mazmur 51:10–19
“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” (Lukas 10:33)
Dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10:25–37, Tuhan Yesus bertemu dengan seorang ahli Taurat yang hendak mencobai-Nya. Ia bertanya kepada Yesus, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Pertanyaan ini seharusnya sudah dipahami oleh seorang ahli Taurat. Dengan lancar ia menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus berkata kepadanya, “Jawabanmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
Namun, untuk membenarkan dirinya, ahli Taurat tersebut kembali mengajukan pertanyaan kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Percakapan antara Yesus dan ahli Taurat ini menjadi sebuah diskusi teologis tentang batas kasih dan definisi “sesama.” Yesus kemudian menjawab dengan menceritakan tentang seorang pria yang dirampok dan ditinggalkan setengah mati di jalan dari Yerusalem ke Yerikho. Seorang imam dan seorang Lewi melihatnya, tetapi mereka melewatinya tanpa menolong. Sebaliknya, seorang Samaria—yang secara sosial dibenci oleh orang Yahudi—justru tergerak oleh belas kasihan. Ia membalut luka orang itu, membawanya ke penginapan, dan menanggung biaya perawatannya.
Imam dan orang Lewi bukanlah orang jahat. Mereka adalah orang-orang yang religius. Mereka mengenal Taurat dan memahami hukum Tuhan. Namun mereka gagal pada titik yang paling penting, yaitu kasih. Mereka mungkin memiliki alasan tertentu, misalnya takut menjadi najis. Hukum Taurat menjelaskan bahwa jika seorang imam menyentuh mayat, ia tidak dapat melayani di Kemah Suci atau Bait Allah untuk sementara waktu dan harus menjalani proses pentahiran tertentu. Bisa juga mereka takut bahwa peristiwa itu merupakan jebakan para penyamun, atau merasa enggan terlibat karena khawatir akan kerepotan. Secara hukum, mungkin mereka dapat membenarkan diri. Namun di hadapan Allah, persoalannya bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan ketiadaan belas kasihan.
Ketika Yesus menjadikan orang Samaria sebagai tokoh utama yang benar secara moral adalah sesuatu yang sangat mengejutkan dan provokatif. Yesus tidak sedang menyerang hukum Taurat. Ia sedang menyingkap hati manusia yang bersembunyi di balik kebenaran, tetapi kehilangan kasih. Yesus menegaskan bahwa “sesama” bukanlah soal identitas atau batas agama, melainkan siapa yang menunjukkan kasih melalui tindakan nyata. Sebagai warga Kerajaan Allah kita dipanggil bukan sekedar hidup benar, tetapi juga memancarkan kasih Allah. Kegagalan imam dan Lewi bukan karena teologi mereka salah, tetapi karena kasih mereka tidak bekerja secara nyata. Pada akhirnya, kegagalan terbesar bukanlah kesalahan doktrin melainkan kegagalan untuk mengasihi. (RSN)
Questions:
1. Apakah kita sudah menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?
2. Bagaimana kita memancarkan kasih Allah dalam kehidupan kita sehari-hari? Diskusikan!
Values:
Sebagai warga Kerajaan Allah kita dipanggil bukan sekedar hidup benar, tetapi juga memancarkan kasih Allah, karena Allah kita adalah Sang Raja yang penuh kasih.
Kingdom Quotes:
Kerajaan Allah tidak diukur dari seberapa benar kita berbicara, tetapi dari seberapa nyata kasih itu mengalir melalui hidup kita.